Minggu, 23 Maret 2014

Catatan Pak Dahlan Iskan di Negri Syam

Baru sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami kesulitan mendapatkan  gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari negara para mullah ini.
Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri sendiri. Tapi hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan terus menerus. Kalau awal tahun 2010 PLN masih mendapat jatah gas 1.100 mmscfd, saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 mmscfd. Perjuangan untuk mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda berhasil, belakangan redup kembali.
Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinya. Bisa jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana baru dari sana dijual ke PLN dengan harga yang sudah berbeda. Padahal PLN memerlukan gas sebanyak 1,5 juta mmscfd. Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas sebanyak itu penghematannya bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahun. Angka penghematan yang mestinya menggiurkan siapa pun.
Maka saya memutuskan ke Iran. Apalagi upaya mengatasi krisis listrik sudah berhasil dan menuntaskan daftar tunggu yang panjang itu pasti bisa selesai bulan depan. Kini waktunya perjuangan mendapatkan gas ditingkatkan. Termasuk, apa boleh buat, ke negara yang sudah sejak tahun 1980-an diisolasi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya itu. Siapa tahu ada harapan untuk menyelesaikan persoalan pokok PLN sekarang ini: efisiensi. Sumber pemborosan terbesar PLN adalah banyaknya pembangkit listrik yang “salah makan”. Sekitar 5.000 MW pembangkit yang seharusnya diberi makan gas, sudah puluhan tahun diberi makan minyak solar yang amat mahal. Salah makan inilah yang membuat perut PLN kembung selama ini.
Kebetulan Iran memang lagi memasarkan gas dalam bentuk cair (LNG). Iran lagi membangun proyek LNG besar-besaran di kota Asaleuyah, di pantai Teluk Parsi. Saya ingin tahu benarkah proyek itu bisa jadi? Bukankah Iran sudah lebih 20 tahun dimusuhi dan diisolasi secara ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dari seluruh dunia? Bukankah begitu banyak yang meragukan Iran bisa mendapatkan teknologi tinggi untuk membangun proyek LNG besar-besaran?
Saya pun terbang ke Asaleuyah, dua jam penerbangan dari Teheran. Meski Aseleuyah kota kecil ternyata banyak sekali penerbangan ke kota yang hanya dipisahkan oleh laut 600 km dari Qatar itu. Bandaranya kecil tapi cukup baik. Masih baru dan statusnya internasional. Pesawat-pesawat lokal seperti Aseman Air terbang ke sini. Inilah kota yang memang baru saja berkembang dengan pesatnya. Iran memang menjadikan kota Asaleuyah sebagai pusat industri minyak, gas dan petrokimia. Beratus-ratus hektar tanah di sepanjang pantai itu kini penuh dengan rangkaian pipa-pipa kilang minyak, kilang petrokimia dan instalasi pembuatan LNG.
Saya heran bagaimana Iran bisa mendapatkan semua teknologi itu di saat Iran lagi diisolasi oleh dunia barat. Memang terasa jalannya proyek tidak bisa cepat, tapi sebagian besar sudah jadi. Kilang minyaknya, kilang petrokimianya, kilang etanolnya sudah beroperasi dalam skala yang raksasa. Hanya kilang LNG-nya yang masih dalam pembangunan dan kelihatannya baru akan selesai dua tahun lagi.
Memang kalau saja Iran tidak diembargo proyek-proyek itu pasti bisa lebih cepat. Namun Iran tidak menyerah. Iran membuat sendiri banyak teknologi yang dibutuhkan di situ. Hanya bagian-bagian tertentu yang masih dia datangkan dari luar. Entah dengan cara apa dan entah lewat mana. Yang jelas barang-barang itu bisa ada. Orang, kalau kepepet biasanya memang banyak akalnya. Asal tidak mudah menyerah. Demikian juga Iran. Bahkan keperluan listrik untuk industri petrokimia itu Iran akhirnya bisa membuat pembangkit sendiri. Termasuk bisa membuat bagian yang paling sulit di pembangkit listrik: turbin. Maka Iran kini sudah berhasil menguasai teknologi pembangkit listrik tenaga gas, baik open cycle maupun combine cycle.
Kemampuan membuat pembangkit listrik ini pun semula agak saya ragukan. Belum pernah terdengar ada negara Islam yang mampu membuat pembangkit listrik secara utuh. Karena itu setelah meninjau proyek LNG saya minta diantar ke pabrik turbin itu. Saya ingin melihat sendiri bagaimana Iran dipaksa keadaan untuk mengatasi sendiri kesulitan teknologinya.
