Selasa, 30 September 2014

NIKMATNYA RASA SAKIT



Rasa sakit tidak selamanya tidak berharga, sehingga harus  selalau dibenci. Sebab, mungkin saja rasa sakit itu justru akan mendatangkan kebaikan bagi seseorang.
                Biasanya, ketulusan sebuah  doa muncul tatkala rasa sakit mendera. Demikian pula dengan ketulusan tasbih  yang senantiasa terucap saat rasa sakit terasa. Adalah jerih payah dan beban berat saat menuntut ilmulah yang telah mengantarkan seorang menjadi ilmuwan terkemuka. Ia telah bersusah payah di awal perjalanannya, sehingga ia bisa menikmati kesenangan di ahirnya. Usaha keras seorang Musisi memilih kata kata untuk bait bait syairnya telah menghasilkan sebuah karya sastra yang sangat menawan. Ia, dengan hati,urat saraf, dan darahnya telah larut bersama kerja kerasnya itu, sehingga syair-syairnya mampu menggerakkan perasaan dan menggoncangkan hati. Upaya keras seorang penulis telah menghasilkan tulisan yang sangat menarik dan penuh dengan ‘ibrah, contoh-contoh dan perunjuk.
                Lain halnya dengan seorang pelajar yang hidup foya-foya, tidak aktif,tak pernah terbelit masalah,dan tidakpernah pula tertimpa musibah. Ia akan menjadi orang yang malas,enggan bergerak, dan mudah putus asa.
                Seorang musisi yang tak pernah merasakan pahitnya berusaha dan tidak meneguk pahitnya hidup, maka untaian qosidah-qosidah-nya hanya keluar dari lisannya, bukan dari perasaannya. Apa yang ia utarakan hanya sebatas penalarannya saja , dan bukan dari hati nuraninya.
                Contoh pola kehidupan  yang paling baik adalah kehidupan kaum mukminin generasi awal. Yaitu, mereka  yang hidup pada masa masa  kerasulan, lahirnya agama, dan di awal masa perutusan. Mereka adalah orang orang  yagn memiliki keimanan yang kokoh,hati yang baik,bahasa yang bersahaja dan ilmu yang luas. Mereka merasakan keras dan pedihnya kehidupan. Mereka pernah merasa kelaparan, miskin, diusir, disakiti dan harus rela meninggalkan semua yang di cintai,disiksa, bahkan di bunuh. Dan  karena semua itu pula mereka menjadi orang orang pilihan. Mereka menjadi tanda-tanda kesucian, panji kebaikan, dan simbol pengorbanan.

                “yang demikian itu ialah karena mereka ditempa kehausan, kepayahan dan kelaparan  pada jalan Allah, dan tidak pula menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan ditulikanlah bagi mereka  dengan yang demikian itu suatu amal salih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. ”                                              (QS.At-Taubah:120)

                Di dunia ini banyak orang yang berhasil mempersembahkan karya terbaiknya di karenakan mau bersusah payah. Al Mutanabbi, misalnya, ia sempat mengidap rasa demam yang amat sangat sebelum ia berhasil menciptakan syair yang indah berikut ini

                Wanita yang mengunjungiku seperti memendam malu,
                Ia hanya mengunjungiku di  gelapnya malam

Syahdan, an-Nabighah sempat di ancam akan di bunuh olerh Nu’man ibn al-Mundzir sebelum akhirnya  mempersembahkan bait syair berikut ini:

                Engkau matahari, dan raja-raja  yang lain bintang-bintang
tatkala engkau terbit ke permukaan
bintang bintang itupun lenyap tenggelam 

Di dunia ini, banyak orang yang hanya karena terlebih dahulu bersusah payah dalam masa mudanya. Oleh karena itu, tak usah bersedih bila anda bersusah payah, dan tak usah takut dengan beban hidup,sebab  mungkin saja beban hidup itu akan menjadi kekuatan bagimu serta akan menjadi sebuah kenikmatan pada suatu hari nanti.  Jika anda hidup dengan hati yang berkobar, cinta yang membara, dan jiwa yang bergelora , akan lebih baik dan terhormat daripada hidup dengan perasaan yang dingin, semangat yang layu dan jiwa yang lemah.
  

Minggu, 07 September 2014

Pelabuhan Balige (Cerpen Arbi Syafri Tanjung-terbit di Harian Padang Ekspres-Minggu 15 Juni 2014,hlm.18)

