Senin, 12 Mei 2014

Di tengah Panasnya Isu LCS(Laut Cina Selatan ) dan negara asean saling memperkuat diri, Raja Brunei Justru menghibahkan alat Tempur Militernya



  JKGR-(IDB) : Ini adalah artikel tersulit yang pernah saya buat. Kemampuan bertutur seakan-akan hilang seketika, dibatasi oleh begitu banyaknya rambu yang harus saya patuhi. Merekayasa sebuah realita agar lebih terkesan fiktif, mengaburkan fakta agar lebih bernuansa hoax, adalah salah satu diantara sekian banyak tantangan yang saya hadapi. Namun apapun rintangannya, saya tetap berbangga karena telah mampu menjadi seorang saksi mata, sekaligus juga saksi bisu..!
Tiga gagang anggrek masih dalam genggaman, ketika Royal Brunei Airlines mulai menapakan kembali kaki-kakinya di atas landasan KLIA untuk mengantar saya kembali pulang ke tengah dekapan keluarga tercinta. “Uncle, terima kasih untuk kunjungannya. Sering-sering datang kemari ya..!” ungkapan seragam dari anak-anak sahabat saya saat menyerahkan anggrek-anggrek itu, sesaat sebelum saya meninggalkan Bandar Seri Begawan. Tawa kami pun berderai. Kenangan manis di Brunei itu, masih melekat di hati sanubari. Terima kasih sahabat, untuk  tali persaudaraan yang telah kita jalin selama lebih dari 20 tahun. Salam takziah untuk ayahanda tercinta..!
Menyusuri koridor-koridor KLIA yang megah, membawa kembali ingatan pada penuturan sahabat saya beberapa hari yang lalu tentang kisah durhaka pemimpin Malaysia hingga menjadi sumber pangkal bekunya jalinan harmonis yang selama ini telah terbangun. Nun di tahun 1998, ketika Malaysia dikejar deadline untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Commonwealth Games 1998. Kegundahan jelas tersirat di wajah-wajah para pemimpin Malaysia. Krisis ekonomi Asia yang datang menerjang, telah meluluhlantakan sendi-sendi perekonomian nasional yang telah terbangun. Proyek-proyek bersekala besar banyak yang terbengkalai bahkan harus rela terhenti. Kondisi yang tidak menentu, telah mengancam munculnya bopeng-bopeng yang akan mencoreng wajah-wajah kota yang akan ditampilkan pada pentas opera yang bersekala antara bangsa.
Tak ayal, Mahathir Muhammad pun ikut meradang. KLIA, Pusat pemerintahan Puterajaya, KL Sentral, Stadium Bukit Jalil, dan lain-lain adalah sebuah paket proyek raksasa yang sejatinya bersifat multiyears, yang pengerjaannya diprogram sedemikian rupa agar bisa selesai serentak dengan waktu penyelenggaraan event olahraga negara-negara persemakmuran. Alih-alih menjadi media pertunjukan kebesaran bagi Malaysia, Commonwealth Games malah beralih rupa menjadi sebuah media yang justru mengancam akan memojokan kegusaran dan kekerdilan Malaysia.
Akhirnya dengan sedikit menahan rasa malu, sang PM pun pergi mencari pertolongan, hingga sampailah di hadapan sang Baginda Sultan Brunei Darussalam, Sultan Hasanal Bolkiah. Selanjutnya yang kita dengar adalah cerita-cerita heroik tentang sang PM, keberaniannya menentang IMF, kegigihan, keuletan dan kecerdasannya dalam mengendalikan krisis, dan menjadikannya sebagai negara pertama di Asia yang berhasil keluar dari cengkeraman krisis. Tapi benarkah demikian yang terjadi sesungguhnya? Hehehe..! Ingat, tidak ada makan siang yang gratis..! Begitulah kira-kira ungkapan yang tepat untuk dilayangkan dalam kasus ini. Meskipun akhirnya Malaysia berhasil keluar dari krisis, tapi ongkos yang harus dibayar juga tidak murah. Limbang..! Ya, inilah nilai dari sebuah harga diri.
Setelah terbebas dari krisis, Mahathir Muhammad yang kemudian lengser keprabon, menyerahkan Limbang melalui tangan suksesornya, yakni Abdullah Ahmad Badawi. Meskipun beliau sendiri turut mencaci, tapi tak seorang pun tokoh di Malaysia yang berani menggugatnya di Mahkamah Internasional, termasuk sang Raja Agong sekalipun. Bukan seorang Abdullah Ahmad Badawi jika harus takut berkorban. Putera seorang tokoh agama paling berpengaruh di Malaysia ini, memilih rela menjadi tumbal sebuah harga diri bangsa, dari pada harus melawan tetapi hasilnya justru hanya akan mempermalukan bangsa dan negara dengan kadar yang tiada tara.
Fakta membuktikan, pasca penyerahan Limbang kepada Brunei, hingga kini tidak pernah ada satupun usaha diplomatik yang ingin mengungkit kembali masalah Limbang, karena segalanya telah terbayar tunai. Bahkan Brunei sendiri lebih memilih untuk meninggalkan dan membiarkan tapak istananya yang mewah dan megah di KL terbiar menjadi onggokan kumuh yang tak bernilai.
Bagi Brunei, pola hubungan yang dibangun dengan Malaysia, telah menjadi sebuah pelajaran penting yang sangat berharga. Mereka kini menyadari, di dunia ini, mungkin hanya tinggal Bruneilah yang menganut sistem monarki absolut, yang menempatkan titah raja, berada di atas segala-galanya. Sikap ekstra hati-hati ditunjukan dalam memilih rekan atau sahabat dalam melaksanakan hubungan internasionalnya.
Brunei bukanlah negara yang tertutup dari pengaruh luar. Tapi Brunei juga bukan negara yang agresif dalam menanamkan pengaruhnya di dunia internasional. Dengan kemampuan financial yang dimilikinya, sejatinya bisa saja Brunei menjadi negara industri yang besar seperti Singapore. Tinggal mendatangkan teknologi dan SDM, dalam sekejap mata, industri akan maju di tanah Brunei. Tapi bukan itu ambisinya.
Brunei sangat menyadari keterbatasan lahan yang ada. Mereka bukan Indonesia. Mereka juga gak mungkin membeli lahan di Indonesia. Mereka inginkan negeri mereka tetap hijau, minyak bisa dihemat dan rakyatnya selamat. Brunei akan memproteksi produk yang bisa dihasilkan oleh industrinya, tetapi tidak akan sungkan untuk import produk berteknologi tinggi. Sikap penuh kepedulian yang ditunjukan oleh sang Sultan pada rakyatnya inilah, yang membuat rakyat Brunei begitu loyal dan mencintai Sultannya.
