Senin, 06 Oktober 2014

KAPAN KITA BERSUNGGUH-SUNGGUH MENSYUKURI NI'MAT


Hanya-orang-orang yang tidak puas dengan nasibnya yang berkeinginan untuk bertukar nasib. Anehnya, kita tidak harus menjadi orang sengsara…

terlebih dahulu untuk memiliki keinginan itu. Bahkan, dalam keadaan ‘serba enak’ pun kita masih ingin bertukar nasib dengan orang lain yang kita anggap bernasib lebih baik. Persis seperti pepatah lama kita; “rumput tetangga terlihat lebih hijau…..” Tetapi, seandainya memang kita berkesempatan untuk menukar nasib dengan orang lain; apakah benar kita akan menemukan kepuasan itu? Disebuah stasiun TV swasta ada reality show yang bertajuk ‘Tukar Nasib’. Orang kaya bertukar nasib dengan orang miskin. Keluarga kaya pindah ke rumah orang miskin, dan sebaliknya. Ternyata, tidak hanya anggota keluarga kaya saja yang ‘tersiksa’ dengan dunia barunya. Orang miskin yang ‘berubah’ kaya pun tidak senyaman yang mereka kira sebelumnya.
Diluar acara TV, kita sering mendengar orang miskin yang mendambakan kekayaan. Itulah sebabnya, begitu mudahnya menarik minat orang untuk diajak menjadi kaya. Beragam kegiatan pun ditawarkan. Dari mulai arisan fiktif, jual beli barang ‘tak berujud’, atau email pemberitahuan menang lotere, hingga seminar untuk menjadi orang kaya. Nyaris semuanya laku keras, melebihi kacang goreng. Siapa yang ingin kaya? Saya. Karena hingga saat ini, saya memang belum kaya. Bahkan tak jarang masih pusing memikirkan cara membayar tagihan dan berbagai kebutuhan rumah tangga. Siapa yang ingin kaya? Orang-orang yang kita anggap sudah kaya. Karena, mereka melihat banyak sekali orang yang lebih kaya dari dirinya. Siapa yang ingin kaya? Orang-orang yang sudah terbukti sangat kaya raya. Sebab, konon kekayaan tidak bisa membuat seseorang merasa cukup. Sehingga perburuan itu tidak memiliki garis finis. Pergulatan semacam itu tidak hanya soal uang dan kekayaan, namun juga banyak hal lain semisal jabatan. Kita sering mengira bahwa jabatan tertentu lebih baik dari jabatan kita saat ini; terutama ketika kita lebih banyak melihat keuntungannya daripada tanggungjawab dan konsekuensi yang ditimbulkannya. Kerinduan kita akan gaji tinggi, fasilitas menggiurkan, terus bonus segunung membuat diri kita yakin bahwa; kita harus menukar nasib ini.
Perkara kita bisa menangani tugas dan tanggungjawab serta konsekuensinya, itu soal belakangan. Pokoknya, kita dapat dulu itu jabatan. Sewaktu jadi staf, kita mendambakan untuk menjadi manager. Setelah menjadi Manager, kita panas hati karena seorang kawan sudah menjadi Senior Manager. Setelah menjadi Senior Manager, kita tahu bahwa gengsi ini belum cukup kalau tidak menjadi Direktur. Setelah jadi Direktur, kita bersedia melakukan apapun untuk menjadi Presiden Direktur. Dan nanti, setelah menjadi Presiden Direktur, kita pasti memiliki kejaran-kejaran baru lainnya. Tapi, bukankah kita memang harus memiliki visi dan ambisi semacam itu? Betul. Sebab tanpa keinginan seperti itu, kita tidak akan memiliki cukup tenaga untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jika kita mampu meraihnya, mengapa tidak? Sebab, setiap orang berhak untuk mendapatkannya. Sehingga pengejaran impian semacam itu sah-sah saja. Namun, menjadi kurang pada tempatnya ketika kita terlampau berfokus kepada ‘apa yang kita iginkan’, bukan kepada ‘apa yang sudah kita dapatkan’. Implikasinya, alih-alih menikmati semua pencapaian kita dengan sepenuh rasa syukur, kita malah terus-menerus merasa kurang ini dan kurang itu. Perasaan kurang akan berdampak positif, dalam konteks memotivasi diri untuk meraih pencapaian yang lebih tinggi. Namun, akan berdampak negatif jika kita kurang mensyukurinya. Simaklah apa yang terjadi ketika kita lupa bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah anugerah yang sangat besar. Betapapun lebih baiknya keadaan kita dibandingkan dengan orang lain, tetap saja kita merasa kurang beruntung.
Jangan-jangan, sebenarnya kita ini tidak kekurangan apapun kecuali rasa syukur. Bahkan kadang kita lupa ketika bangun pagi, mendapati diri kita sehat walafiat. Padahal, bisa saja Tuhan menjadikan kepala kita pening sekali hingga tak mampu bangkit dari tempat tidur. Kadang kita lupa ketika mendapati kedua tangan dan kaki, mata dan telinga kita utuh sempurna. Padahal, bisa saja Tuhan mengambilnya kapan saja. Bahkan, kadang kita lupa bahwa hidup ini layak untuk disyukuri. Karena jika Tuhan menghendaki, bisa saja mengakhirinya kapan saja. Jadi, kapan ya kita akan sungguh-sungguh mensyukuri nikmat ini? [ https://abuthalhah.wordpress.com ]