Ternyata benar. Pabrik turbin itu sangat besar. Bukan hanya bisa merangkai, tapi membuat keseluruhannya. Bahkan sudah mampu membuat blade-blade turbin sendiri. Termasuk mampu menguasai teknologi coating blade yang bisa meningkatkan efisiensi turbin. Baru 10 tahun Iran menekuni alih teknologi pembangkit listrik ini. Sekarang Iran sudah memproduksi 225 buah turbin dari berbagai ukuran. Mulai dari 25 MW sampai 167 MW. Bahkan Iran sudah mulai ekspor turbin  ke Libanon, Syria dan Iraq. Bulan depan sudah pula mengekspor suku cadang turbin ke India. Bulan lalu pabrik turbin Iran ini merayakan produksi bladenya yang ke 80.000 buah!
Kesimpulan saya: inilah Negara Islam pertama yang mampu membuat turbin dan keseluruhan pembangkit listriknya. Saya dan rombongan PLN diberi kesempatan meninjau semua proses produksinya. Dari A sampai Z. Termasuk memasuki laboratorium metalurginya. Dengan kemampuannya ini, untuk urusan listrik, Iran bisa mandiri. Bahkan untuk pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik yang lama Iran tidak tergantung lagi ke pabrik asalnya. Mesin-mesin Siemen lama dari Jerman atau GE dari USA bisa dirawatnya sendiri. Iran sudah bisa memproduksi suku cadang untuk semua mesin pembangkit Siemen dan GE. Bahkan sudah dipercaya oleh Siemen untuk memasok ke negara lain. “Anak perusahaan kami sanggup melakukan pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan menggunakan suku cadang dari sini,” kata manajer di situ. Pabrik ini memiliki 32 anak perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor listrik. Termasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang pemeliharaan dan operasi pembangkitan.
Bisnis kelihatannya tetap bisnis. Saya tidak habis pikir bagaimana Iran tetap bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin dasar kelas satu buatan Eropa: Itali, Jerman, Swiss dan seterusnya. Saya juga tidak habis pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin ini bisa mendapatkan lisensi dari Siemen.
Rupanya meski Iran membenci Amerika dan sekutunya tapi tidak sampai membenci produk-produknya. Iran membenci Amerika hanya karena Amerika membantu Israel. Ini jauh dari bayangan saya sebelum datang ke Iran. Saya pikir Iran membenci apa pun yang datang dari Amerika. Ternyata tidak. Bahkan Coca-cola dijual secara luas di Iran. Demikian juga Pepsi dan Miranda. Belum lagi Gucci, Prada dan seterusnya.
Intinya: dengan diembargo oleh Amerika Serikat dan sekutunya, Iran hanya mengalami kesulitan pada tahun-tahun pertamanya. Kesulitan itu membuat Iran kepepet, bangkit dan mandiri. Kesulitan itu tidak sampai membuatnya miskin apalagi bangkrut. Justru Iran dipaksa menguasai beberapa teknologi yang semula menjadi ketergantungannya.
Banyaknya proyek yang sedang dikerjakan sekarang menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Iran terus berjalan. Mulai dari pengembangan bandara di mana-mana, pembangunan jalan layang sampai pun ke industri dasar. Tidak ketinggalan pula industri mobil.
Kegiatan ekonomi di Iran memang tidak gegap-gempita seperti Tiongkok, tapi tetap terasa menggeliat. Pertumbuhan ekonominya sudah bisa direncanakan 6 persen tahun ini. Mulai meningkat drastis dibanding tahun-tahun pertama sanksi ekonomi diberlakukan. “Sebelum ada sanksi ekonomi, Iran hanya mampu memproduksi 300.000 mobil setahun. Sekarang ini Iran memproduksi 1,5 juta mobil setahun,” ujar seorang CEO perusahaan terkemuka di Iran.
Kami mendarat di bandara internasional Imam Khomeini Teheran menjelang waktu shalat Jumat. Maka saya pun ingin segera ke masjid: sembahyang Jumat. Saya tahu tidak ada kampung di sekitar bandara ini. Dari atas terlihat bandara ini seperti benda jatuh di tengah gurun tandus yang maha luas. Tapi setidaknya pasti ada masjid di bandara itu.
Memang ada masjid di bandara itu tapi tidak dipakai sembahyang Jumat. Saya pun minta diantarkan ke desa atau kota kecil terdekat. Ternyata saya kecele. Di Iran tidak banyak tempat yang menyelenggarakan sembahyang Jumat. Bahkan di kota sebesar Teheran, ibukota negara dengan penduduk 16 juta orang itu, hanya ada satu tempat sembahyang Jumat. Itu pun bukan di masjid tapi di universitas Teheran. Dari bandara memerlukan waktu perjalanan 1 jam. Atau bisa juga ke kota suci Qum. Tapi jaraknya lebih jauh lagi. Di Negara Islam Iran, Jumatan hanya diselenggarakan di satu tempat saja di setiap kota besar.
“Jadi, tidak ada tempat Jumatan di bandara ini?,” tanya saya.
“Tidak ada. Kalau kita kita mau Jumatan harus ke Teheran (40 km)  atau ke Qum (70 km). Sampai di sana waktunya sudah lewat,” katanya.
Shalat Jumat ternyata memang tidak wajib di Negara Islam Iran yang menganut aliran Syiah itu. Juga tidak menggantikan shalat dzuhur. Jadi siapa pun yang shalat Jumat tetap harus shalat dzuhur.