Rakyat Brunei tidak pernah melihat kekuatan militer negara manapun sebagai sebuah ancaman, selama kekuatan itu tidak mengancam kedudukan sang Sultan. Karena itu tidak heran, ketika negara lain sedang sibuk berlomba menumpuk senjata, Brunei justru menghibahkan kapal-kapal perangnya. Bahasa filosofi yang ingin disampaikan Brunei adalah bahwa senjata hanya bersifat sesuatu, sementara kepercayaan adalah bersifat lebih dari itu. Kepercayaan memiliki nilai yang sama dengan kedaulatan. Karena itu Brunei dipercaya untuk berdaulat, dan berdaulat untuk memberikan kepercayaan.
Pelepasan Timor Leste dari NKRI, adalah titik awal kekaguman Sultan Brunei pada Indonesia. Baginda merasakan kepedihan yang dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Tapi kebenaran harus ditegakkan. Dan sejak saat itu pulalah, percaya atau tidak, bangsa Indonesia untuk pertama kalinya berani berdiri dengan kepala tegak dalam setiap perundingan internasional. Dalam kasus Sipadan dan Ligitan, meskipun kita kalah, tapi kita sudah berusaha maksimal hingga maju ke perundingan Mahkamah Internasional.
Brunei juga terpesona dengan sikap jantan kita saat menghadapi kasus Ambalat dan sikap luwes kita dalam kasus Aceh dan Papua. Bagi Brunei, apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah sebuah pengejawantahan nilai-nilai luhur adat istiadat para leluhur yang sudah turun temurun. Untuk itu, pemberian atau hibah alat perang pada Indonesia adalah sebuah simbol kepercayaan tertinggi, karena bisa bermakna bahwa mulai sekarang, hidup dan matinya kami, andalah yang menjaga..! Beruntung para petinggi bangsa ini hidup di negara yang berlandaskan Pancasila, sehingga masih bisa berbudi pekerti luhur dan tahu berterima kasih.
Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam
Bandar Seri Begawan
Pada tahun 2008, Sultan Hasanal Bolkiah, didaulat menjadi anggota kehormatan di berbagai satuan elite TNI. Sesudah itu, berbagai hibah peralatan militer dari Brunei mulai berdatangan. Dan baru-baru ini giliran sang Putera Mahkota yang menapak tilasi jejak sang Ayahanda. 
Beliau dinobatkan sebagai anggota kehormatan dalam satuan elite TNI, seperti Kopassus TNI AD, Marinir TNI AL dan Korpaskhas TNI AU. Lalu peran dan andil apa yang layak kita tunggu setelah ini? Hehehe..! Ternyata salah besar jika kita harus menunggu. Sang Putera Mahkota justru sudah berperan besar, jauh sebelum upacara penyerahan baret kehormatan..!
Seperti pada pagi itu, Jumat, 09 May 2014. Ini hari terakhir saya di Brunei Darussalam. Saya sengaja check out dari hotel lebih awal, meskipun jadwal penerbangan saya untuk pulang ke KL pada jam 16.20 petang. Sahabat saya ingin mengajak main tenis di sebuah tempat menarik yang pernah dia janjikan. Mobil kami meluncur ke arah jalan yang menuju ke airport, tapi setelah melewati airport, mobil kami tidak ada tanda-tanda akan berhenti.
Selanjutnya saya menduga bahwa kami akan main tenis di kawasan industri Muara, tapi ternyata tidak. Begitupun ketika saya coba menebak-nebak bakal lokasi kami untuk bermain tenis, mulai dari Royal Dutch Sell Petroleum Refinery Complex, pelabuhan peti kemas Muara Brunei, pelabuhan laut dalam yang dikelola PSA Holdings, dan mungkin salah satu hotel besar di sekitar pantai Muara.
Ternyata tidak ada satu pun terkaan saya yang tepat sasaran. Mobil saya memasuki jalan sepi yang pasangi oleh begitu banyak CCTV. Dan di sebuah pos penjagaan, sahabat saya membukakan jendela mobil sambil melambaikan tangan, yang disambut dengan sikap tegak penuh hormat dari sang penjaga pos. Disini banyak herder berseragam loreng berkeliaran. Mobil kami yang meluncur ke arah tepian dermaga tak luput dari perhatian dan pengawasan mereka. Inilah Muara Naval Base, markas besar angkatan laut Tentara Diraja Brunei Darussalam. Kawasan super luas yang tampak sedang berbenah melengkapi berbagai fasilitas yang dimilikinya.
Jika Naval Base TNI AL di Surabaya sudah terkenal sebagai Naval Base terbesar di Asia Tenggara, maka bisa jadi, Muara Naval Base adalah yang kedua terbesar. “Welcome to Surabaya..!” celetuk sahabat saya, membuat saya agak terperanjat, seakan dia bisa membaca pikiran saya. Ternyata pembangunan Muara Naval Base ini memang terinspirasi oleh kemegahan dan kelengkapan naval base TNI AL di Surabaya, pada saat Sultan Hasanal Bolkiah menerima penganugerahan anggota kehormatan Marinir di Surabaya pada 2008 dulu.
Di sisi kiri dan kanan kanal dermaga terlihat puluhan kapal perang berbendera asing. Di kanal lain, terlihat kapal kebesaran keluarga kerajaan yang megah, dengan bendera Brunei yang berkibar. Tidak jauh dari kapal itu, beberapa kapal lain turut bersandar. Yang membuat saya terkejut adalah adanya bendera merah putih yang berkibar..! Ya, itu KRI milik TNI AL. Sedangkan yang lainnya adalah kapal perang milik Uni Emirat Arab.
Royal Brunei Navy
Royal Brunei Navy
Mobil kami terus meluncur ke arah Timur dermaga. Di ujung pelabuhan yang sepi, kanalnya dibuat agak menjorok ke dalam. Tidak terlihat ada anjungan kapal di situ. Namun ketika mobil kami mulai mendekati batas zona terlarang, sekali lagi jantung saya berdegup kencang. Lutut saya terasa bagai tak bertulang.
Mata saya memelototi lima bendera merah putih yang berkibar di atas lima kapal selam..! 401, 401, 402, polos, polos..! Untuk meyakinkan rasa penasaran saya, saya share dengan sahabat saya, bahwa sebagian besar rakyat Indonesia hanya mengetahui bahwa TNI AL cuma memiliki 2 unit kapal selam.