HARUS KUAT DAN SABAR



“Bersungguh-sungguhlah dengan kehinaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan
kemuliaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan ketidakberdayaanmu, niscaya Ia akan menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan
kelemahanmu, niscaya Ia akan menolongmu dengan kekuatan-Nya.
(Ibnu ‘Athailah).

Minggu, 05 Oktober 2014

HATI HATI DENGAN RINDU



Jangan pernah merindukan sesuatu secara berlebihan. Karena, yang demikian itu menyebabkan kegelisahan yang tak pernah padam. Seorang muslim akan bahagia ketika ia dapat menjauhi keluhan,kesedihan dan kerinduan. Demikian pula ketika ia dapat mengatasi keterasingan,keterputusan, dan keterpisahan yang di keluhkan para penyair. Betapapun  yang demikian itu adalah tanda kehampaan hati .
Tidakkah kau melihat orang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai rabb-nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya                 (QS. Al-jatsiyah:23)
Akulah yang menarik ujung kematian itu. Siapakah yang akan di tuntut, ketika si korban sendiri yang terdakwa
                Maksut bait syair ini adalah kita berhak merasakan sakit dan menderita, sebab kita adalah penyebab utama dari semua yang terjadi.
                Seseorang yang berasal dari  andalusia menyombongkan dirinya  karena bisa merasakan suka yang melebihi batas .
Sebelum aku, orang mengeluh berat berpisah, dan ketakutan muncul pada yang mati dan yang hidup. Jika rusuk rusukku menghimpun, maka aku tidak akan lagi mendengar dan tidak pula melihat.
                Bila saja di antara tulang tulangnya  berhimpun ketakwaan , dzikir, kesadaran  rohani dan ilahiyah, maka kebenaran akan bisa di capai. Di samping  itu, bukti  akan menjadi semakin jelas dan kebenaran akan terlihat.
                Ibnu Qayyim telah memberikan terapi yang sangat manjur tentang masalah ini dalam bukunya Ad Da’wad dawa atau Al jawab asy syafi’an Man sa’ala ‘anid dawa’ asy syafi. Buku ini sangat terkenal. Saya sarankan kepada pembaca untuk merujuk kepada kedua buku  tersebut.
Rasa suka yang berlebihan itu banyak sebabnya , di antaranya,
1.       Hati yang tak terisi oleh rasa cinta ,syukut, dzikir, dan ibadah  kepada Allah .
2.       Membiarkan mata jalang . mengumbar mata adalah jalan yang menghantarkan pada kesedihan dan keresahan.