“ Niar, sudah beres semua yang akan dibawa?”
“Sudah engku”
Pagi ini, udara kota Medan  yang sejuk akan mereka hirup dari atas delman. Gemeretak roda kayu  melintasi  jalan beraspal dari jalan Antara ke stasiun Kereta Api. Badan penumpang terhuyung, berhoyak seirama dengan hentakan empat tungkai kuda penarik. Mardzuki  duduk berhadapan dengan istrinya. Tepat dibelakang kusir tampak seorang gadis kecil rambut kepang dua, setentangnya  terlihat seorang anak lelaki yang lebih muda. Samping kiri kusir,dengan girangnya tangan mungil anak laki-laki empat tahunan, menggamit ragu tali kemudi yang di kuasai Pak Man, kusir berkumis hitam tebal melintang diatas bibir.
“ Berapa lama engku verlof?” tanya Kusir, usai melecut punggung kudanya yang  coklat mengkilat. Sekali-kali terdengar suara “ckckckckckc”, kecepatan lari kuda akan lebih cepat bila sang kusir mengeluarkan suara seperti ini. Anak, disebelah Pak Kusir,akan meniru. Berulang kali “ckckckckckc”
“ Dua bulan Man, sudah lama saya tak menjenguk kampung-dua belas tahun sudah”
***
Tepat pukul satu siang. Kereta berangkat meninggalkan kota Medan. Membawa dan mengantarkan  keluarga Mardzuki  dan penumpang lainnya ke tujuan masing-masing. Lintasan rel yang membujur mengular akan  melintasi  Batang Kuis-Lubuk Pakam-Sei Rampah-Tebing Tinggi. Kereta ke Siantar melaju cepat. Sepanjang jalan yang dilalui nampak sawah menghijau kuning. Disetiap halte  stasiun sepanjang perjalanan akan terlihat calon penumpang , keluarga yang mengantar ataupun orang-orang yang menjemput. Di jalan raya yang kadang-kadang sejajar dengan rel sering terlihat kendaraan berselisih. Iring-mengiringi. Di stasiun Tebing Tinggi, kereta  berhenti  sekitar setengah jam, mengaso, naik turunkan penumpang.
***
Angin dingin terasa menusuk kulit. Warna langit di atas kota Siantar tampak kelam, gumpalan-gumpalan awan bergerak. Sinar matahari habis ditelan senja. Lampu-lampu dari loteng atap stasiun terang benderang nyalanya. Mardzuki berdiri didepan pintu gerbong menanti istri, anak beserta barang-barang bawaan. Satu koper hitam selutut disandarkan di kaki kirinya. Istri menjinjing tas anyaman daun pandan yang dilapisi pewarna biru merah. Terlihat kepala termos berbahan almunium, mengkilat tersumbul dekat pegangan tas. Rantang empat tingkat penyimpal bekal menyesak seperti hendak keluar dari tas itu. Si kecil berumur empat tahun lebih dulu turun gerbong daripada ibunya. Terakhir melompatkan kaki dari gerbong ke lantai  stasiun, si gadis rambut kepang dua.    
“ Engku! Hari sudah senja, dimana kita bermalam?” bertanya sambil membetulkan tengkuluk putih  penutup kepalanya. Belum sempat Mardzuki menjawab tanya istrinya, si Kecil sudah menimpali “ Iya abak, dingin. Sairin tidak tahan abak” suaranya memelas berharap segera mencari penginapan. Sembari tapak tangan kanan ia gosok-gosokan ke tangan kiri, naik turun dari siku ke punggung jari, lalu naik dari jari sampai pangkal lengan. Gosokan untuk mengusir udara dingin yang begitu gigil untuk anak-anak.
Mardzuki mengangkat pegangan koper tua itu, langkah mulai di ayunnya. Istri dan anak mengekor di belakang.“ Kita akan menginap di rumah Engku Sjamsuddin jurutulis  disini di Siantar ini, bekas mantri politie di Lubuk Pakam. Dia urang awak juga ” Mardzuki bicara, mata dan langkahnya tetap ke depan menuju pintu keluar stasiun. Asap tipis tampak menguap keluar dari mulutnya saat berbicara. Tapi, bukan dia saja, tiap orang yang berbicara di stasiun, seperti itu. Tak terkecuali saat istri dan anaknya bertanya tadi.
“Rumahnya tak jauh dari sini, kita akan menumpang delman untuk sampai kesana” sambung Mardzuki. Langkah ia hentikan, untuk beberapa sekon menarik napas. Pegangan koper itu kini beralih dari kanan ke tangan kiri.
***
 “ Sampaikan salam saya pada sanak saudara dan handai taulan di kampung, beginilah parasaian anak rantau” jabatan tangan kanan tuan rumah begitu erat. Dengan telapak tangan kirinya, Mardzuki menepuk-nepuk punggung tangan kanan Engku Syamsuddin. Tepukan hangat. Ada yang disalurkan dari segumpal daging dalam dada mengalir ke saraf-saraf telapak tangan. Tepukan untuk mengungkapkan rasa terdalam atas kebaikan Engku Sjamsuddin menyediakan kamar tidur, kemewahan hidangan makan malam serta sarapan tadi pagi. Terlebih ungkapan untuk ota lamak  mengenang masa kecil di kampung. Ungkapan itu juga bisa ditangkap dari pancaran sepasang bola matanya yang terbuka lebih lebar pagi ini.
***
Bonjol masih jauh. Perjalanan akan dilanjutkan dengan menumpang bus, hanya sampai ke Parapat. Tahun ini, tahun 1920, jalan yang dibuka dan menghubungkan Parapat ke Balige belum bisa di lalui oleh bus. Jalan ini juga yang direncanakan akan menghubungkan Sumatera Timur dengan Sumatera Barat. Kini masih dalam pengerjaan oleh gouvernement. Perjalanan kapal boat berpenumpang enam puluhan orang adalah satu-satunya pilihan. Tak ada pilihan  lain ke Balige dari Parapat atau sebaliknya, Parapat-Balige. Pada salah satu sisi pinggiran Danau Toba itulah, dibangun pelabuhan kecil.
Dipelabuhan kecil itu orang akan berdesak-desakan,berebut masuk untuk mendapatkan tempat duduk. Desak-desakan itu semakin riuh karena penumpang yang baru tiba, berebut pula hendak turun dan keluar dari kapal. Niar istri Mardzuki masuk ke kapal sambil menggendong si kecil, semua barang bawaan penuh  tak beraturan di genggaman Mardzuki. Keringat mengucur deras. Kelima anak beranak dapat duduk di bagian tengah badan kapal. Pada lambung kapal kecil itu tertulis  “Siantar Madjoe”.