Jika mereka melihat kelima kapal selam ini, maka mereka akan dibilang mimpi atau dicap pembohong. Tapi sahabat saya berujar, bahwa orang Brunei mengetahui TNI AL memiliki 20 unit kapal selam, jika Indonesia mengaku cuma punya kelima unit kapal selam ini, maka Indonesia adalah pembohong dan telah menganggap orang Brunei lagi mimpi. Hehehe..! Kadang dunia ini memang suka jungkir balik..!
Setelah melaksanakan shalat Jumat, kami meninggalkan kawasan Muara Naval Base. Jangan lewatkan untuk menikmati kesegaran ikan laut di daerah ini. Dan itu pulalah yang kami lakukan pada hari itu. Menyambangi sebuah restoran yang menyajikan ikan laut segar, menjadi acara yang tak kalah seru. Di dalam restoran itu, bukan saja ikan laut segar yang saya temui, tapi juga para prajurit TNI yang kekar..! Hahaha..! Senang sekali bisa bertemu dengan saudara sebangsa dan setanah air yang bertugas di luar negeri. Dia bilang ada ratusan personel TNI dari berbagai satuan yang setiap tahun di kirim ke Brunei untuk menjadi instruktur pelatih berbagai keahlian militer tentara Diraja Brunei. Wah, mendengar kabar ini, rasa bangga saya kian bertambah.
Waktu sudah menunjukan jam 14.00, ketika mobil kami memasuki pintu gerbang sebuah perkantoran megah. Sahabat saya meminta passport saya untuk discan di tempat pemeriksaan identitas yang ada di pos jaga. Setelah itu kami meluncur ke sebuah bangunan megah dengan tiang menjulang yang dihiasi lampu kristal yang menjuntai, lantai pualam dan karpet persia serta pernak pernik perak yang tampak berkilauan. Di ruangan terdepan, saya diminta mengisi buku tamu, yang telah lebih dulu mencantumkan nama beserta nomor ID Card saya. Setelah itu, pasport saya sekali lagi didekatkan pada sebuah layar komputer, yang diikuti oleh bunyi denting bell, pertanda bahwa pintu lift berwarna emas itu telah terbuka. Wow..! Menaiki sebuah lift, terasa menaiki sebuah kamar istana yang bergerak..! Jauh lebih megah dari istana negara di Jakarta atau istana Raja Agong Malaysia yang baru itu. Padahal ini bukanlah istana..!
Ya benar, itu bukanlah istana. Gedung itu adalah Bolkiah Garrison. Kantor Kementerian Pertahanan(MinDef) Brunei Darussalam. MinDef berada di bawah kendali langsung Sang Sultan. Alasannya ternyata tak lepas dari sejarah masa lalu. Ketika Inggris menawarkan Brunei untuk bersama-sama Sabah dan Sarawak, bergabung menjadi bagian dari Negara Persekutuan Tanah Melayu. Brunei dengan tegas menolak tawaran itu, dan lebih memilih untuk menunda kemerdekaan secara penuh dari Inggris.
Pada masa penantian penyerahan kedaulatan penuh ini, semua urusan luar negeri, pertahanan, dan moneter berada dibawah kekuasaan Inggris. Sedangkan sang Raja hanya berhak mengurusi masalah internal istana dengan segala tetek bengek adat istiadat yang mengaturnya, mengurusi masalah dalam negeri, termasuk didalamnya adalah masalah agama, seni budaya, transportasi, pendidikan dan kesehatan. Bagi Brunei, sektor Pertahanan bukan hal yang biasa. Pertahanan adalah simbol kedaulatan penuh kerajaan. Karena itu, sejak awal kemerdekaan, Kementerian Pertahanan akan selalu berada dibawah kendali sang Sultan, sebagai pemegang simbol kedaulatan penuh negara.
Nun berabad-abad lampau, kerajaan Brunei pernah dikuasai Sriwijaya dan Majapahit. Di masa kekuasaan Majapahit itulah, Brunei justru berhasil membebaskan diri bahkan juga berhasil memperbesar wilayah kekuasaannya hingga ke Manila. Kekuatan dan kebesaran masa lampau, menjadi kekuatan spiritual yang amat besar untuk menjadi sebuah bangsa yang mandiri dan berdaulat. Karena itu mereka pantang menjadi sebuah boneka bangsa manapun..!
Semangat dan rasa percaya diri yang besar itu, tergambar dari foto-foto pemimpin mereka yang banyak terdokumentasikan di dalam ruangan kantor sahabat saya yang luas dan besar. Termasuk kiriman foto teranyar dari Jakarta mengenai liputan perjalanan sang Putera Mahkota ke Indonesia. Pandangan mata saya tiba-tiba terpagut oleh sebuah foto besar yang terpajang di salah satu sisi dinding. Dua wajah itu, sudah sangat saya kenal, tapi yang satunya..?
“Those are our King with your former President Habibie and the other one is UAE’s King.” Sahabat saya seperti selalu mengetahui segala sesuatu yang sedang menjadi tanda tanya saya. Merekalah yang merancang dibentuknya poros kerjasama tiga negara antara Indonesia, Uni Emirat Arab dan Brunei Darussalam, yang kemudian dinamakan Poros Jakarta-Abu Dhabi-Bandar Seri Begawan (Poros JAB). Ini bukan semata-mata poros kekuatan, tapi lebih bersifat poros kepercayaan. Sama seperti halnya aliansi yang diajukan sahabat saya beberapa waktu lalu. 
Penunjukan saya, jelas bukan untuk mewakili negara dan pemerintah Indonesia, dan juga bukan untuk menjadi agen asing di Indonesia. Tapi sahabat saya meyakini dan percaya bahwa saya akan bisa bersikap bijaksana dalam menghadapi dua kepentingan yang berbeda. Pengalaman kami dulu sebagai kaum minoritas di tengah komunitas kami yang sangat Latino sewaktu tinggal kami tinggal di Maracaibo, Venezuela, telah berhasil membangun rasa dan sikap saling peduli dan melindungi, sehingga kemudian tumbuh rasa saling mempercayai.
Pola hubungan seperti inilah yang akan dianut Brunei untuk memenangkan kompetisi dalam bingkai Masyarakat Ekonomi Asean mendatang. Ketika banyak negara sibuk mengejar formalitas, ternyata Brunei menyodok ke bawah dengan jurus barunya yang terkadang sulit dibaca. Apapun jurusnya, fakta lebih bisa berbicara, hingga saat ini tidak ada satu negara pun yang berani menteror negara sekecil Brunei Darussalam. Bahkan China sekalipun terlihat lebih bersikap  santun. Malaysia yang songong, tidak sekalipun berani melakukan unjuk kekuatan di sekitar pekarangan Brunei Darussalam. Pertanyaannya, jadi selama ini siapa yang jaguh..? Jawabannya yang pasti adalah, “Ya Indonesialah..!” Hehehe..! Selamat berakhir pekan, Bung..!
Sumber : JKGR