Karena hari Jumat adalah hari libur, saya tidak dijadwalkan rapat atau meninjau proyek. Maka waktu setengah hari itu saya manfaatkan untuk ke kota suci Qum. Jalan toll-nya tidak terlalu mulus tapi sangat OK: enam jalur dan tarifnya hanya Rp 4000. Tarif itu kelihatannya memang hanya dimaksudkan untuk biaya pemeliharaan saja.
Sepanjang perjalanan ke Qum tidak terlihat apa pun. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya  gurun, gunung tandus dan jaringan listrik. Saya bayangkan alangkah enaknya membangun SUTET di Iran. Tidak ada urusan dengan penduduk. Alangkah kecilnya gangguan listrik karena tidak ada jaringan yang terkena pohon. Pohon begitu langka di sini.
Begitu juga letak kota suci Qum. Kota ini seperti berada di tengah-tengah padang yang tandus. Karena itu bangunan masjidnya yang amat besar, yang berada dalam satu komplek dengan madrasah yang juga besar, kelihatan sekali menonjol sejak dari jauh.
Tujuan utama kami tentu ke masjid itu. Inilah masjid yang luar biasa terkenalnya di kalangan ummat Islam Syiah. Kalau pemerintahan Iran dikontrol ketat oleh para mullah, di Qum inilah pusatnya mullah. Demokrasi di Iran memang demokrasi yang dikontrol oleh ulama. Presidennya sendiri dipilih secara demokratis untuk masa jabatan paling lama dua kali, tapi sang presiden harus taat kepada pemimpin tertinggi agama yang sekarang dipegang oleh Imam Khamenei. Siapa pun bisa mencalonkan diri sebagai presiden (tidak harus dari partai) tapi harus lolos seleksi oleh dewan ulama.
Tapi Sang Imam bukan seorang diktator mutlak. Dia dipilih secara demokratis oleh sebuah lembaga yang beranggotakan 85 mullah. Masing-masing mullah itu pun dipilih langsung secara demokratis oleh rakyat.
Dalam praktek sehari-hari ternyata tidak seseram yang kita bayangkan. Amat jarang lembaga keagamaan ini mengintervensi pemerintah. “Dalam lima tahun terakhir kita belum pernah mendengar campur tangan dari mullah ke pemerintah,” ujar seorang CEO perusahaan besar di Teheran.
Saya memang kaget melihat kehidupan sehari-hari di Iran, termasuk di kota suci Qum. Banyak sekali wanita yang mengendarai mobil. Tidak seperti di negara-negara di jazirah Arab yang wanitanya dilarang mengendarai mobil. Bahkan orang Iran  menilai negara yang melarang wanita mengendarai mobil dan melarang wanita memilih dalam pemilu bukanlah negara yang bisa menyebut dirinya Negara Islam.
Dan lihatlah cara wanita Iran berpakaian. Termasuk di kota suci Qum. Memang semua wanita diwajibkan memakai kerudung (termasuk wanita asing), tapi ya tidak lebih dari kerudung itu. Bukan jilbab, apalagi burqah. Kerudung itu menutup rapi kepala tapi boleh menyisakan bagian depan rambut mereka. Maka siapa pun bisa melihat mode bagian depan rambut wanita Iran. Ada yang dibuat modis sedikit keriting dan sedikit dijuntaikan keluar dari kerudung. Ada pula yang terlihat dibuat modis dengan cara mewarnai rambut mereka. Ada yang blonde, ada pula yang kemerah-merahan.
Bagaimana baju mereka? Pakaian atas wanita Iran umumnya juga sangat modis. Baju panjang sebatas lutut atau sampai ke mata kaki. Pakaian bawahnya hampir 100 persen celana panjang yang cukup ketat. Ada yang terbuat dari kain biasa tapi banyak juga yang celana jean. Dengan tampilan pakaian seperti itu, ditambah dengan tubuh mereka yang umumnya langsing, wanita Iran terlihat sangat modis. Apalagi, seperti kata orang Iran, dari 10 wanita Iran yang cantik adalah 11! Sedikit sekali saya melihat wanita Iran yang memakai burkah, itu pun tidak ada yang sampai menutup wajah.
Sampai ke kota Qum, sembahyang Jumatnya memang sudah selesai. Ribuan orang bubaran keluar dari masjid. Saya pun melawan arus masuk ke masjid melalui pintu  15. Setelah shalat dzuhur saya ikut ziarah ke makan Fatimah yang dikunjungi ribuan Jemaah itu. Makan ini letaknya di dalam masjid sehingga suasananya mengesankan seperti ziarah ke makan Rasulullah di masjid Nabawi. Apalagi banyak juga oarng yang kemudian shalat dan membaca Quran di dekat situ yang mengesankan orang seperti berada di Raudlah.
Yang juga menarik adalah strata sosialnya. Kota metropolitan Teheran dengan penduduk 16 juta dan dengan ukuran 50 km garis tengah adalah kota yang sangat besar. Sebanding dengan Jakarta dengan Jabotabeknya. Tapi tidak terlihat ada  keruwetan lalu-lintas di Teheran. Memang Teheran tidak memiliki kawasan yang cantik Jalan Thamrin-Sudirman namun sama sekali tidak terlihat ada kawasan kumuh seperti Pejompongan dan Bendungan Hilir.  Memang tidak banyak gedung-gedung pencakar langit yang cantik, tapi juga tidak terlihat gubuk dan bangunan kumuh.
