Rabu, 09 Oktober 2013

Berilah aku jalan terbaikmu ya ALLAH

syukur ya Allah masih kau berikan kepada hamba  mencicipi nikmat yang senantiasa  kau berikan kepada hamba  dan saya pasti tidak dapat menebus atas semua nikmat yang telah  kau berikan kepada hamba  kecuali hanya bertekuk lutut,,bersipuh manja, dan menangis  di hadapanmu meminta maaf atas segala perbuatan  yang telah aku lakukan  dan itu bertentangan dengan  norma kehidupan yang telah kau atur  sedemikian  rapi di muka bumi ini sebab hanya engkaulah maha pencipta atas apa yang ada  di dunia ini untuk dapat kami nikmati dan rasakan  dan hanya engkaulah  yang maha pengasih dan maha penyayang  yang mana  setiap  hambamu ini  akan selalau mencari cinta dan kasihnya dan  kebanyakan dari kami  menafsirkan cinta itu  hanya  sebatas  relasi sesama manusia  dan tidak mengikutkan peranmu di dalamnya tentu ini sangat  bertentangan  dengan ayat ayat yang telah kau turunkan kepa Rasulmu  untuk selalu  berpegang  teguh akan  Qur'an dan Hadist.
    ya Allah tunjukkanlah kepada hamba petunjukmu dan berilah kepada hamba jalan  dimana  jalan itu  akan bermuara di  tempat yang kau ridhoi akhirnya sebab  sebaik-baik  kami adalah  hanya orang yang  mendapat pengampunanmu dan ridomu di hari akhir kelak . 

Senin, 07 Oktober 2013

Gadis itu

Gadis itu cantik. Berkulit putih. Berwajah manis. Tubuh yang tinggi semampai. Cocok sekali menjadi gadis sampul atau sejenisnya. Dulunya dia seorang gadis yang “agak bandel”, melawan perkataan orangtua, sering berbohong, sering pacaran, mengenakan pakainan yang tidak seharusnya, dan perilaku yang tidak sesuai ajaran agama Islam. Tapi itu duluuu..
Sekarang dia berubah menjadi gadis yang begitu mulia. Tutur katanya yang menyejukkan. Sopan santunnya. Cara berpakaiannya, dengan jilbab dan khimar. Semua kelakuannya berlandaskan syaria’t Islam. Aku sangat kagum dengan sosok gadis itu. Dia sangat mempesona. Jika seorang wanita muslim melihat dia, atau hanya baru mengenal dia. Pasti hati nuraninya memiliki keinginan untuk menjadi seorang muslimah seperti gadis itu. Aku sendiri pun berkeinginan menjadi muslimah seperti dia.
Aku dan gadis itu begitu dekat. Kami bersaudara, walaupun tidak sedarah. Dari kecil kami selalu bermain bersama. Bila ada hari libur, biasanya aku menginap di rumahnya atau dia menginap di rumahku. Kami begitu kompak. Terkadang kami berantem, tetapi nanti baikan sendiri. Kami main lagi. Tertawa bersama, menangis bersama, kemana-mana bersama.
Tetapi seiring dengan perputaran waktu. Kami tumbuh menjadi gadis remaja. Dulu waktu gadis itu dan aku masih berada dalam masa jahiliyah (read: nakal) kami masih tetap bersama. Berbagi kisah, berbagi canda, berbagi tawa, dan berbagi tangis. Namun, ketika gadis itu harus pindah ke tempat yang lebih aman dalam pergaulan. Dia dipindahkan sekolah oleh kedua orangtuanya. Gadis itu harus pindah ke sekolah yang berbasis Islam. Dan di sana juga harus menginap di asramanya. Aku merasa kehilangan sosok kawan plus sahabat terdekatku. Tapi aku memakluminya, karena mungkin ini yang terbaik untuk menyelamatkan akidahnya.
Aku juga merasa ada yang tidak beres dalam dirinya ketika masih bersekolah di sekolah yang dulu. Waktu itu aku sudah sedikit memahami agama yang aku anut dari lahir. Mungkin karena ingin menyelamatkan aqidah gadis itu makanya kedua orangtuanya memindahkan sekolah gadis itu.
Awal-awal dia berada di sekolah yang baru, hubunganku dengan gadis itu baik-baik saja. Masih seperti dulu. Aku juga bersyukur dengan perubahan fisik yang ada pada dirinya. Pakaiannya. Dan cara berbicaranya. Namun lama-kelamaan aku merasa hubungan kami semakin longgar. Dia lebih suka menghabiskan waktu liburnya bersama kawan-kawan barunya. Aku merasa seakan aku ‘dibuang’. Ketika aku ikut bergabung, bermain bersama kawan barunya, aku merasa dihiraukan. Entahlah… apakah ini hanya perasaanku saja.
Tapi aku rindu. Rindu akan suasana keakrabanku dengan gadis itu. Tawa bersama. Kisah bersama. Tangis bersama… aku ingin bercerita lagi tentang kehidupanku dengannya. Karena aku pikir dia yang memahamiku. Namun, ketika aku ingin bercerita, dia tak ada waktu luang lagi untukku. Jika ada, dia tak dengarkan sepenuhnya. Sedih? Aku sangat sedih sekali. Mendapat perlakuan dari saudara yang aku sayangi seperti itu.
Ya Allah… tunjukkan dimana letak kesalahan hamba. Hamba ingin bersamanya lagi seperti dulu, bagi kisah, tawa, canda, dan tangis. Aku memang bangga dengan perubahannya yang sekarang. Tapi kenapa hubungan kami yang dulu akrab tidak ada lagi. Ya Allah… maafkanlah jika hamba mempunyai kesalahan dalam berprasangka. Tapi hamba hanya ingin seperti dulu. Keakraban kami, kehangatan kami bersama. Aamiin..