Selasa, 30 September 2014

NIKMATNYA RASA SAKIT



Rasa sakit tidak selamanya tidak berharga, sehingga harus  selalau dibenci. Sebab, mungkin saja rasa sakit itu justru akan mendatangkan kebaikan bagi seseorang.
                Biasanya, ketulusan sebuah  doa muncul tatkala rasa sakit mendera. Demikian pula dengan ketulusan tasbih  yang senantiasa terucap saat rasa sakit terasa. Adalah jerih payah dan beban berat saat menuntut ilmulah yang telah mengantarkan seorang menjadi ilmuwan terkemuka. Ia telah bersusah payah di awal perjalanannya, sehingga ia bisa menikmati kesenangan di ahirnya. Usaha keras seorang Musisi memilih kata kata untuk bait bait syairnya telah menghasilkan sebuah karya sastra yang sangat menawan. Ia, dengan hati,urat saraf, dan darahnya telah larut bersama kerja kerasnya itu, sehingga syair-syairnya mampu menggerakkan perasaan dan menggoncangkan hati. Upaya keras seorang penulis telah menghasilkan tulisan yang sangat menarik dan penuh dengan ‘ibrah, contoh-contoh dan perunjuk.
                Lain halnya dengan seorang pelajar yang hidup foya-foya, tidak aktif,tak pernah terbelit masalah,dan tidakpernah pula tertimpa musibah. Ia akan menjadi orang yang malas,enggan bergerak, dan mudah putus asa.
                Seorang musisi yang tak pernah merasakan pahitnya berusaha dan tidak meneguk pahitnya hidup, maka untaian qosidah-qosidah-nya hanya keluar dari lisannya, bukan dari perasaannya. Apa yang ia utarakan hanya sebatas penalarannya saja , dan bukan dari hati nuraninya.
                Contoh pola kehidupan  yang paling baik adalah kehidupan kaum mukminin generasi awal. Yaitu, mereka  yang hidup pada masa masa  kerasulan, lahirnya agama, dan di awal masa perutusan. Mereka adalah orang orang  yagn memiliki keimanan yang kokoh,hati yang baik,bahasa yang bersahaja dan ilmu yang luas. Mereka merasakan keras dan pedihnya kehidupan. Mereka pernah merasa kelaparan, miskin, diusir, disakiti dan harus rela meninggalkan semua yang di cintai,disiksa, bahkan di bunuh. Dan  karena semua itu pula mereka menjadi orang orang pilihan. Mereka menjadi tanda-tanda kesucian, panji kebaikan, dan simbol pengorbanan.

                “yang demikian itu ialah karena mereka ditempa kehausan, kepayahan dan kelaparan  pada jalan Allah, dan tidak pula menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan ditulikanlah bagi mereka  dengan yang demikian itu suatu amal salih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. ”                                              (QS.At-Taubah:120)

                Di dunia ini banyak orang yang berhasil mempersembahkan karya terbaiknya di karenakan mau bersusah payah. Al Mutanabbi, misalnya, ia sempat mengidap rasa demam yang amat sangat sebelum ia berhasil menciptakan syair yang indah berikut ini

                Wanita yang mengunjungiku seperti memendam malu,
                Ia hanya mengunjungiku di  gelapnya malam

Syahdan, an-Nabighah sempat di ancam akan di bunuh olerh Nu’man ibn al-Mundzir sebelum akhirnya  mempersembahkan bait syair berikut ini:

                Engkau matahari, dan raja-raja  yang lain bintang-bintang
tatkala engkau terbit ke permukaan
bintang bintang itupun lenyap tenggelam 

Di dunia ini, banyak orang yang hanya karena terlebih dahulu bersusah payah dalam masa mudanya. Oleh karena itu, tak usah bersedih bila anda bersusah payah, dan tak usah takut dengan beban hidup,sebab  mungkin saja beban hidup itu akan menjadi kekuatan bagimu serta akan menjadi sebuah kenikmatan pada suatu hari nanti.  Jika anda hidup dengan hati yang berkobar, cinta yang membara, dan jiwa yang bergelora , akan lebih baik dan terhormat daripada hidup dengan perasaan yang dingin, semangat yang layu dan jiwa yang lemah.
  

Minggu, 07 September 2014

Pelabuhan Balige (Cerpen Arbi Syafri Tanjung-terbit di Harian Padang Ekspres-Minggu 15 Juni 2014,hlm.18)