Kota Teheran tidak memiliki bagian kota yang terlihat mewah, tapi juga tidak terlihat ada bagian kota yang miskin. Teheran bukan kota yang sangat bersih tapi juga tidak terasa kotor. Di jalan-jalan yang penuh dengan mobil itu saya tidak melihat ada Mercy mewah apalagi Ferrari, tapi juga tidak ada bajaj, motor atau mobil kelas 600 sampai 1.000 cc. Lebih 90% mobil yang memenuhi jalan adalah sedan kelas 1.500 sampai 2.000 cc. Saya tidak melihat ada mall-mall yang besar di Teheran, tapi saya juga sama sekali tidak melihat ada pedagang kaki lima, apalagi pengemis. Wanitanya juga tidak ada yang sampai pakai burqah, tapi juga tidak ada yang berpakaian merangsang. Orangnya rata-rata juga ramah dan sopan. Baik dalam sikap maupun kata-kata.
Pemerataan pembangunan terasa sekali berhasil diwujudkan di Iran. Semua rumah bisa masak dengan gas yang dialirkan melalui pipa tersentral. Demikian juga 99% rumah di Iran menikmati listrik –untuk tidak menyebutkan 100%.
Melihat Iran seperti itu saya jadi teringat makna kata yang ditempatkan di bagian paling tengah-tengah al Quran: Wal Yatalaththaf!
Bagaimana Iran ke depan? Mengapa setelah lebih 20 tahun diisolasi dan diembargo Amerika Serikat Iran tidak kolaps seperti Burma, Korut atau Kuba?
Banyak faktor yang melatar belakanginya. Pertama, saat mulai diisolasi dulu kondisi Iran sudah cukup maju. Kedua, tradisi keilmuan bangsa Iran termasuk yang terbaik di dunia. Ketiga, Iran penghasil minyak dan gas yang sangat besar. Keempat, jumlah penduduk Iran cukup besar untuk bisa mengembangkan ekonomi domestic. Kelima, tradisi dagang masyarakat Iran sudah terkenal dengan golongan bazarinya.
Tradisi dagang itu tidak mudah dikalahkan. Pedagang selalu bisa berkelit dari kesulitan. Ini berbeda dengan tradisi agraris. Seperti Tiongkok, meski 60 tahun dikungkung oleh komunisme Mao Zedong yang kaku, penduduknya tetap tidak lupa kebiasaan dagang. Demikian juga warga Iran. Ini terbukti sampai sekarang pun. Setelah lebih 20 tahun diisolasi pun sektor jasa masih menyumbang sampai 40% GDP negara itu.
Penduduk Iran yang 75 juta orang juga menjadi kekuatan ekonomi tersendiri. Apalagi saat mulai diisolasi oleh Amerika tahun 80-an, kondisi Iran sudah tidak tergolong negara miskin. Kelas menengah di Iran sangat dominan. Inilah factor yang dulu membuat revolusi Islam Iran tahun 1979 berhasil menumbangkan diktator Syah Pahlevi. Keberhasilan itu disebabkan  masyarakat di Iran didominasi kaum bazari. Pedagang kelas menengah. Yakni bukan konglomerat yang ketakutan ditebas penguasa, dan bukan pedagang kecil yang takut kehilangan tempat bergantung.
Belum lagi kekayaan alamnya. Iran adalah negara kedua terbesar penghasil minyak dan gas alam. Bukan hanya memiliki cadangan besar, tapi juga mampu melakukan drilling dan pengolahan sendiri. Tidak ada lagi ketergantungan akan teknologi  drilling dan pengolahan.
Salah satu sumber gasnya, yang baru saja ditemukan, akan membuat negara itu kian berkibar. Di lepas pantainya, di Teluk Parsi, ditemukan ladang gas terbesar di dunia. Ladang itu setengahnya berada di wilayah Qatar dan setengahnya lagi di wilayah Iran.  Tahun 1999 lalu Qatar sudah berhasil menyedot gas bawah laut itu dari wilayah Qatar. Kalau Iran tidak menyedotnya dari wilayah Iran tentu semua gas itu akan disedot Qatar. Karena itu Iran juga bergegas menyedotnya dari sisi timur. Tahun 2003 lalu Iran sudah berhasil menyedot gas itu dan akan terus meningkatkan sedotannya. “Tiga tahun lagi kemampuan Iran menyedot gas itu sudah sama dengan Qatar,” ujar CEO perusahaan gas di sana.
Untuk menggambarkan seberapa besar potensi gas itu baiknya dikutip kata-kata CEO yang saya temui di atas. “Seluruh gas Iran di situ harganya USD 12 triliun,” katanya. Ini sama dengan 12 kali seluruh kekuatan ekonomi Indonesia yang USD 1 triliun saat ini. “Kalau gas itu diambil dalam skala seperti sekarang baru akan habis dalam 200 tahun,” tambahnya.
Gas itu letaknya memang 3.000 meter di bawah laut, namun dalamnya laut sendiri hanya 50 meter. Secara teknis ini jauh lebih mudah pengambilan gasnya daripada misalnya gas bawah laut Indonesia di Masela, di laut Maluku Tenggara.
Memang masih ada kendala ekonomi yang mendasar. Defisit anggaran masih menghantui, subsidi masih besar, laju inflasi masih tinggi dan akses perdagangannya masih  terjepit oleh sanksi Amerika. Inflasi yang tinggi itu akibat naiknya harga bahan makanan, gas dan BBM. Bahkan akibat inflasi itu Iran harus mencetak mata uang dengan pecahan lebih besar dari rupiah. Kalau pecahan rupiah paling besar Rp 100.000, real Iran terbesar adalah 500.000 real (1 real hampir sama dengan Rp 1). Bahkan ada juga real lembaran 1.000.000, meski penggunaannya hanya di lingkungan terbatas.