Minggu, 04 Mei 2014

kita adalah tulisan kita

Adakah orang akan bertanya akan aku ketika aku
tak pernah menulis satu kata?
Adakah orang akan mencari namaku ketika aku
tak pernah meninggalkan kesan?
tulisanku adalah diriku, diriku mustahil adalah tulisanku
jari-jariku bekerja dengan otakku
tapi tidak dengan diriku
diriku adalah kumpulan prilaku potensi dosa
diriku adalah susunan tulang daging darah
yang mungkin telah menyerap barang haram
diriku bukan milikku, lingkunganku telah mengklaimnya
Adakah orang pernah menerima aku berbeda dengan tulisanku?
Berjayalah kalimat-kalimat yang kutulis
sebab mereka mendapat teman dan musuh yang menghormati
ingin aku memasukkan diriku ke dalam tulisanku
harap aku bisa mendapat sapaan hormat yang sama
Tulisanku adalah produksi otakku yang bersahaja
tak dapat bercengkrama dengan prilakuku yang
diproduksi oleh niatku yang subjektif
tulisanku memberi tahu tentang aku ke dunia
sementara aku tak pernah berbuat yang sama
kepada tulisanku....


kutipan dari teman ,

Jumat, 02 Mei 2014

Senang bisa Melihatmu



Girl in The Atport 

                04-september 2013, hari itu merupakan hari yag sangat cerah, di tengah hiruk pikuk kota medan yang  sudah menjelang jam menunjukkan ke setengah satu. Saya berangkat dari Jalan Pancing  tempat aku menginap semalaman sebelum kembali ke kota tempat aku belajar ,Bandung .
Kebetulan waktu itu bandara Polonia sudah  tidak di gunakan lagi untuk Penerbangan komersial dan untuk pernerbangan Komersial di alihkan ke bandara yang baru yakni Bandara Kuala Namu yang sama sekali saya belum pernah kesana dan ini Bandara baru yang konon katanya bandara terpadu yang terintegrasi dengan transportasi terbaik  di Negri ini.
Nyatanya aku harus tertatih tatih menuju bandara  dengan angkutan umum yang tak sangat di harapkan  dan singkat cerita aku sudah sampai di Bandara Kuala namu . dan ini merupakan kedua kalainay asaya disini setelah ke  datangan saya 3 bulan lalu dari bandung dan mendarat disini ,  dan tanpa banyak basa basi saya langsung registrasi tiket dan langsung Boarding pass  dan akan lebih nyaman menunggu di dalam dari pada di luar yang terlalu ramai dan bising.
Di dalam ruangan itu saya  duduk di bangku paling pinggir dan menghadap kursi yang terletak di depanku  yang sudah di penuhi orang yan gkan berangkat juga, setengah jam saya duduk disini tanpa ada kegiatan  sungguh sangat membosankan , dan untuk menghilangkan ke bosananitu saya ajak nenek dan kakae yang di samping saya bicara bicara sambil menayakan asal dan tujuannya  dalam bahasa medannya biasa di sebut martarombo  , siapa tau cucunya cantikk hehehehe,  dan cerita demi cerita telah melupakan akan ke suntukan kami dalam menunggu pesawat .
Saat itu mataku sangat liar kesana kemari melihat apa yang  indah untuk di lihat  dna tak sengaja saya melihat di eskalator turun menuju  ruangan boarding pasaku berada ada dua orang cewek yang sedang turun kira kira tingginya 160cm  an dan kurang lebih, kedua wanita itu masih seumuran denganku kira kira dan juga kanyaknya sama sepertiku , dua duanya memakai jilbab namun yang menarik perhatianku adalah yang sebelah kanan gadis yang lebih mungil dengan senyum yang membuat kecantikannya bertambah 3kali lipat membuat wajahnya semakin cantik dan mempesona. Dan aku sangat terkesan dengan melihat senyumnya di tambah boneka beruang yang ia rangkul dengan kedua tangannya  membuat sisi kelembutannya sangat terlihat disitu .
Sampai mereka berdua menuruni eskalaor saya masih menatapnya dengan penuh kesan dan lamunan , mereka terus berjalan dan masuk dari pintu boarding  yang kebetulan tidak terlalu jauh dari tempat dudukku. Saat masuk ruangan itu aku masih memperhatikannya hingga mereka tepat di depankku  untuk mencari tempat duduk yang kosong  dna kebetulan, kursi di hadapannku tidak terlalu penuh dan msih cukup untuk dua orang maka mereka duduk disana dan menurunkan tas ransel di punggung nya  untuk duduk lebih nyaman.
Perasaanku waktu itu sangat tidak karuan , dilain  hati aku sangat ingin bisa berkenalan dengan mereka  karna saya yakin saya dan mereka satu  tujuan. Namun nyaliku masih sangat belum terlatih untuk bisa dalam hal ini  oleh karena itu ak uhanya bisa meratapinya dari kursiku saja yang hanya berjarak 2 meter dari tempatku duduk .
Saat semua sibuk dengan kegiatannya masing masing kucoba untuk melihat wajahnya lebih nyata dari tempat dudukkku sambil melempar  pandangan  ke padanya , dan tak sengaja dia memergokiku ketika aku sedang melihatnya , dan aku hanya menggelengkan kepala untuk mengelak malu darinya  namun dia malah mengumbar senyum kepadaku dan  kembali menunduk untuk tidak melihat ke arahku lagi ,waduh hatiku semakin sangat tidak karuan waktu itu ternyata ia meresponku dengan positif , dalam hatiku aku  akan melangkah ke depannya dan akan mengajak kenalan. Untuk me mastikan ia tidak marah saat aku lihat dari depannya  ku  beranikan diriku lagi untuk melihat ke arahnya ketika ia sedang asyik dengan handphonenya , sekian  menit aku memandanginya dan mengagumi indahnya mahluk ciptaan Allah ini dan dalam hati aku berdoa “ya ALLAH sungguh indah ciptaanmu, berikanlah kepada ku  istri solehah  kelak jika kau sudah bisa menunaikannya ” dan masih dalam memandang ke arahnya  tak lama pula ia melihat ke arahku  sambil menoleh ke arahku di umbarnya senyum  itu lagi  seolah ia menyapaku .
Dan dalam diriku aku sudah memberanikan diriku untuk mengajaknya berkenalan karna sudah dua kali aku kecolongan dalam memandangi rupanya yang indah  dan dua kali juga ia mengumbar senyum kepadaku. Dan ketika niatku sudah bulat untuk berkenalan dengannya ....tiba tiba tiba tiba
Terdengar Pengarahan dari Pengeras Suara Ruangan  bahwa penerbangan  Lion Air tujuan Bandung sudah di bolehkan memasuki pesawat lewat  gate 1. Sontak membuatku sangat kecewa  dan tak karuan menyesali diri ,,para penumpang mulai bergerak memasuki gerbang  satu  dan termasuk juga si dia yang sudah mengemas tas ranselnya dan mulai berjalan ke gerbang satu  untuk masuk ke pesawat. Dan tanpa pikir panjang aku juga berkemas untuk memasuki pesawat.
Dan setelah di pesawat aku masih coba menoleh ke kekiri kanan untuk memastikan dia juga satu penerbangan dengaku , dsan memastikan dia juga sudah masuk ke dalam pesawat dengan temannya ,dan dalam hatiku  aku pasrahkan  dan merelakan  penyesalan dan berujar .
JIKA DIA JODOHKU PASTI ALLAH AKAN MEMPERTEMUKAN KAMI KELAK ..  hehehehe,
Kisah nyata