“ Niar, sudah beres semua yang akan dibawa?”
“Sudah engku”
Pagi ini, udara kota Medan  yang sejuk akan mereka hirup dari atas delman. Gemeretak roda kayu  melintasi  jalan beraspal dari jalan Antara ke stasiun Kereta Api. Badan penumpang terhuyung, berhoyak seirama dengan hentakan empat tungkai kuda penarik. Mardzuki  duduk berhadapan dengan istrinya. Tepat dibelakang kusir tampak seorang gadis kecil rambut kepang dua, setentangnya  terlihat seorang anak lelaki yang lebih muda. Samping kiri kusir,dengan girangnya tangan mungil anak laki-laki empat tahunan, menggamit ragu tali kemudi yang di kuasai Pak Man, kusir berkumis hitam tebal melintang diatas bibir.
“ Berapa lama engku verlof?” tanya Kusir, usai melecut punggung kudanya yang  coklat mengkilat. Sekali-kali terdengar suara “ckckckckckc”, kecepatan lari kuda akan lebih cepat bila sang kusir mengeluarkan suara seperti ini. Anak, disebelah Pak Kusir,akan meniru. Berulang kali “ckckckckckc”
“ Dua bulan Man, sudah lama saya tak menjenguk kampung-dua belas tahun sudah”
***
Tepat pukul satu siang. Kereta berangkat meninggalkan kota Medan. Membawa dan mengantarkan  keluarga Mardzuki  dan penumpang lainnya ke tujuan masing-masing. Lintasan rel yang membujur mengular akan  melintasi  Batang Kuis-Lubuk Pakam-Sei Rampah-Tebing Tinggi. Kereta ke Siantar melaju cepat. Sepanjang jalan yang dilalui nampak sawah menghijau kuning. Disetiap halte  stasiun sepanjang perjalanan akan terlihat calon penumpang , keluarga yang mengantar ataupun orang-orang yang menjemput. Di jalan raya yang kadang-kadang sejajar dengan rel sering terlihat kendaraan berselisih. Iring-mengiringi. Di stasiun Tebing Tinggi, kereta  berhenti  sekitar setengah jam, mengaso, naik turunkan penumpang.
***
Angin dingin terasa menusuk kulit. Warna langit di atas kota Siantar tampak kelam, gumpalan-gumpalan awan bergerak. Sinar matahari habis ditelan senja. Lampu-lampu dari loteng atap stasiun terang benderang nyalanya. Mardzuki berdiri didepan pintu gerbong menanti istri, anak beserta barang-barang bawaan. Satu koper hitam selutut disandarkan di kaki kirinya. Istri menjinjing tas anyaman daun pandan yang dilapisi pewarna biru merah. Terlihat kepala termos berbahan almunium, mengkilat tersumbul dekat pegangan tas. Rantang empat tingkat penyimpal bekal menyesak seperti hendak keluar dari tas itu. Si kecil berumur empat tahun lebih dulu turun gerbong daripada ibunya. Terakhir melompatkan kaki dari gerbong ke lantai  stasiun, si gadis rambut kepang dua.    
“ Engku! Hari sudah senja, dimana kita bermalam?” bertanya sambil membetulkan tengkuluk putih  penutup kepalanya. Belum sempat Mardzuki menjawab tanya istrinya, si Kecil sudah menimpali “ Iya abak, dingin. Sairin tidak tahan abak” suaranya memelas berharap segera mencari penginapan. Sembari tapak tangan kanan ia gosok-gosokan ke tangan kiri, naik turun dari siku ke punggung jari, lalu naik dari jari sampai pangkal lengan. Gosokan untuk mengusir udara dingin yang begitu gigil untuk anak-anak.
Mardzuki mengangkat pegangan koper tua itu, langkah mulai di ayunnya. Istri dan anak mengekor di belakang.“ Kita akan menginap di rumah Engku Sjamsuddin jurutulis  disini di Siantar ini, bekas mantri politie di Lubuk Pakam. Dia urang awak juga ” Mardzuki bicara, mata dan langkahnya tetap ke depan menuju pintu keluar stasiun. Asap tipis tampak menguap keluar dari mulutnya saat berbicara. Tapi, bukan dia saja, tiap orang yang berbicara di stasiun, seperti itu. Tak terkecuali saat istri dan anaknya bertanya tadi.
“Rumahnya tak jauh dari sini, kita akan menumpang delman untuk sampai kesana” sambung Mardzuki. Langkah ia hentikan, untuk beberapa sekon menarik napas. Pegangan koper itu kini beralih dari kanan ke tangan kiri.