Seperti Indonesia, Iran juga merencanakan menghapus empat nol di belakang real yang terlalu panjang itu. Hanya saja penghapusan nol tersebut baru akan dilakukan setelah inflasinya stabil kelak. Itulah sebabnya pemerintah Iran kini mati-matian  memperbaiki fondasi ekonominya. Tahun lalu parlemen Iran sudah menyetujui dilaksanakannya “reformasi ekonomi”. Sebuah reformasi yang sangat penting dan mendasar. Inti dari reformasi itu adalah menjadikan ekonomi Iran sebagai “ekonomi pasar”. Artinya harga-harga harus ditentukan oleh pasar. Tidak boleh lagi ada subsidi. Reformasi ekonomi itu ditargetkan harus berhasil dalam lima tahun ke depan.
Begitu pentingnya reformasi untuk meletakkan dasar-dasar ekonomi Iran itu, sampai-sampai Presiden Ahmadinejad berani mengambil resiko dihujat dan dibenci rakyatnya dua tahun terakhir ini. Subsidi pun dia hapus. Harga-harga merangkak naik. Ahmadinejad tidak takut tidak popular karena ini memang sudah masa jabatannya yang kedua, yang tidak mungkin bisa maju lagi jadi presiden.
Bahwa kini Iran memilih jalan ekonomi pasar sungguh mengejutkan. Alasannya pun “sangat ekonomi”: untuk meningkatkan produktivitas nasional dan keadilan sosial. Subsidi (subsidi BBM tahun lalu mencapai USD 84 juta), menurut pemerintah, lebih banyak jatuh kepada orang kaya. Karena itu daripada anggaran dialokasikan untuk subsidi lebih baik langsung diarahkan untuk golongan yang berhak.
Pemikiran reformasi ekonomi seperti itulah yang tidak ada di negara-negara lain yang diisolasi Amerika Serikat. Inilah juga faktor yang membuat Iran tidak akan tertinggal seperti Burma, Kuba atau Libya. Dengan bendera sebagai Negara Islam pun Iran tetap menjunjung tinggi ilmu ekonomi yang benar. Tradisi keilmuan di Iran, termasuk ilmu ekonomi, memang sudah tinggi sejak zaman awal peradaban. Inilah salah satu bangsa tertua di dunia dengan peradaban Arya yang tinggi.
Dalam situasi terjepit sekarang pun, tradisi keilmuan itu tetap menonjol. Iran kini tercatat sebagai satu di antara 15 negara yang mampu mengembangkan nanoteknologi. Iran juga termasuk 10 negara yang mampu membuat dan meluncurkan sendiri roket luar angkasa.
Di bidang rekayasa kesehatan, Iran juga menonjol: teknologi stemcell, kloning dan jantung buatan sudah sangat dikenal di dunia. Bahkan untuk stemcell Iran masuk 10 besar dunia.
Maka tidak heran kalau Iran juga tidak ketinggalan dalam penguasaan teknologi perminyakan, pembangkit listrik dan otomotif. Jangankan jenis teknologi itu, nuklir pun Iran sudah bisa membuat, lengkap dengan kemampuannya memproduksi uranium hexaflourade yang selama ini hanya dimiliki oleh enam negara.
AS kelihatannya berhasil membuat Burma, Korut, Kuba dan Libya menderita dengan embargonya. Tapi tidak untuk Iran. Ke depan posisi Iran justru kian baik, antara lain karena “dibantu” oleh Amerika Serikat sendiri. Sudah lama Iran ingin menumbangkan Saddam Husein di Iraq, namun selalu gagal. Perang Iran-Iraq yang sampai 8 tahun pun tidak berhasil mengalahkan Saddam Husein. Iran tidak menyangka bahwa Saddam dengan mudah ditumbangkan oleh AS.
Dengan tumbangnya Saddam Husein maka Iraq kini dikuasai oleh para pemimpin yang hati mereka memihak Iran. Banyak pemimpin Iraq saat ini adalah mereka yang di masa Saddam dulu terusir ke luar negeri, dan mereka bersembunyi di Iran. Bahkan saat terjadi perang Iran-Iraq dulu, mereka ikut angkat senjata bersama tentara Iran menyerbu Iraq.
Demokrasi yang diperjuangkan AS di Iraq telah membuat golongan mayoritas berkuasa di Iraq. Padahal mayoritas rakyat Iraq adalah Islam Syi’ah. Golongan Sunni hanya 40 persen, itu pun tidak utuh. Yang separo adalah keturunan Arab sedang separo lagi keturunan Kurdi. Ada kecenderungan keturunan Kurdi memilih berkoalisi dengan Syi’ah. Padahal yang golongan Arab itu pun masih juga terpecah-pecah ke dalam berbagai kabilah. Saddam Husein, misalnya, datang dari suku Tikrit yang jumlahnya hanya sekitar 10% dari penduduk Iraq.
Dengan gambaran seperti itu maka masa depan hubungan Iran dan Iraq tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjadi amat mesra. Waktu yang tepat itu adalah ini: mundurnya AS 100% dari Iraq. Dan itu tidak akan lama lagi. Pekan lalu pimpinan Iraq sudah mengatakan “Iraq hanya perlu bantuan militer untuk menjaga perbatasan, bukan untuk urusan dalam negeri”.
Maka tidak lama lagi Iraq akan menjadi “negara ketiga” yang akan mengalirkan barang dari dan ke Iran. Dan kalau ini terjadi, masih ada gunanyakah Iran diisolasi?