Jam tangan berbahan nikel asli yang melingkar di pergelangan kiri Mardzuki menunjukkan pukul sebelas. Mesin kapal menderu bunyinya. Perlahan dan bergerak sangat lambat, membawa penumpang yang penuh sesak ditambah lagi dengan tumpukan barang yang menggunung dibagian atapnya. Pelabuhan kecil itu semakin menjarak dari ekor kapal. Semakin jauh hingga tak tampak lagi dari pandangan. Penumpang dengan leluasa dapat melihat segala yang ada di luar kapal, karena  sisi-sisi kapal memang terbuka, kecuali ruangan khusus nakhoda. Selain ada dinding pembatas khusus, disana juga terdapat jendela berkaca.
Penumpang asik dengan dirinya sendiri. Pada mata yang memandang, Danau Toba kirimkan biru airnya, sepoi-sejuk dan nyaman  hembusan udaranya, hijau perbukitan disekeliling danau seperti benteng kokoh yang didirikan khusus untuk menjaga segala yang terdapat disekeling danau. Pada lereng-lereng perbukitan satu dua terlihat rumah sebesar korek api saja rasanya. Pulau Samosir! Yaa…Pulau Samosir. Dari atas kapal ini kita juga dapat melihatnya. Hitam kecoklatan atap-atap rumah tampak mengelompok letaknya, kuda dan kerbau berkeliaran.
Samping kiri Mardzuki, duduk seorang laki-laki seumurannya, kepalanya ditungkupi kupiah hitam condong beberapa derajat ke kanan. Jas hitam tampak elegan dengan paduan kemeja putih didalamnya. Sepatu hitam bahan kulit tak semengkilap rambut si kecil yang klimis diminyaki pomade. Maklum debu yang terbang disapu tapak-tapak kaki penumpang di pelabuhan, kini menempel disekitar sepatu itu. Sarung coklat petak-petak tenun berbahan lembut melingkar di lehernya. Satu ujungnya menjuntai ke dada, ujung lainnya ke punggung dibawah tengkuk.
“ Engku, tak jauh lagi kita akan melintasi Tanjung Soekea” ucapnya pada Mardzuki setelah beberapa menit saling diam dengan pikiran masing-masing.” Biasanya pada bulan Juni ombak disekitar Tanjung ini akan lebih besar. Terkadang air danau menyembur masuk ke geladak kapal membasahi apa saja yang ada” ia mengingatkan Mardzuki atas pengalamannya yang bolak-balik sekali sebulan menumpang kapal ini, untuk membawa barang dagangannya dari Medan ke Balige.
“ Kira-kira jam berapa kita akan tiba di Balige, Engku” tanya Mardzuki yang penuh percaya dan yakin akan pengetahuan yang dimiliki lawan bicaranya. “ Pukul lima petang, Insyallah” singkat jawabnya sembari menarik kotak rokok dari saku jasnya.   
***
Langit sama gelapnya seperti kemarin saat turun dari kereta. Rintik rinai hujan yang turun disekitar pelabuhan Balige. Rinai itu memaksa penumpang mempercepat langkah mencari tempat berteduh. Ribut dan desakan penumpang tidak seperti hendak naik di Parapat empat jam lalu. Penumpang di pelabuhan ini lebih teratur, karena diawasi dan dijaga  oleh seorang mantri politie, dua orang anak buahnya. Petang hari juga memberikan kesempatan pada nakhoda dan anak buah kapal untuk tidak tergesa-gesa. Kapal akan disandarkan sampai pagi datang esok hari.
Penumpang dan barang bawaannya akan melenggang aman keluar pelabuhan setelah melewati pemeriksaan oleh ketiga polisi yang bertugas itu. Meski pelabuhan ini hanya seluas lima puluh meter persegi. Meski papan lantai sudah banyak yang lapuk dan paku-paku tergurajai disana sini, pelabuhan ini merupakan pelabuhan penting untuk bisa dari dan ke Balige dari Medan. Tentunya sangat mempengaruhi kelancaran distribusi barang kebutuhan untuk ke Sibolga, Nias dan ke arah lebih Barat.
“ Pemeriksaan di sini kurang teliti” terdengar suara orang antri tepat dibelakang Mardzuki “Karena yang di periksa hanya koper dan bungkusan , serta saku pakaian yang melekat saja” sambungnya. Suara itu dikenal Mardzuki, itu suara yang mengisi waktunya bercerita didalam kapal selama dalam perjalanan “ Barang gelap seumpama Opium bisa saja di selipkan dibagian dalam pakaian” penjelasannya sambil terus melangkah beringsut mengurai antrian. “ Dua bulan lalu, seorang Cina rambut bertaucang dan seorang Batak tertangkap dan ditahan di pelabuhan ini. Saya baca  beritanya di koran “Pewarta Deli”.
“ Apa salah mereka” tanya Mardzuki  ingin tahu.
“ Bungkusan Opium mereka selipkan di antara pakaian dalam koper mereka. Koper itu ia upahkan dibawa oleh penumpang yang terakhir diperiksa dalam antrian oleh petugas. Mereka berdua lebih dulu lolos dari pemeriksan dan pura-pura menunggu di kedai samping agent kantor kecil “ Cardford” yang akan membawa penumpang ke Sibolga.
Panjang lebar laki-laki berperawakan wibawa, teman maota-nya bercerita membuang jenuh dalam panjang mengularnya antrian pemeriksaan. Giliran Niar, istri Mardzuki diperiksa. Menyusul tiga orang anak mereka, dibelakangnya.
“ Alhamdulillah, Engku. Saya duluan” teriak Mardzuki padanya. Diantara keduanya terlihat ketiga polisi yang bertugas tajam dan liar mata mereka memperhatikan gerak-gerik penumpang yang belum diperiksa.
Penumpang-penumpang yang sudah turun dan mengaso di kedai-kedai sekitar pelabuhan dikejutkan dengan sorak penumpang lain yang masih antri.
“ Apa yang dibawanya?”
“Apa yang dibawanya?”
Tanya itu memicu suara yang lebih ramai. “ Penjahat rupanya?” celetuk seorang dalam kedai yang duduk di hadapan barisan tempat duduk keluarga Mardzuki. Gelas berisi keruhnya teh yang terangkat hendak di minumnya, sekilat ia letakkan lagi ke dasar tadah bening di atas meja kayu papan berserabut tanpa ketaman.
Pandangan ia lempar ke arah suara riuh dan kerumunan orang. Ia balik badan, agar leluasa memenuhi nafsu penasarannya atas apa yang sedang terjadi di pelabuhan Balige petang ini.
***  
Diatas bangku “Cardford” untuk penumpang kelas satu yang ditempatinya Mardzuki terus bercerita pada pikiran dan hatinya sendiri. Cardford itu akan mendaki-menuruni jalan lintas Balige- Sibolga
“Sungguh tak percaya saya” gumam hatinya.
“ Peci yang dipakainya, sarung yang diselempang dilehernya, wibawa pakaiannya. Tak percaya. Sungguh saya tak percaya”. Ingatannya mengais-ngais rupa dan tampilan laki-laki di atas kapal tadi, kini entah kemana ia dibawa mantri politie.