***
 “ Sampaikan salam saya pada sanak saudara dan handai taulan di kampung, beginilah parasaian anak rantau” jabatan tangan kanan tuan rumah begitu erat. Dengan telapak tangan kirinya, Mardzuki menepuk-nepuk punggung tangan kanan Engku Syamsuddin. Tepukan hangat. Ada yang disalurkan dari segumpal daging dalam dada mengalir ke saraf-saraf telapak tangan. Tepukan untuk mengungkapkan rasa terdalam atas kebaikan Engku Sjamsuddin menyediakan kamar tidur, kemewahan hidangan makan malam serta sarapan tadi pagi. Terlebih ungkapan untuk ota lamak  mengenang masa kecil di kampung. Ungkapan itu juga bisa ditangkap dari pancaran sepasang bola matanya yang terbuka lebih lebar pagi ini.
***
Bonjol masih jauh. Perjalanan akan dilanjutkan dengan menumpang bus, hanya sampai ke Parapat. Tahun ini, tahun 1920, jalan yang dibuka dan menghubungkan Parapat ke Balige belum bisa di lalui oleh bus. Jalan ini juga yang direncanakan akan menghubungkan Sumatera Timur dengan Sumatera Barat. Kini masih dalam pengerjaan oleh gouvernement. Perjalanan kapal boat berpenumpang enam puluhan orang adalah satu-satunya pilihan. Tak ada pilihan  lain ke Balige dari Parapat atau sebaliknya, Parapat-Balige. Pada salah satu sisi pinggiran Danau Toba itulah, dibangun pelabuhan kecil.
Dipelabuhan kecil itu orang akan berdesak-desakan,berebut masuk untuk mendapatkan tempat duduk. Desak-desakan itu semakin riuh karena penumpang yang baru tiba, berebut pula hendak turun dan keluar dari kapal. Niar istri Mardzuki masuk ke kapal sambil menggendong si kecil, semua barang bawaan penuh  tak beraturan di genggaman Mardzuki. Keringat mengucur deras. Kelima anak beranak dapat duduk di bagian tengah badan kapal. Pada lambung kapal kecil itu tertulis  “Siantar Madjoe”.
Jam tangan berbahan nikel asli yang melingkar di pergelangan kiri Mardzuki menunjukkan pukul sebelas. Mesin kapal menderu bunyinya. Perlahan dan bergerak sangat lambat, membawa penumpang yang penuh sesak ditambah lagi dengan tumpukan barang yang menggunung dibagian atapnya. Pelabuhan kecil itu semakin menjarak dari ekor kapal. Semakin jauh hingga tak tampak lagi dari pandangan. Penumpang dengan leluasa dapat melihat segala yang ada di luar kapal, karena  sisi-sisi kapal memang terbuka, kecuali ruangan khusus nakhoda. Selain ada dinding pembatas khusus, disana juga terdapat jendela berkaca.
Penumpang asik dengan dirinya sendiri. Pada mata yang memandang, Danau Toba kirimkan biru airnya, sepoi-sejuk dan nyaman  hembusan udaranya, hijau perbukitan disekeliling danau seperti benteng kokoh yang didirikan khusus untuk menjaga segala yang terdapat disekeling danau. Pada lereng-lereng perbukitan satu dua terlihat rumah sebesar korek api saja rasanya. Pulau Samosir! Yaa…Pulau Samosir. Dari atas kapal ini kita juga dapat melihatnya. Hitam kecoklatan atap-atap rumah tampak mengelompok letaknya, kuda dan kerbau berkeliaran.
Samping kiri Mardzuki, duduk seorang laki-laki seumurannya, kepalanya ditungkupi kupiah hitam condong beberapa derajat ke kanan. Jas hitam tampak elegan dengan paduan kemeja putih didalamnya. Sepatu hitam bahan kulit tak semengkilap rambut si kecil yang klimis diminyaki pomade. Maklum debu yang terbang disapu tapak-tapak kaki penumpang di pelabuhan, kini menempel disekitar sepatu itu. Sarung coklat petak-petak tenun berbahan lembut melingkar di lehernya. Satu ujungnya menjuntai ke dada, ujung lainnya ke punggung dibawah tengkuk.
“ Engku, tak jauh lagi kita akan melintasi Tanjung Soekea” ucapnya pada Mardzuki setelah beberapa menit saling diam dengan pikiran masing-masing.” Biasanya pada bulan Juni ombak disekitar Tanjung ini akan lebih besar. Terkadang air danau menyembur masuk ke geladak kapal membasahi apa saja yang ada” ia mengingatkan Mardzuki atas pengalamannya yang bolak-balik sekali sebulan menumpang kapal ini, untuk membawa barang dagangannya dari Medan ke Balige.