Dahlan Iskan
CEO PLN

Selasa, 18 Maret 2014

Profile PMUTDM




Nama : Pesantren Modern Unggulan Terpadu DARUL MURSYID (PDM)
Alamat : Sidapdap-Simanosor Julu – Kec. Saipar Dolok Hole – Kab. Tapanuli Selatan – Sumatera Utara – Indonesia
Kode Pos : 22758
Telp : 0813 9734 0000
MTs Hotline : 0821 6682 0000
MTs SMS Hotline : 0823 6655 5520
DIBAWAH ASUHAN/PENGELOLA :
YAYASAN PENDIDIKAN HAJI IHUTAN RITONGA (YASPENHIR)
Jl. Sei Musi No. 11 Medan – Sumatera Utara – Indonesia
Telp / Fax : (061) 4574 589
E-mail : jasari@idola.net.id
 Kota santri di lembah Dolok Suanon Tapanuli Selatan
Di puncak pegunungan di desa Simanosor Julu, Kecamatan Saipar Dolok Hole, Kabupaten Tapanuli Selatan terdapat sebuah pesantren yang bernama Darul Mursyid. Komplek Pesantren Darul Mursyid membentuk sebuah kota santri modern yang nyaman dengan pemandangan dikelilingi pegunungan. Kota santri yang sejuk dan jauh dari kebisingan serta polusi kota, sehingga menciptakan suasana yang kondusif bagi santri untuk menuntut ilmunya. Kota santri yang tak diduga orang keberadaaannya bila belum pernah memasukinya. Kota santri dengan segala kelengkapan sarana pendidikan dan fasilitas pendukungnya. Pesantren Darul Mursyid (PDM) terletak di ketinggian + 700 meter dari permukaan laut di areal + 15 ha.
Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid adalah sebuah pesantren dengan konsep modern yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai aqidah Islami. Modernisasi dalam fasilitas dan metode pendidikan untuk membentuk generasi-generasi masa depan dengan segala tantangan masa depan yang modern, namun mampu menghadapinya secara mandiri dengan bekal kemampuan intelektual dan aqidah Islami yang mantap.
Pesantren Modern Unggulan Terpadu “Darul Mursyid” (PDM) didirikan di Desa Simanosor Julu Kec. SD. Hole Kab. Tapsel oleh Yayasan Pendidikan Haji Ihutan Ritonga (Yaspenhir) sebagai Pemilik sekaligus Badan Pengelola-nya dengan Ketua Umum pertama sekaligus pendirinya adalah Alm. Drs. H. Ihutan Ritonga. PDM mulai beroperasi pada TP. 1993/1994 dengan jumlah alumni s/d Angkatan IX thn 2007 sebanyak + 400 orang.
PDM ini didirikan dengan motif sosial (social oriented) artinya tidak mencari keuntungan, tetapi ditujukan semata-mata untuk kemaslahatan umat Islam. Hal ini dapat dibuktikan dengan tidak adanya sedikitpun Yaspenhir mengambil keuntungan dari operasional PDM, bahkan pengurus Yaspenhir termasuk Ketua Umum tidak menerima gaji / upah dari PDM. Seluruh keuntungan operasional PDM akan digunakan semata-mata untuk peningkatan mutu pendidikan dan kesejahteraan seluruh personil PDM.
PDM ini adalah sekolah prestasi, bukan sekolah pembinaan. Ini dibuktikan dengan adanya seleksi masuk untuk calon santri dan pembatasan jumlah total santri Tsawiyah dan Aliyah yang dibina pada setiap tahunnya tidak akan melebihi 1.000 orang.
Adapun makna dan arti dari nama Pesantren Modern Unggulan Terpadu “Darul Mursyid” adalah :
  • Modern : terbuka terhadap perkembangan dan pembaharuan yang sifatnya positif
  • Unggulan : Setiap elemen harus memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage)
  • Terpadu : Pendidikannya terintegrasi mulai dari tingkat Tsanawiyah sampai ke Aliyah
PDM ini dikelola dengan  prinsip-prinsip manajemen modern, ini dapat dibuktikan dari beberapa hal yaitu :
  • Pemilihan personil dilakukan secara objektif (jauh dari KKN); untuk Direktur dilakukan melalui proses fit and proper test dan untuk guru melalui beberapa tahapan test yang dilakukan oleh Tim Micro-Teaching. Ketua Umum Yaspenhir tidak bisa mencampuri keputusan tentang penentuan hal ini.
  • Adanya struktur organisasi yang jelas, baik untuk Yaspenhir maupun PDM
  • Adanya pemisahan dan pembagian tugas yang jelas antara Yaspenhir selaku Pemilik / Badan Pengelola dengan PDM selaku Badan Pelaksana Operasional dan adanya deskripsi pekerjaan yang jelas untuk tiap personil PDM
  • Tugas Yaspenhir adalah (hanya) untuk menentukan garis besar, arah, dan pedoman umum tentang PDM serta melakukan audit rutin atas kinerja Direktur PDM, sementara Direktur PDM sebagai penguasa tertinggi untuk operasional diberikan wewenang penuh untuk menentukan kebijakan-kebijakan operasional PDM
  • Setiap personil PDM mendapat kesempatan yang sama untuk berkembang dan mendapatkan promosi, misalnya yang menjabat Kepala Madrasah tidak harus berlatarbelakang IAIN atau Pesantren, bisa saja dari dari sekolah umum
  • Ada 2 (dua) institusi yang ada di lingkungan PDM dengan fokus yang berbeda sehingga bisa dikonsentransikan untuk mencapai tujuannya masing-masing, yaitu: PDM sendiri dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan Kelompok Usaha Darul Mursyid (KUDM) dibawah pimpinan seorang Manager yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi PDM dengan mengelola kegiatan-kegiatan bisnis di dalam maupun luar lingkungan PDM misalnya Dapur Umum, Toserba, Kilang Padi, dan Wartel. Kedua institusi ini berada dibawah kontrol Direktur PDM
  • Yaspenhir tidak memiliki bisnis dan tidak ada sedikitpun mencampuri kegiatan-kegiatan bisnis yang ada di KUDM
  • Adanya rencana yang jelas dari Yaspenhir untuk membuat PDM kelak “go public” dan menjadi milik umat agar adanya kepastian tentang keberadaan (eksistensi) PDM sampai kapanpun juga
  • Netral dan bebas dari pengaruh-pengaruh politik dalam bentuk apapun juga