Padang, 21052014
Catatan :
Verlof                          : istilah cuti dalam bahasa Belanda
Maota Lamak              : Cerita panjang lebar
Tergurajai                   : Tak beraturan disana sini

by : Ust Arbi syafri

Rabu, 02 Juli 2014

Bahagia Itu Sederhana

    Setiap negara ternyata mempunyai pola kebiasaan, cara sederhana yang dilakukan masyarakat di dalamnya untuk mendapatkan kebahagiaan. Berikut kebiasaan baik yang bisa kita tiru dari beberapa negara ini.

Italia: hangout bareng sahabat
Negara Italia terkenal dengan keramahan penduduknya. Mereka sangat senang berinteraksi dengan sesama, terutama tetangga. Bila masih bisa bertatap muka langsung atau hangout di kafe atau bar, sebisa mungkin mereka menghindari curhat lewat gadget lho. Inilah yang membuat kadar stres dan galau penduduk Italia terbilang rendah. Nah, kalau sedang stres atau galau, segera buat janji dengan sahabat untuk hangout atau olahraga bareng. Ampuh menghubungkan kita dalam dunia nyata dan membuat pikiran lebih terbuka.

Finland: berbagi dengan sesama
Valentine tak melulu harus dirayakan dengan kekasih. Seperti yang dilakukan penduduk Finland, mereka merayakannya bersama dengan anak-anak kecil yang kurang beruntung serta berbagi dengan orang tua di panti jompo. Berbagi dengan sesama akan meningkatkan kebahagiaan kita tiga kali lipat. Di samping bisa lebih mensyukuri apa yang telah kita punya. Cocok untuk mengurangi hobi mengeluh.

Sahel, Africa: bebas berekspresi
Para perempuan di daerah Sahel, Afrika, sangat senang tampil dengan tema unik. Kebebasan berekspresi inilah yang akhirnya membuat mereka jauh dari rasa tertekan. Kita juga bisa mencontek gaya mereka. Bila biasanya kita berdandan cantik ke kantor, yuk ajak sahabat untuk mengadakan pajamas party atau bikin kontes kecil seru dengan peragaan busana yang “ajaib”. Jangan lupa siapkan hadiah menarik. Kebiasaan yang sering dilakukan oleh perempuan Sahel ini juga membuat pertemanan mereka semakin erat.