Selasa, 25 Maret 2014

Jejak awal Langkahku 1

Sejak aku mulai bisa mengenal dan ingat akan orang orang di sekitarku  dan bahkan orangtua kami sudah sejak lama saling kenal dan akrab, keluargaku dan keluarganya sudah ibarat saudara  maklumlah kami masih satu marga dan tinggal di desa yang sama , mulai bermain bersama , sekolah bersama  bahkan hingga umur kami 17 tahun kami masih bersama
Ya ... ini ceritaku dengan temanku dan aku sudah anggap dia sebagai sepupuku dan  bagian dari keluargaku. Kami sama sama kuliah di jawa  cuman beda kota dia  kuliah Di ibu kota Indonesia Jakarta dan saya kuliah di Ibukota Propinsi jawa barat Bandung .
Aku tidak bisa mengkiaskan bagaimana menuliskan cerita ini namun kedekatan dan saling membagi kabar dan saling membagi derita  masing masing sebagai anak perantauan di kota orang , itulah yang selalu pasti kami bahasi jika kami saling bertemu atau bicara di  jaringan seluler.
Sejak Sekolah Dasar kami memang sudah bersama di Desa yang indah  tanpa pencemaran udara layak halnya kota kota sekarang Di Indonesia, dari segi  kecerdasan juga mungkin kami tak jauh beda  cuman waktu SD rangkingnya selalu lebih tinggi dari rengkingku, dia tidak pernah jadi juara pertama di kelas namun dia selalu menjadi nomor dua dan aku di posisi 3 dan 4,5 kadang kadang , jadi  range nya ngak begitu jauh ,, hehehhe
Bermain bersama,layaknya  anak anak kecil yang tak tau waktu untuk berhenti , di desa saya tidak ada warnet dan semacamnya  jadi segala permainan dan hobi masih dari tradisonal dan adat yang ada di desaitu .
Memang pas ketika hendak beranjak ke kelas 4, dia di pindahkan ke kota, dan kami ngak tau sebab akibatnya  namun yang ku tau  pernah dia pulang kampung dan kami menemukan dia menangis dan marah marah sambil membakar buku tulisnya mungkin waktu itu , yaaa , dia rindu akan kehidupan desanya  mungkin  dan mungkin juga karna adaptasi nya masih susah , dan wajar saja anak SD yang di pidsahkan dari orangtuanya pasti rindu dan ingin melihat ibunya setiap hari
Singkat cerita kami bersama lagi di sekolah tingkat lanjut, kami kembali bersama lagi di Pesantren Darul Mursyid untuk 6 tahun ke depan artinya hari hari kami akan di habiskan di Penjara suci ini , bagaimana tidak aku yang  baru berpisah dari ibu dan ayahku sangat terpukul akan situasi baru ini  dan disini semuanya berubah 70% dari kehidupan  pertamaku  dan dari sini aku kembali beradaptasi  untuk bisa bertahan dan survive di tempat baru ini, saya akuii semester pertamaku  aku kaget  dengan nilai dan rengking yang ku dapat waktu itu , aku yang paling belakang  dari 30 orang di kelas itu, maklum  kelas itu kelas unggulan untuk angkatanku waktu itu ,
Ahirnya aku tersisih dan turun kasta ke kasta B, disini aku sudah mulai terbiasa dan sudah bisa beradaptasi  dan .......