Rabu, 12 Maret 2014

R.I.P Erian Faturrahman Hutapea


Saya tak dapat berbuata banyak untuk ikut berada disisimu dalam acara hari pemakamanmu karna saya juga jauh merantau sepertimu, saya tak dapat berbuat apa apa kecuali mengingat kembali dan mengingat waktu dimana kita masih bersama dalam  menjalankan kegiatan keseharian kita , senasib dan se penanggungan kita dahulu  serta masalah yang sama sama kita hadapi untuk bisa survive dan senang dalam itu sendiri di Pesantren Darul mursyid yang sudah hampir luput dariku, secara perlahan aku sudah semakin di jauhkan dari penjara suci itu teman , semakin hari akau semakin di buat jauh  dari penjara suci itu teman , tempat kita  mulai saling mengenal satu sama lain dan berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik.
            Tempat dimana orang dari berbagai penjuru indonesia berkumpul demi tujuan yang sama belajar dan bermain  mengenal satu sama salinnya , dan untuk meraih cita kita masing masing masing yang berbeda namun sangat mulia. Dan aku sangat merindukan itu untuk kembali teman! Aku sudah bosan dengan keadaan yang tak terkontrol ini lagai  tanpa ada aturan memang kita tak akan merasakan tantangan  yang berarti seperti waktu dahulu kita di Pesantren .
            Aku masih sangat ingat  masa-masa berat kita dahulu ketika kita  berontak bersama  untuk melawan  guru atau pegawai yang selalu  membuat kita gelisah, atau waktu kita di hukum dan di permalukan keliling masjid  karna bermain olahraga di waktu hujan dan melanggar batas waktu yang sudah di tentukan , dan yang paling saya ingat adalah waktu dimana kita mencuri durian di kebun bawah asrama  dan ketahuan waktu itu namun kita msih sempat untuk melarikan diri .
            Aku akan selalu mengingat waktu itu, dan mungkin kamu juga pasti mengingatnya teman , dan aku masih sangat menginginkan pertemuan kita kembali  dan merivew rivew cerita kita dahulu   dan saling memberi masukan dan kritikan , bahkan memang kritikan itulah yang paling banyak kita utarakan tanpa memikir perasaan kita masing masing, kesetiakawanan yang harus dijaga memang membuat kita bosan , namun jika kita pikirkan lebih lanjut memang itu sangat jauh maknanya , kita memang berasal dari keluarga yang berbedabeda , berbeda ekonomi , dan keadaan orang tua kita ,  namun dengan bigitu kita bisa berpikir bahwa saling berbagi pernderitaan itu sangat  nikmat rasanya jika  kita mengingat itu sekarang,  meski jika di waktu itu  ,itu sangat menyakitkan .
            Aku tak tau mengapa kau pergi secepat ini kawan , aku tak tau mengapa kau yagng baik itu lebih dulu pergi di banding kami ini yang lebih bejat dikit dari kamu . Tapi inilah hidup kawan  kita tak tau qodar dan qodir kita ,kapan kita akan kembali kepada sang Pencipta  ,namun di balik semua ini pasti ada makna dan pelajaran yang bisa kami pelajari dari kepergianmu kawan , dan mungkin ini juga teguran buat kami agar kami  selalau mengingat sang pencipta .
            Percayalah kawan kami akan selalu mengingat kenangan Pahit dan Indah itu saat bersamamu ,karna  kenangan Indah itu tidak ada tanpa kenangan pahit . dan percaya atau tidak saat menulis ini aku tak sedikit meneteskan air mata dan merenung kembali saat itu , dan luka di hati  temanmu ini, dan  sekali lagi kawan pasti ada makna dan alasan dari Allah  dalam peristiwa ini. Nama mu akan selalu kami kenang untuk anak dan cucu kami kelak ,Selamat jalan kawan  dan damai disisinya
  

Kamis, 06 Maret 2014

Masa masa Membara yang membunuh Tuannya



Masa-masa ini harusnya masa masa paling menenutkan bagi seorang mahasiswa  yang akan menyelesaikan perkuliahannya, masa masaini adalah masa yang kritis bagi  seorang mahasiswa akan berkobar kobar mencari mangsa untuk di hantam dan di kibuli baik  itu tentang kebenaran bahkan kesalahan yang di belanya  demi menunjukkan eksistensi seorang mahasiswa yang memiliki pandangan berbeda dengan lawannya dan berpikiran bahawa ialah yang benar dan yan salah adalah adalah mereka.
                Masa masa ini adalah masa yang sangat menentukan , dalam artian setiap mahasiswa sudah tau  dan sudah mempersiapakan  diri ke arahmana ia akan melangkah setelah selesai dari kampusnya , dan setelah itu apa yang harus di kerjakannya, begitulah seharusnya dan memang harus begitulah adanya. Setelah saya bahas dan kaji dalam dalam apa yang sudah saya punya dan apa yang akan saya lakukkan setelah itu  saya tidak menemukan dan keinginan itu dalam diri saya , padahal saya merupakan seoran mahasiswa yang sangat visioner menurut saya dan memiliki banyak mimpi untuk di capai di kemudian hari ,namun nyatanya mimpi itu satu persatu runtuh dan menimpa ku di dalamnya sehingga saya tak dapat bernuat apa apa untuk bergerak ke arahmana untuk menghindari runtuhan ataupun menopang mimpi mana yang akan saya pertahankan untuk tujuan itu .
                Satu persatu mimpi itu malah menjadi pedang tajam yang menusuk  tuannya sendiri dari depan mata sang tuan dan yang anehnya sang tuan pemilik pedang itu tak dapat mengendalikan pedangnya sendiri sehingga ia mati perlahan di tusuk pedangnya sendiri . begitulah kira kira yang terjadi pada diriku ini yang  sudah kehilangan sofpawer  dalam diri , suatu semangat dan soul itu .
                Jiwa dan raga ini sudah pudar dengan kehidupan yang secara perlahan mengikis ngikis jiwa yang kuat itu ,entah apa penangkal yang harussaya lakukkan agar paling tidaknya tidak semua  jiwa ini terhapus dari diri saya ini , paling tidaknya saya harusbangkit dan memupuk kembali kekuatan jiwa ini  agar tumbuh dan  berjalankembali seperti  biasanya , agar ia ada kembali untuk membangkitkan  birahi akan  mimpi yang mulai runtuh dari diri ini .,
ALLAH HANYA KAULAH JALANKU DAN HANYA KEPADAMULAH SAYA MENGABDI DAN SAYA AKAN KEMBALI