Mongolia: luangkan waktu untuk keluarga
Warga Mongol mendedikasikan satu bulan penuh yang disebut White Month untuk para orang tua, seperti nenek, kakek, hingga buyut mereka. Bagi mereka, keluarga memegang peran penting dalam kehidupan. Sebab, hubungan pertemanan atau cinta bisa saja putus, tetapi keluarga akan selalu ada. Jadi, sudah saatnya kita luangkan waktu untuk menciptakan waktu berkualitas seperti liburan bersama ke tempat-tempat indah. Rasa bahagia akan berlipat ganda jika kita menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kita sayangi.

Jepang: keluar dari zona nyaman
Jepang memiliki selera musik, pakaian, hingga makanan yang terbilang unik. Khususnya pagelaran Harajuku Style yang rutin dilakukan oleh para anak muda di sana. Keluar dari “zona nyaman” membuat mereka lebih kreatif. Sedang kreativitas yang tinggi dinilai bisa membuat kita lebih mudah mengatasi persoalan-persoalan dalam hidup. Selain itu, mencoba hal-hal baru bisa membuat kita jauh dari rasa bosan. Selalu menghabiskan weekend nonton di bioskop? Cari tempat yang bisa bungee jumping!

Vanuatu: melawan ketakutan
Penduduk di Pulau Pentakosta, Vanuatu, mengajarkan anak mereka untuk berani melawan rasa takut. Sebab ketakutan bukan untuk dipikirkan, melainkan untuk dihadapi. Salah satu caranya ialah realisasikan keberanian dengan melawan semua hal-hal negatif yang datang dari pikiran. Misalnya, kalau kita tidak berani melihat mata gebetan ketika sedang berbicara, melakukan sambutan acara di depan tamu-tamu penting, kita harus coba melawan “ketakutan” ini dengan selalu yakin bahwa kita bisa! Lakukan persiapan yang matang, berdoa, dan lakukan semuanya dengan senyum.

India: yoga dan meditasi
Yoga berasal dari negara ini dan menjadi salah satu resep untuk hidup lebih sehat dan menjernihkan pikiran. Selain mengeluarkan racun dalam tubuh, meluangkan waktu dua jam untuk olahraga sekaligus meditasi bisa membuat pikiran jadi lebih fokus. Dengan begitu kita akan lebih mudah menyelesaikan masalah dan hidup jadi lebih simpel deh. Kita juga bisa melakukan “meditasi” kecil seperti mematikan gadget dan alat komunikasi lain minimal lima jam (pagi hingga siang hari) dua kali dalam satu minggu.

Paris: tampil cantik
Semua pasti menyadari bahwa orang-orang di Paris sangat stylish – bahkan untuk ke toko bakery terdekat saja mereka memakai lipstick berwarna cherry. Ya, tampil cantik di setiap kesempatan membuat mereka sangat percaya diri. Nah, bila butuh asupan pede saat masuk ke lingkungan baru maksimalkan penampilan kita namun tetap mengikuti aturan yang ada. Bangun lah satu jam lebih pagi dari biasanya sehingga kita bisa rapikan dandanan sebelum masuk kantor.

Switzerland: kembali ke alam
Walau cuaca terbilang ekstrem, penduduk Switzerland malah memanfaatkan untuk bersenang-senang sambil main ski. Nah, kalau belum punya waktu untuk libur langsung ke sana, kita bisa lho main ice skating di mal yang menyediakan sarananya. Atau bisa merasakan sensasi lain misalnya naik gunung Bromo untuk melihat sunrise. Menghirup udara segar di alam terbuka bisa membuat kita lebih dekat dengan alam dan mengurangi stres karena kebisingan kota.

London: wisata lokal
Banyak pesta kebudayaan, simbol negara, hingga tempat bersejarah dari kota keren di Inggris Raya ini. Ya, penduduk di sana sangat menghargai dan bangga akan kekayaan lokal yang mereka miliki. Kita juga bisa meningkatkan rasa memiliki terhadap tanah air dengan traveling keliling Indonesia atau berkunjung ke museum-museum bersejarah, sekaligus mencicipi kuliner tiap daerah. Dengan bangga dengan negara sendiri, maka kita juga akan lebih bahagia sebagai penduduk asli Indonesia.

Bahagia itu sederhana!

Minggu, 22 Juni 2014

)(22062014)(


Tiada kata selain Puji dan syukur kepada engkau yang selalu menjadi tumpuan hati untuk meminta dan mengharapkan rahmad dan hidayah di setiap pengabdian yang telah ku lakukan semata mata  hanya  kepadamu, tempatku menangis dengan jiwa penuh luka diri  yang kotor ini,tempatku mengemis tanpa malu akan perbuatan yang sudah ku lakukkan selama ini. ALLAH pantaskah aku bersujud di hadapanmu? Tanpa malu dengan dosa-dosa yang telah aku lakukkan sejauh ini. Engkau yang maha pengampun dan bijaksana! Ampunilah hambamu yang tak tau diri ini,kasihlah hambamu yang tak tau untung ini. Karna hanya engkaulah yang maha mengerti dan maha mengetahui .

Hidup ini memang penuh dengan  tantangan yang kadang kadang  kita tidak tau kapan itu datang dan bahkan halangan dan rintangan itu sudah menjatuhkan kita terlebih dahulu sebelum kita mengetahui bahwa ia akan datang. Perkiraan memang butuh logika dan ilmu untuk memastikannya melainkan bukan prediksi atau ramalan yang  tak berdsar dan menunggu akan apa adanya dan bukan apa adanya.

Tak terasa sekarang sudah memasuki pertengahan tahun 2014, dan tak terasa pula aku sudah di kepung ratusan masalah  yang bobot dan kualitasnya melebihi kemampuanku untuk dapat menyelesaikannya dengan logika dan akal sehat, dan itu karna kelalaian dan anggap remeh yan gmenjadi petaka dan neraka untukku sendiri. Dan sekarang aku menanggungnya juga sendiri.

Memikul tanggungjawab untuk diri sendiri dan tuntutan akan kebahagiaan dan kekecewaan orang yang tak ternilai bagiku ,orang yang tak  tergantikan. Ya Allah ampunilah hamba ya Allah  , hanya kepadamulah hamba meminta perlindungan akan saya dan ibu dan ayah saya serta adik dan keluarga besar saya  ya Allahg .