“ Kira-kira jam berapa kita akan tiba di Balige, Engku” tanya Mardzuki yang penuh percaya dan yakin akan pengetahuan yang dimiliki lawan bicaranya. “ Pukul lima petang, Insyallah” singkat jawabnya sembari menarik kotak rokok dari saku jasnya.   
***
Langit sama gelapnya seperti kemarin saat turun dari kereta. Rintik rinai hujan yang turun disekitar pelabuhan Balige. Rinai itu memaksa penumpang mempercepat langkah mencari tempat berteduh. Ribut dan desakan penumpang tidak seperti hendak naik di Parapat empat jam lalu. Penumpang di pelabuhan ini lebih teratur, karena diawasi dan dijaga  oleh seorang mantri politie, dua orang anak buahnya. Petang hari juga memberikan kesempatan pada nakhoda dan anak buah kapal untuk tidak tergesa-gesa. Kapal akan disandarkan sampai pagi datang esok hari.
Penumpang dan barang bawaannya akan melenggang aman keluar pelabuhan setelah melewati pemeriksaan oleh ketiga polisi yang bertugas itu. Meski pelabuhan ini hanya seluas lima puluh meter persegi. Meski papan lantai sudah banyak yang lapuk dan paku-paku tergurajai disana sini, pelabuhan ini merupakan pelabuhan penting untuk bisa dari dan ke Balige dari Medan. Tentunya sangat mempengaruhi kelancaran distribusi barang kebutuhan untuk ke Sibolga, Nias dan ke arah lebih Barat.
“ Pemeriksaan di sini kurang teliti” terdengar suara orang antri tepat dibelakang Mardzuki “Karena yang di periksa hanya koper dan bungkusan , serta saku pakaian yang melekat saja” sambungnya. Suara itu dikenal Mardzuki, itu suara yang mengisi waktunya bercerita didalam kapal selama dalam perjalanan “ Barang gelap seumpama Opium bisa saja di selipkan dibagian dalam pakaian” penjelasannya sambil terus melangkah beringsut mengurai antrian. “ Dua bulan lalu, seorang Cina rambut bertaucang dan seorang Batak tertangkap dan ditahan di pelabuhan ini. Saya baca  beritanya di koran “Pewarta Deli”.
“ Apa salah mereka” tanya Mardzuki  ingin tahu.
“ Bungkusan Opium mereka selipkan di antara pakaian dalam koper mereka. Koper itu ia upahkan dibawa oleh penumpang yang terakhir diperiksa dalam antrian oleh petugas. Mereka berdua lebih dulu lolos dari pemeriksan dan pura-pura menunggu di kedai samping agent kantor kecil “ Cardford” yang akan membawa penumpang ke Sibolga.
Panjang lebar laki-laki berperawakan wibawa, teman maota-nya bercerita membuang jenuh dalam panjang mengularnya antrian pemeriksaan. Giliran Niar, istri Mardzuki diperiksa. Menyusul tiga orang anak mereka, dibelakangnya.
“ Alhamdulillah, Engku. Saya duluan” teriak Mardzuki padanya. Diantara keduanya terlihat ketiga polisi yang bertugas tajam dan liar mata mereka memperhatikan gerak-gerik penumpang yang belum diperiksa.
Penumpang-penumpang yang sudah turun dan mengaso di kedai-kedai sekitar pelabuhan dikejutkan dengan sorak penumpang lain yang masih antri.
“ Apa yang dibawanya?”
“Apa yang dibawanya?”
Tanya itu memicu suara yang lebih ramai. “ Penjahat rupanya?” celetuk seorang dalam kedai yang duduk di hadapan barisan tempat duduk keluarga Mardzuki. Gelas berisi keruhnya teh yang terangkat hendak di minumnya, sekilat ia letakkan lagi ke dasar tadah bening di atas meja kayu papan berserabut tanpa ketaman.
Pandangan ia lempar ke arah suara riuh dan kerumunan orang. Ia balik badan, agar leluasa memenuhi nafsu penasarannya atas apa yang sedang terjadi di pelabuhan Balige petang ini.
***  
Diatas bangku “Cardford” untuk penumpang kelas satu yang ditempatinya Mardzuki terus bercerita pada pikiran dan hatinya sendiri. Cardford itu akan mendaki-menuruni jalan lintas Balige- Sibolga
“Sungguh tak percaya saya” gumam hatinya.
“ Peci yang dipakainya, sarung yang diselempang dilehernya, wibawa pakaiannya. Tak percaya. Sungguh saya tak percaya”. Ingatannya mengais-ngais rupa dan tampilan laki-laki di atas kapal tadi, kini entah kemana ia dibawa mantri politie.