Minggu, 23 Maret 2014

Catatan Pak Dahlan Iskan di Negri Syam

Baru sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami kesulitan mendapatkan  gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari negara para mullah ini.
Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri sendiri. Tapi hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan terus menerus. Kalau awal tahun 2010 PLN masih mendapat jatah gas 1.100 mmscfd, saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 mmscfd. Perjuangan untuk mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda berhasil, belakangan redup kembali.
Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinya. Bisa jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana baru dari sana dijual ke PLN dengan harga yang sudah berbeda. Padahal PLN memerlukan gas sebanyak 1,5 juta mmscfd. Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas sebanyak itu penghematannya bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahun. Angka penghematan yang mestinya menggiurkan siapa pun.
Maka saya memutuskan ke Iran. Apalagi upaya mengatasi krisis listrik sudah berhasil dan menuntaskan daftar tunggu yang panjang itu pasti bisa selesai bulan depan. Kini waktunya perjuangan mendapatkan gas ditingkatkan. Termasuk, apa boleh buat, ke negara yang sudah sejak tahun 1980-an diisolasi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya itu. Siapa tahu ada harapan untuk menyelesaikan persoalan pokok PLN sekarang ini: efisiensi. Sumber pemborosan terbesar PLN adalah banyaknya pembangkit listrik yang “salah makan”. Sekitar 5.000 MW pembangkit yang seharusnya diberi makan gas, sudah puluhan tahun diberi makan minyak solar yang amat mahal. Salah makan inilah yang membuat perut PLN kembung selama ini.
Kebetulan Iran memang lagi memasarkan gas dalam bentuk cair (LNG). Iran lagi membangun proyek LNG besar-besaran di kota Asaleuyah, di pantai Teluk Parsi. Saya ingin tahu benarkah proyek itu bisa jadi? Bukankah Iran sudah lebih 20 tahun dimusuhi dan diisolasi secara ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dari seluruh dunia? Bukankah begitu banyak yang meragukan Iran bisa mendapatkan teknologi tinggi untuk membangun proyek LNG besar-besaran?
Saya pun terbang ke Asaleuyah, dua jam penerbangan dari Teheran. Meski Aseleuyah kota kecil ternyata banyak sekali penerbangan ke kota yang hanya dipisahkan oleh laut 600 km dari Qatar itu. Bandaranya kecil tapi cukup baik. Masih baru dan statusnya internasional. Pesawat-pesawat lokal seperti Aseman Air terbang ke sini. Inilah kota yang memang baru saja berkembang dengan pesatnya. Iran memang menjadikan kota Asaleuyah sebagai pusat industri minyak, gas dan petrokimia. Beratus-ratus hektar tanah di sepanjang pantai itu kini penuh dengan rangkaian pipa-pipa kilang minyak, kilang petrokimia dan instalasi pembuatan LNG.
Saya heran bagaimana Iran bisa mendapatkan semua teknologi itu di saat Iran lagi diisolasi oleh dunia barat. Memang terasa jalannya proyek tidak bisa cepat, tapi sebagian besar sudah jadi. Kilang minyaknya, kilang petrokimianya, kilang etanolnya sudah beroperasi dalam skala yang raksasa. Hanya kilang LNG-nya yang masih dalam pembangunan dan kelihatannya baru akan selesai dua tahun lagi.
Memang kalau saja Iran tidak diembargo proyek-proyek itu pasti bisa lebih cepat. Namun Iran tidak menyerah. Iran membuat sendiri banyak teknologi yang dibutuhkan di situ. Hanya bagian-bagian tertentu yang masih dia datangkan dari luar. Entah dengan cara apa dan entah lewat mana. Yang jelas barang-barang itu bisa ada. Orang, kalau kepepet biasanya memang banyak akalnya. Asal tidak mudah menyerah. Demikian juga Iran. Bahkan keperluan listrik untuk industri petrokimia itu Iran akhirnya bisa membuat pembangkit sendiri. Termasuk bisa membuat bagian yang paling sulit di pembangkit listrik: turbin. Maka Iran kini sudah berhasil menguasai teknologi pembangkit listrik tenaga gas, baik open cycle maupun combine cycle.
Kemampuan membuat pembangkit listrik ini pun semula agak saya ragukan. Belum pernah terdengar ada negara Islam yang mampu membuat pembangkit listrik secara utuh. Karena itu setelah meninjau proyek LNG saya minta diantar ke pabrik turbin itu. Saya ingin melihat sendiri bagaimana Iran dipaksa keadaan untuk mengatasi sendiri kesulitan teknologinya.
Ternyata benar. Pabrik turbin itu sangat besar. Bukan hanya bisa merangkai, tapi membuat keseluruhannya. Bahkan sudah mampu membuat blade-blade turbin sendiri. Termasuk mampu menguasai teknologi coating blade yang bisa meningkatkan efisiensi turbin. Baru 10 tahun Iran menekuni alih teknologi pembangkit listrik ini. Sekarang Iran sudah memproduksi 225 buah turbin dari berbagai ukuran. Mulai dari 25 MW sampai 167 MW. Bahkan Iran sudah mulai ekspor turbin  ke Libanon, Syria dan Iraq. Bulan depan sudah pula mengekspor suku cadang turbin ke India. Bulan lalu pabrik turbin Iran ini merayakan produksi bladenya yang ke 80.000 buah!
Kesimpulan saya: inilah Negara Islam pertama yang mampu membuat turbin dan keseluruhan pembangkit listriknya. Saya dan rombongan PLN diberi kesempatan meninjau semua proses produksinya. Dari A sampai Z. Termasuk memasuki laboratorium metalurginya. Dengan kemampuannya ini, untuk urusan listrik, Iran bisa mandiri. Bahkan untuk pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik yang lama Iran tidak tergantung lagi ke pabrik asalnya. Mesin-mesin Siemen lama dari Jerman atau GE dari USA bisa dirawatnya sendiri. Iran sudah bisa memproduksi suku cadang untuk semua mesin pembangkit Siemen dan GE. Bahkan sudah dipercaya oleh Siemen untuk memasok ke negara lain. “Anak perusahaan kami sanggup melakukan pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan menggunakan suku cadang dari sini,” kata manajer di situ. Pabrik ini memiliki 32 anak perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor listrik. Termasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang pemeliharaan dan operasi pembangkitan.
Bisnis kelihatannya tetap bisnis. Saya tidak habis pikir bagaimana Iran tetap bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin dasar kelas satu buatan Eropa: Itali, Jerman, Swiss dan seterusnya. Saya juga tidak habis pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin ini bisa mendapatkan lisensi dari Siemen.
Rupanya meski Iran membenci Amerika dan sekutunya tapi tidak sampai membenci produk-produknya. Iran membenci Amerika hanya karena Amerika membantu Israel. Ini jauh dari bayangan saya sebelum datang ke Iran. Saya pikir Iran membenci apa pun yang datang dari Amerika. Ternyata tidak. Bahkan Coca-cola dijual secara luas di Iran. Demikian juga Pepsi dan Miranda. Belum lagi Gucci, Prada dan seterusnya.
Intinya: dengan diembargo oleh Amerika Serikat dan sekutunya, Iran hanya mengalami kesulitan pada tahun-tahun pertamanya. Kesulitan itu membuat Iran kepepet, bangkit dan mandiri. Kesulitan itu tidak sampai membuatnya miskin apalagi bangkrut. Justru Iran dipaksa menguasai beberapa teknologi yang semula menjadi ketergantungannya.
Banyaknya proyek yang sedang dikerjakan sekarang menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Iran terus berjalan. Mulai dari pengembangan bandara di mana-mana, pembangunan jalan layang sampai pun ke industri dasar. Tidak ketinggalan pula industri mobil.
Kegiatan ekonomi di Iran memang tidak gegap-gempita seperti Tiongkok, tapi tetap terasa menggeliat. Pertumbuhan ekonominya sudah bisa direncanakan 6 persen tahun ini. Mulai meningkat drastis dibanding tahun-tahun pertama sanksi ekonomi diberlakukan. “Sebelum ada sanksi ekonomi, Iran hanya mampu memproduksi 300.000 mobil setahun. Sekarang ini Iran memproduksi 1,5 juta mobil setahun,” ujar seorang CEO perusahaan terkemuka di Iran.