Senin, 12 Mei 2014

Di tengah Panasnya Isu LCS(Laut Cina Selatan ) dan negara asean saling memperkuat diri, Raja Brunei Justru menghibahkan alat Tempur Militernya



  JKGR-(IDB) : Ini adalah artikel tersulit yang pernah saya buat. Kemampuan bertutur seakan-akan hilang seketika, dibatasi oleh begitu banyaknya rambu yang harus saya patuhi. Merekayasa sebuah realita agar lebih terkesan fiktif, mengaburkan fakta agar lebih bernuansa hoax, adalah salah satu diantara sekian banyak tantangan yang saya hadapi. Namun apapun rintangannya, saya tetap berbangga karena telah mampu menjadi seorang saksi mata, sekaligus juga saksi bisu..!
Tiga gagang anggrek masih dalam genggaman, ketika Royal Brunei Airlines mulai menapakan kembali kaki-kakinya di atas landasan KLIA untuk mengantar saya kembali pulang ke tengah dekapan keluarga tercinta. “Uncle, terima kasih untuk kunjungannya. Sering-sering datang kemari ya..!” ungkapan seragam dari anak-anak sahabat saya saat menyerahkan anggrek-anggrek itu, sesaat sebelum saya meninggalkan Bandar Seri Begawan. Tawa kami pun berderai. Kenangan manis di Brunei itu, masih melekat di hati sanubari. Terima kasih sahabat, untuk  tali persaudaraan yang telah kita jalin selama lebih dari 20 tahun. Salam takziah untuk ayahanda tercinta..!
Menyusuri koridor-koridor KLIA yang megah, membawa kembali ingatan pada penuturan sahabat saya beberapa hari yang lalu tentang kisah durhaka pemimpin Malaysia hingga menjadi sumber pangkal bekunya jalinan harmonis yang selama ini telah terbangun. Nun di tahun 1998, ketika Malaysia dikejar deadline untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Commonwealth Games 1998. Kegundahan jelas tersirat di wajah-wajah para pemimpin Malaysia. Krisis ekonomi Asia yang datang menerjang, telah meluluhlantakan sendi-sendi perekonomian nasional yang telah terbangun. Proyek-proyek bersekala besar banyak yang terbengkalai bahkan harus rela terhenti. Kondisi yang tidak menentu, telah mengancam munculnya bopeng-bopeng yang akan mencoreng wajah-wajah kota yang akan ditampilkan pada pentas opera yang bersekala antara bangsa.
Tak ayal, Mahathir Muhammad pun ikut meradang. KLIA, Pusat pemerintahan Puterajaya, KL Sentral, Stadium Bukit Jalil, dan lain-lain adalah sebuah paket proyek raksasa yang sejatinya bersifat multiyears, yang pengerjaannya diprogram sedemikian rupa agar bisa selesai serentak dengan waktu penyelenggaraan event olahraga negara-negara persemakmuran. Alih-alih menjadi media pertunjukan kebesaran bagi Malaysia, Commonwealth Games malah beralih rupa menjadi sebuah media yang justru mengancam akan memojokan kegusaran dan kekerdilan Malaysia.
Akhirnya dengan sedikit menahan rasa malu, sang PM pun pergi mencari pertolongan, hingga sampailah di hadapan sang Baginda Sultan Brunei Darussalam, Sultan Hasanal Bolkiah. Selanjutnya yang kita dengar adalah cerita-cerita heroik tentang sang PM, keberaniannya menentang IMF, kegigihan, keuletan dan kecerdasannya dalam mengendalikan krisis, dan menjadikannya sebagai negara pertama di Asia yang berhasil keluar dari cengkeraman krisis. Tapi benarkah demikian yang terjadi sesungguhnya? Hehehe..! Ingat, tidak ada makan siang yang gratis..! Begitulah kira-kira ungkapan yang tepat untuk dilayangkan dalam kasus ini. Meskipun akhirnya Malaysia berhasil keluar dari krisis, tapi ongkos yang harus dibayar juga tidak murah. Limbang..! Ya, inilah nilai dari sebuah harga diri.
Setelah terbebas dari krisis, Mahathir Muhammad yang kemudian lengser keprabon, menyerahkan Limbang melalui tangan suksesornya, yakni Abdullah Ahmad Badawi. Meskipun beliau sendiri turut mencaci, tapi tak seorang pun tokoh di Malaysia yang berani menggugatnya di Mahkamah Internasional, termasuk sang Raja Agong sekalipun. Bukan seorang Abdullah Ahmad Badawi jika harus takut berkorban. Putera seorang tokoh agama paling berpengaruh di Malaysia ini, memilih rela menjadi tumbal sebuah harga diri bangsa, dari pada harus melawan tetapi hasilnya justru hanya akan mempermalukan bangsa dan negara dengan kadar yang tiada tara.
Fakta membuktikan, pasca penyerahan Limbang kepada Brunei, hingga kini tidak pernah ada satupun usaha diplomatik yang ingin mengungkit kembali masalah Limbang, karena segalanya telah terbayar tunai. Bahkan Brunei sendiri lebih memilih untuk meninggalkan dan membiarkan tapak istananya yang mewah dan megah di KL terbiar menjadi onggokan kumuh yang tak bernilai.
Bagi Brunei, pola hubungan yang dibangun dengan Malaysia, telah menjadi sebuah pelajaran penting yang sangat berharga. Mereka kini menyadari, di dunia ini, mungkin hanya tinggal Bruneilah yang menganut sistem monarki absolut, yang menempatkan titah raja, berada di atas segala-galanya. Sikap ekstra hati-hati ditunjukan dalam memilih rekan atau sahabat dalam melaksanakan hubungan internasionalnya.
Brunei bukanlah negara yang tertutup dari pengaruh luar. Tapi Brunei juga bukan negara yang agresif dalam menanamkan pengaruhnya di dunia internasional. Dengan kemampuan financial yang dimilikinya, sejatinya bisa saja Brunei menjadi negara industri yang besar seperti Singapore. Tinggal mendatangkan teknologi dan SDM, dalam sekejap mata, industri akan maju di tanah Brunei. Tapi bukan itu ambisinya.
Brunei sangat menyadari keterbatasan lahan yang ada. Mereka bukan Indonesia. Mereka juga gak mungkin membeli lahan di Indonesia. Mereka inginkan negeri mereka tetap hijau, minyak bisa dihemat dan rakyatnya selamat. Brunei akan memproteksi produk yang bisa dihasilkan oleh industrinya, tetapi tidak akan sungkan untuk import produk berteknologi tinggi. Sikap penuh kepedulian yang ditunjukan oleh sang Sultan pada rakyatnya inilah, yang membuat rakyat Brunei begitu loyal dan mencintai Sultannya.
Rakyat Brunei tidak pernah melihat kekuatan militer negara manapun sebagai sebuah ancaman, selama kekuatan itu tidak mengancam kedudukan sang Sultan. Karena itu tidak heran, ketika negara lain sedang sibuk berlomba menumpuk senjata, Brunei justru menghibahkan kapal-kapal perangnya. Bahasa filosofi yang ingin disampaikan Brunei adalah bahwa senjata hanya bersifat sesuatu, sementara kepercayaan adalah bersifat lebih dari itu. Kepercayaan memiliki nilai yang sama dengan kedaulatan. Karena itu Brunei dipercaya untuk berdaulat, dan berdaulat untuk memberikan kepercayaan.
Pelepasan Timor Leste dari NKRI, adalah titik awal kekaguman Sultan Brunei pada Indonesia. Baginda merasakan kepedihan yang dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Tapi kebenaran harus ditegakkan. Dan sejak saat itu pulalah, percaya atau tidak, bangsa Indonesia untuk pertama kalinya berani berdiri dengan kepala tegak dalam setiap perundingan internasional. Dalam kasus Sipadan dan Ligitan, meskipun kita kalah, tapi kita sudah berusaha maksimal hingga maju ke perundingan Mahkamah Internasional.
Brunei juga terpesona dengan sikap jantan kita saat menghadapi kasus Ambalat dan sikap luwes kita dalam kasus Aceh dan Papua. Bagi Brunei, apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah sebuah pengejawantahan nilai-nilai luhur adat istiadat para leluhur yang sudah turun temurun. Untuk itu, pemberian atau hibah alat perang pada Indonesia adalah sebuah simbol kepercayaan tertinggi, karena bisa bermakna bahwa mulai sekarang, hidup dan matinya kami, andalah yang menjaga..! Beruntung para petinggi bangsa ini hidup di negara yang berlandaskan Pancasila, sehingga masih bisa berbudi pekerti luhur dan tahu berterima kasih.
Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam
Bandar Seri Begawan
Pada tahun 2008, Sultan Hasanal Bolkiah, didaulat menjadi anggota kehormatan di berbagai satuan elite TNI. Sesudah itu, berbagai hibah peralatan militer dari Brunei mulai berdatangan. Dan baru-baru ini giliran sang Putera Mahkota yang menapak tilasi jejak sang Ayahanda. 
Beliau dinobatkan sebagai anggota kehormatan dalam satuan elite TNI, seperti Kopassus TNI AD, Marinir TNI AL dan Korpaskhas TNI AU. Lalu peran dan andil apa yang layak kita tunggu setelah ini? Hehehe..! Ternyata salah besar jika kita harus menunggu. Sang Putera Mahkota justru sudah berperan besar, jauh sebelum upacara penyerahan baret kehormatan..!
Seperti pada pagi itu, Jumat, 09 May 2014. Ini hari terakhir saya di Brunei Darussalam. Saya sengaja check out dari hotel lebih awal, meskipun jadwal penerbangan saya untuk pulang ke KL pada jam 16.20 petang. Sahabat saya ingin mengajak main tenis di sebuah tempat menarik yang pernah dia janjikan. Mobil kami meluncur ke arah jalan yang menuju ke airport, tapi setelah melewati airport, mobil kami tidak ada tanda-tanda akan berhenti.