Fase kehidupan seorang Zainul dongoran

hidup ini penuh tantangan , tantangan dan perubahan bagi manusia itu sendiri dan pase-pase yang pasti akan dia lewati selama ia masih ada di dunia ini. seperti halnya hari hari yang kita lewati  sejak pagi siang sore malam  dna itu selih berganti , seperti yang di sampaikan Pak Amien Rais  bahwa manusia itu memiliki fase fase dalam hidupnya seperti  Subuh yang mengawali hari  luhur , ketika matahari sudah  di atas kepala yang mengakibatkan panas dan terik yang di keluarkannya untuk bumi ini ,setelah itu  sore  menjelang malam , sore di mana matahari sudah mulai akan menjauhi bumi yang di teranginya  hingga akhirnya  malam  ketika matahari sudah tidak lagi menerangi bumi
       begitu juga dengan manusia  yang di bagi dengan fase-fase yang sudah di atur untuk menggapai semua  impian dan tujuan,  lahir , identik dengan belajar masa, masa untuk memulai dan beradaptasi dan  dan pembentukan karakter  dan aku sudah melewati fase ini  dan sekarang fase itu sudah di fase kedua dimana fase ini fase belajar dan memanfaatkan apa yang kita pelajari itu , masa ini masa paling mudah sekaligus masa paling sulit karna disini kita akan di junjung untuk tidak lagi tergantung dan terbebani kepada orang tua saya yang membesarkan saya  dan di fase ini saya sudah harus mengetahui jati diri dan karakter yang harus di buang dan di pertahankan dari pelajaran yang sudah saya pelajari selama ini
       fase ini adalah fase di mana seekor ulat akan berubah menjadi kupu kupu cantik atau kupu yang  tidak jadi ,gagal  berkembang ,  fase ini juga fase tersulit untuk  tidak lagi harus saling tergantung pada ibu dan orang tua dari segi moral dan adat yang berlaku ., Dan aku saat ini akan melangkah ke fase ini  fase di mana semua kan berubah total dari model awalnya , fase di mana hidup baru akan saya hadapi dengan lapang dada .,

Selasa, 04 Maret 2014

Al-Fatih Dalam Penaklukan Konstantinopel

Al-Fatih Dalam Penaklukan Konstantinopel

Qiyamul lail, shalat tahajud, inilah senjata utama Muhammad Al Fatih dalam mengarungi kehidupan di dunia yang fana ini. Inilah Pedang Malam, yang selalu diasahnya dengan tulus ikhlas dan khusuk, ditegakkan setiap malam. Dengan pedang malam ini timbul energi yang luar biasa dari pasukan Muhammad Al Fatih. Sjarah mencatat Muhammad Al Fatih yang baru berusia 21 tahun berhasil menggapai sukses besar, menerobos benteng Konstantinopel,setelah dikepung beberapa bulan maka takluklah Konstantinopel.

Suatu hari timbul soal ketika pasukan islam hendak melaksanakan shalat jum’at yang pertama kali di kota itu.

“Siapakah yang layak menjadi imam shalat jum’at?” tak ada jawaban. Tak ada yang berani yang menawarkan diri ! lalu Muhammad Al Fatih tegak berdiri. Beliau meminta kepada seluruh rakyatnya untuk bangun berdiri.

Kemudian beliau bertanya. “ Siapakah diantara kalian yang sejak remaja, sejak akhil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan meninggalkan shalat wajin lima waktu, silakan duduk!!” Subhanalloh……!!! Maha suci Allah ! tak seorangpun pasukan islam yang duduk. Semua tegak berdiri. Apa artinya? Itu berarti, tentara islam pimpinan Muhammad Al Fatih sejak masa remaja mereka hingga hari ini, tak seorangpun yang meninggalkan shalat fardhu. Tak sekalipun mereka melalaikan shalat fardhu. Luar biasa…..!!!!! !

Lalu Muhammad Al Fatih kembali bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak baligh dahulu hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunah sekali saja silakan duduk!!!”. Sebagian lainya segera duduk. Artinya, pasuka islam sejak remaja mereka ada yang teguh hati, tidak pernah meninggalkan shalat sunah setelah maghrib, dua roka’at sebelu shubuh dan shalat rowatib lainaya. Namun ada yang pernah meninggalkanya.Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur, pasukan islam Al Fatih.

Dengan mengedarkan matanya ke seluruh rakyat dan pasukanya Muammad Al Fatih kembali berseru lalu bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak masa akhil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!!”

Apa yang terjadi…???? Terlukislah pemandangan yang menakjubkan sejarawan barat dan timur. Semua yang hadir dengan cepat duduk!!” Hanya ada seorang saja yang tetap tegak berdiri. Siapakah dia??? dialah, Sultan Muhammad Al Fatih, sang penakluk benteng super power Byzantium Konstantinopel.Beliaulah yang pantas menjadi imam shalat jumat hari itu. Karena hanya Al Fatih seorang yang sejak remaja selalu mengisi butir-butir malam sunyinya dengan bersujud kepada Allah SWT, tidak pernah kosong/absen semalampun.

Dalam sejarah ditulis, bahwa pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M. Di hadapan tentaranya, Sulthan Al-Fatih lebih dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah Subhana Wa Ta'ala. Dia juga membacakan ayat-ayat Al-Qur'an mengenainya serta hadis Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang pembukaan kota Konstantinopel.Ini semua memberikan semangat yang tinggi pada bala tentera dan lantas mereka menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Subhanallah.. Allahu Akbar..!!!