Kami mendarat di bandara internasional Imam Khomeini Teheran menjelang waktu shalat Jumat. Maka saya pun ingin segera ke masjid: sembahyang Jumat. Saya tahu tidak ada kampung di sekitar bandara ini. Dari atas terlihat bandara ini seperti benda jatuh di tengah gurun tandus yang maha luas. Tapi setidaknya pasti ada masjid di bandara itu.
Memang ada masjid di bandara itu tapi tidak dipakai sembahyang Jumat. Saya pun minta diantarkan ke desa atau kota kecil terdekat. Ternyata saya kecele. Di Iran tidak banyak tempat yang menyelenggarakan sembahyang Jumat. Bahkan di kota sebesar Teheran, ibukota negara dengan penduduk 16 juta orang itu, hanya ada satu tempat sembahyang Jumat. Itu pun bukan di masjid tapi di universitas Teheran. Dari bandara memerlukan waktu perjalanan 1 jam. Atau bisa juga ke kota suci Qum. Tapi jaraknya lebih jauh lagi. Di Negara Islam Iran, Jumatan hanya diselenggarakan di satu tempat saja di setiap kota besar.
“Jadi, tidak ada tempat Jumatan di bandara ini?,” tanya saya.
“Tidak ada. Kalau kita kita mau Jumatan harus ke Teheran (40 km)  atau ke Qum (70 km). Sampai di sana waktunya sudah lewat,” katanya.
Shalat Jumat ternyata memang tidak wajib di Negara Islam Iran yang menganut aliran Syiah itu. Juga tidak menggantikan shalat dzuhur. Jadi siapa pun yang shalat Jumat tetap harus shalat dzuhur.
Karena hari Jumat adalah hari libur, saya tidak dijadwalkan rapat atau meninjau proyek. Maka waktu setengah hari itu saya manfaatkan untuk ke kota suci Qum. Jalan toll-nya tidak terlalu mulus tapi sangat OK: enam jalur dan tarifnya hanya Rp 4000. Tarif itu kelihatannya memang hanya dimaksudkan untuk biaya pemeliharaan saja.
Sepanjang perjalanan ke Qum tidak terlihat apa pun. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya  gurun, gunung tandus dan jaringan listrik. Saya bayangkan alangkah enaknya membangun SUTET di Iran. Tidak ada urusan dengan penduduk. Alangkah kecilnya gangguan listrik karena tidak ada jaringan yang terkena pohon. Pohon begitu langka di sini.
Begitu juga letak kota suci Qum. Kota ini seperti berada di tengah-tengah padang yang tandus. Karena itu bangunan masjidnya yang amat besar, yang berada dalam satu komplek dengan madrasah yang juga besar, kelihatan sekali menonjol sejak dari jauh.
Tujuan utama kami tentu ke masjid itu. Inilah masjid yang luar biasa terkenalnya di kalangan ummat Islam Syiah. Kalau pemerintahan Iran dikontrol ketat oleh para mullah, di Qum inilah pusatnya mullah. Demokrasi di Iran memang demokrasi yang dikontrol oleh ulama. Presidennya sendiri dipilih secara demokratis untuk masa jabatan paling lama dua kali, tapi sang presiden harus taat kepada pemimpin tertinggi agama yang sekarang dipegang oleh Imam Khamenei. Siapa pun bisa mencalonkan diri sebagai presiden (tidak harus dari partai) tapi harus lolos seleksi oleh dewan ulama.
Tapi Sang Imam bukan seorang diktator mutlak. Dia dipilih secara demokratis oleh sebuah lembaga yang beranggotakan 85 mullah. Masing-masing mullah itu pun dipilih langsung secara demokratis oleh rakyat.
Dalam praktek sehari-hari ternyata tidak seseram yang kita bayangkan. Amat jarang lembaga keagamaan ini mengintervensi pemerintah. “Dalam lima tahun terakhir kita belum pernah mendengar campur tangan dari mullah ke pemerintah,” ujar seorang CEO perusahaan besar di Teheran.
Saya memang kaget melihat kehidupan sehari-hari di Iran, termasuk di kota suci Qum. Banyak sekali wanita yang mengendarai mobil. Tidak seperti di negara-negara di jazirah Arab yang wanitanya dilarang mengendarai mobil. Bahkan orang Iran  menilai negara yang melarang wanita mengendarai mobil dan melarang wanita memilih dalam pemilu bukanlah negara yang bisa menyebut dirinya Negara Islam.
Dan lihatlah cara wanita Iran berpakaian. Termasuk di kota suci Qum. Memang semua wanita diwajibkan memakai kerudung (termasuk wanita asing), tapi ya tidak lebih dari kerudung itu. Bukan jilbab, apalagi burqah. Kerudung itu menutup rapi kepala tapi boleh menyisakan bagian depan rambut mereka. Maka siapa pun bisa melihat mode bagian depan rambut wanita Iran. Ada yang dibuat modis sedikit keriting dan sedikit dijuntaikan keluar dari kerudung. Ada pula yang terlihat dibuat modis dengan cara mewarnai rambut mereka. Ada yang blonde, ada pula yang kemerah-merahan.
Bagaimana baju mereka? Pakaian atas wanita Iran umumnya juga sangat modis. Baju panjang sebatas lutut atau sampai ke mata kaki. Pakaian bawahnya hampir 100 persen celana panjang yang cukup ketat. Ada yang terbuat dari kain biasa tapi banyak juga yang celana jean. Dengan tampilan pakaian seperti itu, ditambah dengan tubuh mereka yang umumnya langsing, wanita Iran terlihat sangat modis. Apalagi, seperti kata orang Iran, dari 10 wanita Iran yang cantik adalah 11! Sedikit sekali saya melihat wanita Iran yang memakai burkah, itu pun tidak ada yang sampai menutup wajah.
Sampai ke kota Qum, sembahyang Jumatnya memang sudah selesai. Ribuan orang bubaran keluar dari masjid. Saya pun melawan arus masuk ke masjid melalui pintu  15. Setelah shalat dzuhur saya ikut ziarah ke makan Fatimah yang dikunjungi ribuan Jemaah itu. Makan ini letaknya di dalam masjid sehingga suasananya mengesankan seperti ziarah ke makan Rasulullah di masjid Nabawi. Apalagi banyak juga oarng yang kemudian shalat dan membaca Quran di dekat situ yang mengesankan orang seperti berada di Raudlah.
Yang juga menarik adalah strata sosialnya. Kota metropolitan Teheran dengan penduduk 16 juta dan dengan ukuran 50 km garis tengah adalah kota yang sangat besar. Sebanding dengan Jakarta dengan Jabotabeknya. Tapi tidak terlihat ada  keruwetan lalu-lintas di Teheran. Memang Teheran tidak memiliki kawasan yang cantik Jalan Thamrin-Sudirman namun sama sekali tidak terlihat ada kawasan kumuh seperti Pejompongan dan Bendungan Hilir.  Memang tidak banyak gedung-gedung pencakar langit yang cantik, tapi juga tidak terlihat gubuk dan bangunan kumuh.
Kota Teheran tidak memiliki bagian kota yang terlihat mewah, tapi juga tidak terlihat ada bagian kota yang miskin. Teheran bukan kota yang sangat bersih tapi juga tidak terasa kotor. Di jalan-jalan yang penuh dengan mobil itu saya tidak melihat ada Mercy mewah apalagi Ferrari, tapi juga tidak ada bajaj, motor atau mobil kelas 600 sampai 1.000 cc. Lebih 90% mobil yang memenuhi jalan adalah sedan kelas 1.500 sampai 2.000 cc. Saya tidak melihat ada mall-mall yang besar di Teheran, tapi saya juga sama sekali tidak melihat ada pedagang kaki lima, apalagi pengemis. Wanitanya juga tidak ada yang sampai pakai burqah, tapi juga tidak ada yang berpakaian merangsang. Orangnya rata-rata juga ramah dan sopan. Baik dalam sikap maupun kata-kata.
Pemerataan pembangunan terasa sekali berhasil diwujudkan di Iran. Semua rumah bisa masak dengan gas yang dialirkan melalui pipa tersentral. Demikian juga 99% rumah di Iran menikmati listrik –untuk tidak menyebutkan 100%.
Melihat Iran seperti itu saya jadi teringat makna kata yang ditempatkan di bagian paling tengah-tengah al Quran: Wal Yatalaththaf!
Bagaimana Iran ke depan? Mengapa setelah lebih 20 tahun diisolasi dan diembargo Amerika Serikat Iran tidak kolaps seperti Burma, Korut atau Kuba?
Banyak faktor yang melatar belakanginya. Pertama, saat mulai diisolasi dulu kondisi Iran sudah cukup maju. Kedua, tradisi keilmuan bangsa Iran termasuk yang terbaik di dunia. Ketiga, Iran penghasil minyak dan gas yang sangat besar. Keempat, jumlah penduduk Iran cukup besar untuk bisa mengembangkan ekonomi domestic. Kelima, tradisi dagang masyarakat Iran sudah terkenal dengan golongan bazarinya.