Selanjutnya saya menduga bahwa kami akan main tenis di kawasan industri Muara, tapi ternyata tidak. Begitupun ketika saya coba menebak-nebak bakal lokasi kami untuk bermain tenis, mulai dari Royal Dutch Sell Petroleum Refinery Complex, pelabuhan peti kemas Muara Brunei, pelabuhan laut dalam yang dikelola PSA Holdings, dan mungkin salah satu hotel besar di sekitar pantai Muara.
Ternyata tidak ada satu pun terkaan saya yang tepat sasaran. Mobil saya memasuki jalan sepi yang pasangi oleh begitu banyak CCTV. Dan di sebuah pos penjagaan, sahabat saya membukakan jendela mobil sambil melambaikan tangan, yang disambut dengan sikap tegak penuh hormat dari sang penjaga pos. Disini banyak herder berseragam loreng berkeliaran. Mobil kami yang meluncur ke arah tepian dermaga tak luput dari perhatian dan pengawasan mereka. Inilah Muara Naval Base, markas besar angkatan laut Tentara Diraja Brunei Darussalam. Kawasan super luas yang tampak sedang berbenah melengkapi berbagai fasilitas yang dimilikinya.
Jika Naval Base TNI AL di Surabaya sudah terkenal sebagai Naval Base terbesar di Asia Tenggara, maka bisa jadi, Muara Naval Base adalah yang kedua terbesar. “Welcome to Surabaya..!” celetuk sahabat saya, membuat saya agak terperanjat, seakan dia bisa membaca pikiran saya. Ternyata pembangunan Muara Naval Base ini memang terinspirasi oleh kemegahan dan kelengkapan naval base TNI AL di Surabaya, pada saat Sultan Hasanal Bolkiah menerima penganugerahan anggota kehormatan Marinir di Surabaya pada 2008 dulu.
Di sisi kiri dan kanan kanal dermaga terlihat puluhan kapal perang berbendera asing. Di kanal lain, terlihat kapal kebesaran keluarga kerajaan yang megah, dengan bendera Brunei yang berkibar. Tidak jauh dari kapal itu, beberapa kapal lain turut bersandar. Yang membuat saya terkejut adalah adanya bendera merah putih yang berkibar..! Ya, itu KRI milik TNI AL. Sedangkan yang lainnya adalah kapal perang milik Uni Emirat Arab.
Royal Brunei Navy
Royal Brunei Navy
Mobil kami terus meluncur ke arah Timur dermaga. Di ujung pelabuhan yang sepi, kanalnya dibuat agak menjorok ke dalam. Tidak terlihat ada anjungan kapal di situ. Namun ketika mobil kami mulai mendekati batas zona terlarang, sekali lagi jantung saya berdegup kencang. Lutut saya terasa bagai tak bertulang.
Mata saya memelototi lima bendera merah putih yang berkibar di atas lima kapal selam..! 401, 401, 402, polos, polos..! Untuk meyakinkan rasa penasaran saya, saya share dengan sahabat saya, bahwa sebagian besar rakyat Indonesia hanya mengetahui bahwa TNI AL cuma memiliki 2 unit kapal selam.
Jika mereka melihat kelima kapal selam ini, maka mereka akan dibilang mimpi atau dicap pembohong. Tapi sahabat saya berujar, bahwa orang Brunei mengetahui TNI AL memiliki 20 unit kapal selam, jika Indonesia mengaku cuma punya kelima unit kapal selam ini, maka Indonesia adalah pembohong dan telah menganggap orang Brunei lagi mimpi. Hehehe..! Kadang dunia ini memang suka jungkir balik..!
Setelah melaksanakan shalat Jumat, kami meninggalkan kawasan Muara Naval Base. Jangan lewatkan untuk menikmati kesegaran ikan laut di daerah ini. Dan itu pulalah yang kami lakukan pada hari itu. Menyambangi sebuah restoran yang menyajikan ikan laut segar, menjadi acara yang tak kalah seru. Di dalam restoran itu, bukan saja ikan laut segar yang saya temui, tapi juga para prajurit TNI yang kekar..! Hahaha..! Senang sekali bisa bertemu dengan saudara sebangsa dan setanah air yang bertugas di luar negeri. Dia bilang ada ratusan personel TNI dari berbagai satuan yang setiap tahun di kirim ke Brunei untuk menjadi instruktur pelatih berbagai keahlian militer tentara Diraja Brunei. Wah, mendengar kabar ini, rasa bangga saya kian bertambah.
Waktu sudah menunjukan jam 14.00, ketika mobil kami memasuki pintu gerbang sebuah perkantoran megah. Sahabat saya meminta passport saya untuk discan di tempat pemeriksaan identitas yang ada di pos jaga. Setelah itu kami meluncur ke sebuah bangunan megah dengan tiang menjulang yang dihiasi lampu kristal yang menjuntai, lantai pualam dan karpet persia serta pernak pernik perak yang tampak berkilauan. Di ruangan terdepan, saya diminta mengisi buku tamu, yang telah lebih dulu mencantumkan nama beserta nomor ID Card saya. Setelah itu, pasport saya sekali lagi didekatkan pada sebuah layar komputer, yang diikuti oleh bunyi denting bell, pertanda bahwa pintu lift berwarna emas itu telah terbuka. Wow..! Menaiki sebuah lift, terasa menaiki sebuah kamar istana yang bergerak..! Jauh lebih megah dari istana negara di Jakarta atau istana Raja Agong Malaysia yang baru itu. Padahal ini bukanlah istana..!
Ya benar, itu bukanlah istana. Gedung itu adalah Bolkiah Garrison. Kantor Kementerian Pertahanan(MinDef) Brunei Darussalam. MinDef berada di bawah kendali langsung Sang Sultan. Alasannya ternyata tak lepas dari sejarah masa lalu. Ketika Inggris menawarkan Brunei untuk bersama-sama Sabah dan Sarawak, bergabung menjadi bagian dari Negara Persekutuan Tanah Melayu. Brunei dengan tegas menolak tawaran itu, dan lebih memilih untuk menunda kemerdekaan secara penuh dari Inggris.
Pada masa penantian penyerahan kedaulatan penuh ini, semua urusan luar negeri, pertahanan, dan moneter berada dibawah kekuasaan Inggris. Sedangkan sang Raja hanya berhak mengurusi masalah internal istana dengan segala tetek bengek adat istiadat yang mengaturnya, mengurusi masalah dalam negeri, termasuk didalamnya adalah masalah agama, seni budaya, transportasi, pendidikan dan kesehatan. Bagi Brunei, sektor Pertahanan bukan hal yang biasa. Pertahanan adalah simbol kedaulatan penuh kerajaan. Karena itu, sejak awal kemerdekaan, Kementerian Pertahanan akan selalu berada dibawah kendali sang Sultan, sebagai pemegang simbol kedaulatan penuh negara.
Nun berabad-abad lampau, kerajaan Brunei pernah dikuasai Sriwijaya dan Majapahit. Di masa kekuasaan Majapahit itulah, Brunei justru berhasil membebaskan diri bahkan juga berhasil memperbesar wilayah kekuasaannya hingga ke Manila. Kekuatan dan kebesaran masa lampau, menjadi kekuatan spiritual yang amat besar untuk menjadi sebuah bangsa yang mandiri dan berdaulat. Karena itu mereka pantang menjadi sebuah boneka bangsa manapun..!
Semangat dan rasa percaya diri yang besar itu, tergambar dari foto-foto pemimpin mereka yang banyak terdokumentasikan di dalam ruangan kantor sahabat saya yang luas dan besar. Termasuk kiriman foto teranyar dari Jakarta mengenai liputan perjalanan sang Putera Mahkota ke Indonesia. Pandangan mata saya tiba-tiba terpagut oleh sebuah foto besar yang terpajang di salah satu sisi dinding. Dua wajah itu, sudah sangat saya kenal, tapi yang satunya..?
“Those are our King with your former President Habibie and the other one is UAE’s King.” Sahabat saya seperti selalu mengetahui segala sesuatu yang sedang menjadi tanda tanya saya. Merekalah yang merancang dibentuknya poros kerjasama tiga negara antara Indonesia, Uni Emirat Arab dan Brunei Darussalam, yang kemudian dinamakan Poros Jakarta-Abu Dhabi-Bandar Seri Begawan (Poros JAB). Ini bukan semata-mata poros kekuatan, tapi lebih bersifat poros kepercayaan. Sama seperti halnya aliansi yang diajukan sahabat saya beberapa waktu lalu. 
Penunjukan saya, jelas bukan untuk mewakili negara dan pemerintah Indonesia, dan juga bukan untuk menjadi agen asing di Indonesia. Tapi sahabat saya meyakini dan percaya bahwa saya akan bisa bersikap bijaksana dalam menghadapi dua kepentingan yang berbeda. Pengalaman kami dulu sebagai kaum minoritas di tengah komunitas kami yang sangat Latino sewaktu tinggal kami tinggal di Maracaibo, Venezuela, telah berhasil membangun rasa dan sikap saling peduli dan melindungi, sehingga kemudian tumbuh rasa saling mempercayai.
Pola hubungan seperti inilah yang akan dianut Brunei untuk memenangkan kompetisi dalam bingkai Masyarakat Ekonomi Asean mendatang. Ketika banyak negara sibuk mengejar formalitas, ternyata Brunei menyodok ke bawah dengan jurus barunya yang terkadang sulit dibaca. Apapun jurusnya, fakta lebih bisa berbicara, hingga saat ini tidak ada satu negara pun yang berani menteror negara sekecil Brunei Darussalam. Bahkan China sekalipun terlihat lebih bersikap  santun. Malaysia yang songong, tidak sekalipun berani melakukan unjuk kekuatan di sekitar pekarangan Brunei Darussalam. Pertanyaannya, jadi selama ini siapa yang jaguh..? Jawabannya yang pasti adalah, “Ya Indonesialah..!” Hehehe..! Selamat berakhir pekan, Bung..!
Sumber : JKGR