Padang, 21052014
Catatan :
Verlof                          : istilah cuti dalam bahasa Belanda
Maota Lamak              : Cerita panjang lebar
Tergurajai                   : Tak beraturan disana sini

by : Ust Arbi syafri

Rabu, 02 Juli 2014

Bahagia Itu Sederhana

    Setiap negara ternyata mempunyai pola kebiasaan, cara sederhana yang dilakukan masyarakat di dalamnya untuk mendapatkan kebahagiaan. Berikut kebiasaan baik yang bisa kita tiru dari beberapa negara ini.

Italia: hangout bareng sahabat
Negara Italia terkenal dengan keramahan penduduknya. Mereka sangat senang berinteraksi dengan sesama, terutama tetangga. Bila masih bisa bertatap muka langsung atau hangout di kafe atau bar, sebisa mungkin mereka menghindari curhat lewat gadget lho. Inilah yang membuat kadar stres dan galau penduduk Italia terbilang rendah. Nah, kalau sedang stres atau galau, segera buat janji dengan sahabat untuk hangout atau olahraga bareng. Ampuh menghubungkan kita dalam dunia nyata dan membuat pikiran lebih terbuka.

Finland: berbagi dengan sesama
Valentine tak melulu harus dirayakan dengan kekasih. Seperti yang dilakukan penduduk Finland, mereka merayakannya bersama dengan anak-anak kecil yang kurang beruntung serta berbagi dengan orang tua di panti jompo. Berbagi dengan sesama akan meningkatkan kebahagiaan kita tiga kali lipat. Di samping bisa lebih mensyukuri apa yang telah kita punya. Cocok untuk mengurangi hobi mengeluh.

Sahel, Africa: bebas berekspresi
Para perempuan di daerah Sahel, Afrika, sangat senang tampil dengan tema unik. Kebebasan berekspresi inilah yang akhirnya membuat mereka jauh dari rasa tertekan. Kita juga bisa mencontek gaya mereka. Bila biasanya kita berdandan cantik ke kantor, yuk ajak sahabat untuk mengadakan pajamas party atau bikin kontes kecil seru dengan peragaan busana yang “ajaib”. Jangan lupa siapkan hadiah menarik. Kebiasaan yang sering dilakukan oleh perempuan Sahel ini juga membuat pertemanan mereka semakin erat.

Mongolia: luangkan waktu untuk keluarga
Warga Mongol mendedikasikan satu bulan penuh yang disebut White Month untuk para orang tua, seperti nenek, kakek, hingga buyut mereka. Bagi mereka, keluarga memegang peran penting dalam kehidupan. Sebab, hubungan pertemanan atau cinta bisa saja putus, tetapi keluarga akan selalu ada. Jadi, sudah saatnya kita luangkan waktu untuk menciptakan waktu berkualitas seperti liburan bersama ke tempat-tempat indah. Rasa bahagia akan berlipat ganda jika kita menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kita sayangi.

Jepang: keluar dari zona nyaman
Jepang memiliki selera musik, pakaian, hingga makanan yang terbilang unik. Khususnya pagelaran Harajuku Style yang rutin dilakukan oleh para anak muda di sana. Keluar dari “zona nyaman” membuat mereka lebih kreatif. Sedang kreativitas yang tinggi dinilai bisa membuat kita lebih mudah mengatasi persoalan-persoalan dalam hidup. Selain itu, mencoba hal-hal baru bisa membuat kita jauh dari rasa bosan. Selalu menghabiskan weekend nonton di bioskop? Cari tempat yang bisa bungee jumping!

Vanuatu: melawan ketakutan
Penduduk di Pulau Pentakosta, Vanuatu, mengajarkan anak mereka untuk berani melawan rasa takut. Sebab ketakutan bukan untuk dipikirkan, melainkan untuk dihadapi. Salah satu caranya ialah realisasikan keberanian dengan melawan semua hal-hal negatif yang datang dari pikiran. Misalnya, kalau kita tidak berani melihat mata gebetan ketika sedang berbicara, melakukan sambutan acara di depan tamu-tamu penting, kita harus coba melawan “ketakutan” ini dengan selalu yakin bahwa kita bisa! Lakukan persiapan yang matang, berdoa, dan lakukan semuanya dengan senyum.