Tradisi dagang itu tidak mudah dikalahkan. Pedagang selalu bisa berkelit dari kesulitan. Ini berbeda dengan tradisi agraris. Seperti Tiongkok, meski 60 tahun dikungkung oleh komunisme Mao Zedong yang kaku, penduduknya tetap tidak lupa kebiasaan dagang. Demikian juga warga Iran. Ini terbukti sampai sekarang pun. Setelah lebih 20 tahun diisolasi pun sektor jasa masih menyumbang sampai 40% GDP negara itu.
Penduduk Iran yang 75 juta orang juga menjadi kekuatan ekonomi tersendiri. Apalagi saat mulai diisolasi oleh Amerika tahun 80-an, kondisi Iran sudah tidak tergolong negara miskin. Kelas menengah di Iran sangat dominan. Inilah factor yang dulu membuat revolusi Islam Iran tahun 1979 berhasil menumbangkan diktator Syah Pahlevi. Keberhasilan itu disebabkan  masyarakat di Iran didominasi kaum bazari. Pedagang kelas menengah. Yakni bukan konglomerat yang ketakutan ditebas penguasa, dan bukan pedagang kecil yang takut kehilangan tempat bergantung.
Belum lagi kekayaan alamnya. Iran adalah negara kedua terbesar penghasil minyak dan gas alam. Bukan hanya memiliki cadangan besar, tapi juga mampu melakukan drilling dan pengolahan sendiri. Tidak ada lagi ketergantungan akan teknologi  drilling dan pengolahan.
Salah satu sumber gasnya, yang baru saja ditemukan, akan membuat negara itu kian berkibar. Di lepas pantainya, di Teluk Parsi, ditemukan ladang gas terbesar di dunia. Ladang itu setengahnya berada di wilayah Qatar dan setengahnya lagi di wilayah Iran.  Tahun 1999 lalu Qatar sudah berhasil menyedot gas bawah laut itu dari wilayah Qatar. Kalau Iran tidak menyedotnya dari wilayah Iran tentu semua gas itu akan disedot Qatar. Karena itu Iran juga bergegas menyedotnya dari sisi timur. Tahun 2003 lalu Iran sudah berhasil menyedot gas itu dan akan terus meningkatkan sedotannya. “Tiga tahun lagi kemampuan Iran menyedot gas itu sudah sama dengan Qatar,” ujar CEO perusahaan gas di sana.
Untuk menggambarkan seberapa besar potensi gas itu baiknya dikutip kata-kata CEO yang saya temui di atas. “Seluruh gas Iran di situ harganya USD 12 triliun,” katanya. Ini sama dengan 12 kali seluruh kekuatan ekonomi Indonesia yang USD 1 triliun saat ini. “Kalau gas itu diambil dalam skala seperti sekarang baru akan habis dalam 200 tahun,” tambahnya.
Gas itu letaknya memang 3.000 meter di bawah laut, namun dalamnya laut sendiri hanya 50 meter. Secara teknis ini jauh lebih mudah pengambilan gasnya daripada misalnya gas bawah laut Indonesia di Masela, di laut Maluku Tenggara.
Memang masih ada kendala ekonomi yang mendasar. Defisit anggaran masih menghantui, subsidi masih besar, laju inflasi masih tinggi dan akses perdagangannya masih  terjepit oleh sanksi Amerika. Inflasi yang tinggi itu akibat naiknya harga bahan makanan, gas dan BBM. Bahkan akibat inflasi itu Iran harus mencetak mata uang dengan pecahan lebih besar dari rupiah. Kalau pecahan rupiah paling besar Rp 100.000, real Iran terbesar adalah 500.000 real (1 real hampir sama dengan Rp 1). Bahkan ada juga real lembaran 1.000.000, meski penggunaannya hanya di lingkungan terbatas.
Seperti Indonesia, Iran juga merencanakan menghapus empat nol di belakang real yang terlalu panjang itu. Hanya saja penghapusan nol tersebut baru akan dilakukan setelah inflasinya stabil kelak. Itulah sebabnya pemerintah Iran kini mati-matian  memperbaiki fondasi ekonominya. Tahun lalu parlemen Iran sudah menyetujui dilaksanakannya “reformasi ekonomi”. Sebuah reformasi yang sangat penting dan mendasar. Inti dari reformasi itu adalah menjadikan ekonomi Iran sebagai “ekonomi pasar”. Artinya harga-harga harus ditentukan oleh pasar. Tidak boleh lagi ada subsidi. Reformasi ekonomi itu ditargetkan harus berhasil dalam lima tahun ke depan.
Begitu pentingnya reformasi untuk meletakkan dasar-dasar ekonomi Iran itu, sampai-sampai Presiden Ahmadinejad berani mengambil resiko dihujat dan dibenci rakyatnya dua tahun terakhir ini. Subsidi pun dia hapus. Harga-harga merangkak naik. Ahmadinejad tidak takut tidak popular karena ini memang sudah masa jabatannya yang kedua, yang tidak mungkin bisa maju lagi jadi presiden.
Bahwa kini Iran memilih jalan ekonomi pasar sungguh mengejutkan. Alasannya pun “sangat ekonomi”: untuk meningkatkan produktivitas nasional dan keadilan sosial. Subsidi (subsidi BBM tahun lalu mencapai USD 84 juta), menurut pemerintah, lebih banyak jatuh kepada orang kaya. Karena itu daripada anggaran dialokasikan untuk subsidi lebih baik langsung diarahkan untuk golongan yang berhak.
Pemikiran reformasi ekonomi seperti itulah yang tidak ada di negara-negara lain yang diisolasi Amerika Serikat. Inilah juga faktor yang membuat Iran tidak akan tertinggal seperti Burma, Kuba atau Libya. Dengan bendera sebagai Negara Islam pun Iran tetap menjunjung tinggi ilmu ekonomi yang benar. Tradisi keilmuan di Iran, termasuk ilmu ekonomi, memang sudah tinggi sejak zaman awal peradaban. Inilah salah satu bangsa tertua di dunia dengan peradaban Arya yang tinggi.
Dalam situasi terjepit sekarang pun, tradisi keilmuan itu tetap menonjol. Iran kini tercatat sebagai satu di antara 15 negara yang mampu mengembangkan nanoteknologi. Iran juga termasuk 10 negara yang mampu membuat dan meluncurkan sendiri roket luar angkasa.
Di bidang rekayasa kesehatan, Iran juga menonjol: teknologi stemcell, kloning dan jantung buatan sudah sangat dikenal di dunia. Bahkan untuk stemcell Iran masuk 10 besar dunia.
Maka tidak heran kalau Iran juga tidak ketinggalan dalam penguasaan teknologi perminyakan, pembangkit listrik dan otomotif. Jangankan jenis teknologi itu, nuklir pun Iran sudah bisa membuat, lengkap dengan kemampuannya memproduksi uranium hexaflourade yang selama ini hanya dimiliki oleh enam negara.
AS kelihatannya berhasil membuat Burma, Korut, Kuba dan Libya menderita dengan embargonya. Tapi tidak untuk Iran. Ke depan posisi Iran justru kian baik, antara lain karena “dibantu” oleh Amerika Serikat sendiri. Sudah lama Iran ingin menumbangkan Saddam Husein di Iraq, namun selalu gagal. Perang Iran-Iraq yang sampai 8 tahun pun tidak berhasil mengalahkan Saddam Husein. Iran tidak menyangka bahwa Saddam dengan mudah ditumbangkan oleh AS.
Dengan tumbangnya Saddam Husein maka Iraq kini dikuasai oleh para pemimpin yang hati mereka memihak Iran. Banyak pemimpin Iraq saat ini adalah mereka yang di masa Saddam dulu terusir ke luar negeri, dan mereka bersembunyi di Iran. Bahkan saat terjadi perang Iran-Iraq dulu, mereka ikut angkat senjata bersama tentara Iran menyerbu Iraq.
Demokrasi yang diperjuangkan AS di Iraq telah membuat golongan mayoritas berkuasa di Iraq. Padahal mayoritas rakyat Iraq adalah Islam Syi’ah. Golongan Sunni hanya 40 persen, itu pun tidak utuh. Yang separo adalah keturunan Arab sedang separo lagi keturunan Kurdi. Ada kecenderungan keturunan Kurdi memilih berkoalisi dengan Syi’ah. Padahal yang golongan Arab itu pun masih juga terpecah-pecah ke dalam berbagai kabilah. Saddam Husein, misalnya, datang dari suku Tikrit yang jumlahnya hanya sekitar 10% dari penduduk Iraq.
Dengan gambaran seperti itu maka masa depan hubungan Iran dan Iraq tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjadi amat mesra. Waktu yang tepat itu adalah ini: mundurnya AS 100% dari Iraq. Dan itu tidak akan lama lagi. Pekan lalu pimpinan Iraq sudah mengatakan “Iraq hanya perlu bantuan militer untuk menjaga perbatasan, bukan untuk urusan dalam negeri”.
Maka tidak lama lagi Iraq akan menjadi “negara ketiga” yang akan mengalirkan barang dari dan ke Iran. Dan kalau ini terjadi, masih ada gunanyakah Iran diisolasi?

Dahlan Iskan
CEO PLN