Minggu, 04 Mei 2014

kita adalah tulisan kita

Adakah orang akan bertanya akan aku ketika aku
tak pernah menulis satu kata?
Adakah orang akan mencari namaku ketika aku
tak pernah meninggalkan kesan?
tulisanku adalah diriku, diriku mustahil adalah tulisanku
jari-jariku bekerja dengan otakku
tapi tidak dengan diriku
diriku adalah kumpulan prilaku potensi dosa
diriku adalah susunan tulang daging darah
yang mungkin telah menyerap barang haram
diriku bukan milikku, lingkunganku telah mengklaimnya
Adakah orang pernah menerima aku berbeda dengan tulisanku?
Berjayalah kalimat-kalimat yang kutulis
sebab mereka mendapat teman dan musuh yang menghormati
ingin aku memasukkan diriku ke dalam tulisanku
harap aku bisa mendapat sapaan hormat yang sama
Tulisanku adalah produksi otakku yang bersahaja
tak dapat bercengkrama dengan prilakuku yang
diproduksi oleh niatku yang subjektif
tulisanku memberi tahu tentang aku ke dunia
sementara aku tak pernah berbuat yang sama
kepada tulisanku....


kutipan dari teman ,

Jumat, 02 Mei 2014

Senang bisa Melihatmu



Girl in The Atport 

                04-september 2013, hari itu merupakan hari yag sangat cerah, di tengah hiruk pikuk kota medan yang  sudah menjelang jam menunjukkan ke setengah satu. Saya berangkat dari Jalan Pancing  tempat aku menginap semalaman sebelum kembali ke kota tempat aku belajar ,Bandung .
Kebetulan waktu itu bandara Polonia sudah  tidak di gunakan lagi untuk Penerbangan komersial dan untuk pernerbangan Komersial di alihkan ke bandara yang baru yakni Bandara Kuala Namu yang sama sekali saya belum pernah kesana dan ini Bandara baru yang konon katanya bandara terpadu yang terintegrasi dengan transportasi terbaik  di Negri ini.
Nyatanya aku harus tertatih tatih menuju bandara  dengan angkutan umum yang tak sangat di harapkan  dan singkat cerita aku sudah sampai di Bandara Kuala namu . dan ini merupakan kedua kalainay asaya disini setelah ke  datangan saya 3 bulan lalu dari bandung dan mendarat disini ,  dan tanpa banyak basa basi saya langsung registrasi tiket dan langsung Boarding pass  dan akan lebih nyaman menunggu di dalam dari pada di luar yang terlalu ramai dan bising.
Di dalam ruangan itu saya  duduk di bangku paling pinggir dan menghadap kursi yang terletak di depanku  yang sudah di penuhi orang yan gkan berangkat juga, setengah jam saya duduk disini tanpa ada kegiatan  sungguh sangat membosankan , dan untuk menghilangkan ke bosananitu saya ajak nenek dan kakae yang di samping saya bicara bicara sambil menayakan asal dan tujuannya  dalam bahasa medannya biasa di sebut martarombo  , siapa tau cucunya cantikk hehehehe,  dan cerita demi cerita telah melupakan akan ke suntukan kami dalam menunggu pesawat .
Saat itu mataku sangat liar kesana kemari melihat apa yang  indah untuk di lihat  dna tak sengaja saya melihat di eskalator turun menuju  ruangan boarding pasaku berada ada dua orang cewek yang sedang turun kira kira tingginya 160cm  an dan kurang lebih, kedua wanita itu masih seumuran denganku kira kira dan juga kanyaknya sama sepertiku , dua duanya memakai jilbab namun yang menarik perhatianku adalah yang sebelah kanan gadis yang lebih mungil dengan senyum yang membuat kecantikannya bertambah 3kali lipat membuat wajahnya semakin cantik dan mempesona. Dan aku sangat terkesan dengan melihat senyumnya di tambah boneka beruang yang ia rangkul dengan kedua tangannya  membuat sisi kelembutannya sangat terlihat disitu .
Sampai mereka berdua menuruni eskalaor saya masih menatapnya dengan penuh kesan dan lamunan , mereka terus berjalan dan masuk dari pintu boarding  yang kebetulan tidak terlalu jauh dari tempat dudukku. Saat masuk ruangan itu aku masih memperhatikannya hingga mereka tepat di depankku  untuk mencari tempat duduk yang kosong  dna kebetulan, kursi di hadapannku tidak terlalu penuh dan msih cukup untuk dua orang maka mereka duduk disana dan menurunkan tas ransel di punggung nya  untuk duduk lebih nyaman.
Perasaanku waktu itu sangat tidak karuan , dilain  hati aku sangat ingin bisa berkenalan dengan mereka  karna saya yakin saya dan mereka satu  tujuan. Namun nyaliku masih sangat belum terlatih untuk bisa dalam hal ini  oleh karena itu ak uhanya bisa meratapinya dari kursiku saja yang hanya berjarak 2 meter dari tempatku duduk .
Saat semua sibuk dengan kegiatannya masing masing kucoba untuk melihat wajahnya lebih nyata dari tempat dudukkku sambil melempar  pandangan  ke padanya , dan tak sengaja dia memergokiku ketika aku sedang melihatnya , dan aku hanya menggelengkan kepala untuk mengelak malu darinya  namun dia malah mengumbar senyum kepadaku dan  kembali menunduk untuk tidak melihat ke arahku lagi ,waduh hatiku semakin sangat tidak karuan waktu itu ternyata ia meresponku dengan positif , dalam hatiku aku  akan melangkah ke depannya dan akan mengajak kenalan. Untuk me mastikan ia tidak marah saat aku lihat dari depannya  ku  beranikan diriku lagi untuk melihat ke arahnya ketika ia sedang asyik dengan handphonenya , sekian  menit aku memandanginya dan mengagumi indahnya mahluk ciptaan Allah ini dan dalam hati aku berdoa “ya ALLAH sungguh indah ciptaanmu, berikanlah kepada ku  istri solehah  kelak jika kau sudah bisa menunaikannya ” dan masih dalam memandang ke arahnya  tak lama pula ia melihat ke arahku  sambil menoleh ke arahku di umbarnya senyum  itu lagi  seolah ia menyapaku .
Dan dalam diriku aku sudah memberanikan diriku untuk mengajaknya berkenalan karna sudah dua kali aku kecolongan dalam memandangi rupanya yang indah  dan dua kali juga ia mengumbar senyum kepadaku. Dan ketika niatku sudah bulat untuk berkenalan dengannya ....tiba tiba tiba tiba
Terdengar Pengarahan dari Pengeras Suara Ruangan  bahwa penerbangan  Lion Air tujuan Bandung sudah di bolehkan memasuki pesawat lewat  gate 1. Sontak membuatku sangat kecewa  dan tak karuan menyesali diri ,,para penumpang mulai bergerak memasuki gerbang  satu  dan termasuk juga si dia yang sudah mengemas tas ranselnya dan mulai berjalan ke gerbang satu  untuk masuk ke pesawat. Dan tanpa pikir panjang aku juga berkemas untuk memasuki pesawat.
Dan setelah di pesawat aku masih coba menoleh ke kekiri kanan untuk memastikan dia juga satu penerbangan dengaku , dsan memastikan dia juga sudah masuk ke dalam pesawat dengan temannya ,dan dalam hatiku  aku pasrahkan  dan merelakan  penyesalan dan berujar .
JIKA DIA JODOHKU PASTI ALLAH AKAN MEMPERTEMUKAN KAMI KELAK ..  hehehehe,
Kisah nyata