India: yoga dan meditasi
Yoga berasal dari negara ini dan menjadi salah satu resep untuk hidup lebih sehat dan menjernihkan pikiran. Selain mengeluarkan racun dalam tubuh, meluangkan waktu dua jam untuk olahraga sekaligus meditasi bisa membuat pikiran jadi lebih fokus. Dengan begitu kita akan lebih mudah menyelesaikan masalah dan hidup jadi lebih simpel deh. Kita juga bisa melakukan “meditasi” kecil seperti mematikan gadget dan alat komunikasi lain minimal lima jam (pagi hingga siang hari) dua kali dalam satu minggu.

Paris: tampil cantik
Semua pasti menyadari bahwa orang-orang di Paris sangat stylish – bahkan untuk ke toko bakery terdekat saja mereka memakai lipstick berwarna cherry. Ya, tampil cantik di setiap kesempatan membuat mereka sangat percaya diri. Nah, bila butuh asupan pede saat masuk ke lingkungan baru maksimalkan penampilan kita namun tetap mengikuti aturan yang ada. Bangun lah satu jam lebih pagi dari biasanya sehingga kita bisa rapikan dandanan sebelum masuk kantor.

Switzerland: kembali ke alam
Walau cuaca terbilang ekstrem, penduduk Switzerland malah memanfaatkan untuk bersenang-senang sambil main ski. Nah, kalau belum punya waktu untuk libur langsung ke sana, kita bisa lho main ice skating di mal yang menyediakan sarananya. Atau bisa merasakan sensasi lain misalnya naik gunung Bromo untuk melihat sunrise. Menghirup udara segar di alam terbuka bisa membuat kita lebih dekat dengan alam dan mengurangi stres karena kebisingan kota.

London: wisata lokal
Banyak pesta kebudayaan, simbol negara, hingga tempat bersejarah dari kota keren di Inggris Raya ini. Ya, penduduk di sana sangat menghargai dan bangga akan kekayaan lokal yang mereka miliki. Kita juga bisa meningkatkan rasa memiliki terhadap tanah air dengan traveling keliling Indonesia atau berkunjung ke museum-museum bersejarah, sekaligus mencicipi kuliner tiap daerah. Dengan bangga dengan negara sendiri, maka kita juga akan lebih bahagia sebagai penduduk asli Indonesia.

Bahagia itu sederhana!

Minggu, 22 Juni 2014

)(22062014)(


Tiada kata selain Puji dan syukur kepada engkau yang selalu menjadi tumpuan hati untuk meminta dan mengharapkan rahmad dan hidayah di setiap pengabdian yang telah ku lakukan semata mata  hanya  kepadamu, tempatku menangis dengan jiwa penuh luka diri  yang kotor ini,tempatku mengemis tanpa malu akan perbuatan yang sudah ku lakukkan selama ini. ALLAH pantaskah aku bersujud di hadapanmu? Tanpa malu dengan dosa-dosa yang telah aku lakukkan sejauh ini. Engkau yang maha pengampun dan bijaksana! Ampunilah hambamu yang tak tau diri ini,kasihlah hambamu yang tak tau untung ini. Karna hanya engkaulah yang maha mengerti dan maha mengetahui .

Hidup ini memang penuh dengan  tantangan yang kadang kadang  kita tidak tau kapan itu datang dan bahkan halangan dan rintangan itu sudah menjatuhkan kita terlebih dahulu sebelum kita mengetahui bahwa ia akan datang. Perkiraan memang butuh logika dan ilmu untuk memastikannya melainkan bukan prediksi atau ramalan yang  tak berdsar dan menunggu akan apa adanya dan bukan apa adanya.

Tak terasa sekarang sudah memasuki pertengahan tahun 2014, dan tak terasa pula aku sudah di kepung ratusan masalah  yang bobot dan kualitasnya melebihi kemampuanku untuk dapat menyelesaikannya dengan logika dan akal sehat, dan itu karna kelalaian dan anggap remeh yan gmenjadi petaka dan neraka untukku sendiri. Dan sekarang aku menanggungnya juga sendiri.

Memikul tanggungjawab untuk diri sendiri dan tuntutan akan kebahagiaan dan kekecewaan orang yang tak ternilai bagiku ,orang yang tak  tergantikan. Ya Allah ampunilah hamba ya Allah  , hanya kepadamulah hamba meminta perlindungan akan saya dan ibu dan ayah saya serta adik dan keluarga besar saya  ya Allahg .