Selamat pagi GURUKU

Jam 7.45 WIB ku lihat seorang lelaki tua yang belum terlihat tua berjalan gagah penuh semangat di jalanan desa. Dengan baju rapih dan rambut klimisnya, tidak lupa dengan parfumnya yang menyengat bahkan ketika dia sudah berlalu bau parfum itu masih tercium jelas.
Pak Sari nama lelaki itu, seorang guru SD yang sudah berpuluhan tahun mengajar di SDN Darussalam Kota Tangerang dekat rumahku.
Perjalanan yang lumayan jauh ditempuhnya berjalan kaki dengan semangat menyapa setiap orang yang dilaluinya dengan senyum ramahnya. Padahal umur sudah tidak memungkinkan untuk itu. Tapi semangat mengalahkan usia tuanya untuk tetap mengajar para siswanya.
Aku Kiki siswi yang pernah sekolah disana lebih tepatnya alumni SDN Darussalam Kota Tangerang. Kira-kira sudah 6 tahun aku lulus sekolah SD dan sekarang aku sudah tamat sekolah SMK di 2013 ini.
Bertahun-tahun lamanya pak Sari belum terlihat perubahan darinya. Tetap tegas, gagah, semangat dan bau parfumnya yang menyengat itu :D juga terkadang dengan guyonan khasnya.
Dan sudah selama itu juga aku tidak pernah masuk ke sekolah itu lagi yang sudah berubah 100% dari 6 tahun lalu. Dan tanggal 15 Juli 2013 ini aku masuk kesana mengantarkan adikku Sevi yang duduk di kelas 2.
Kuperhatikan guru-guru disana banyak yang tidak ku kenal. Perhatianku tertuju pada satu guru yang kuceritakan di atas.
Pak Sari dengan wajah ceria tapi tetap gagah berbicara di depan murid-muridnya yang berbaris di lapangan. Pak Sari menjelaskan tentang kelas baru mereka karena hari itu adalah tahun ajaran baru.
Aku coba membandingkan pak Sari dengan guru-guru yang lebih muda disana tapi tetap saja yang lebih beraura adalah pak Sari bakan yang lain terkesan biasa saja.
Semoga sosok pak Sari bisa menjadi inspiratif bagi guru-guru yang lain dan remaja seperti aku :).
THE END
Cerpen Karangan: Nurhikmah Hakiki
Facebook: Nurhikmahhakiki[-at-]yahoo.com

Kolak pelangi dan sholat Dhuha

Ramadhan pasti identik dengan pasar dadakan. Di antara kerumunan pedagang yang jumlahnya puluhan itu, terlihat seorang gadis bersama ibunya sedang berjualan kolak. Namanya Aisyah. Sekarang Aisyah dan ibunya menjadi pedagang takjil dadakan. Namun tidak setiap hari dagangan mereka habis terjual.

Suatu hari timbul pertanyaan di benak Aisyah.
“Bu, kenapa kolak itu warnanya selalu coklat, kenapa tidak pink atau warna lainnya?, ujar Aisyah kepada ibunya.
“Kolak itu warnanya coklat karena diberi gula jawa”, jawab ibu dengan penuh senyum.
“Bu, besok kita buat kolak dengan warna lainnya ya Bu”, kata Aisyah penuh semangat. Ibunya hanya tersenyum geli mendengar ideanaknya.

Kolak berwarna itu terus memenuhi kepala Aisyah. Ia ingin sekali idenya menjadi kenyataan. Jika minta uang kepada ibu, pasti ibu keberatan. Sedangkan uang sakunya sedang tidak ada. Tiba-tiba nasehat Bu Rita di sekolah berdengung di telinganya. “Sholat dhuha adalah sholatnya orang-orang kaya, karena dalam sholat dhuha kita meminta agar dilapangkan rezki, dimudahkan rezki, dan ditambah rezkinya. Setelah mengingat-ingat nasehat tersebut, langsung ia pergi ke kamar mandi nutuk berwudu. Dilaksanakannya sholat dhuha dua rakaat dan tak lupa berdoa. Tak lama setelah Aisyah selesai sholat, datanglah seorang tukang pos. Aisyah heran. Apakah gerangan?…
“Apa ini rumah Aisyah?, tanya si tukang pos.
“Benar Pak”, jawab Aisyah heran.
“Ini ada kiriman surat”, kata si tukang pos sambil menyodorkan sebuah amplop.

Dengan perasaan heran bercampur gugup dibawanya ampop misterius itu ke dalam rumah. Setelah dibuka isinya ternyata surat untuk pengambilan hadiah. Ia lupa beberapa hari yang lalu ia mengikuti lomba teka-teki silang di majalah. Bukan main senangnya hati Aisyah. Hadiahnya akan diambil di kantor pos kecamatan besok.

Keesokan harinya setelah pulang sekolah, Aisyah mengajak sahabatnya Rahmi dan Dewi.
“Rahmi, Dewi, ke kantor pos yuk”, ajak Aisyah penuh semangat.
“Mau kirim surat ya?”, Tanya Rahmi.
“Tidak, aku menang teka-teki silang di majalah, jadi hadiahnya diambil di kantor pos”, ujar Aisyah.
“Go to kantor pos”, Dewi memecah pembicaraan mereka dengan bahasa inggrisnya yang campur aduk.

Tanpa pikir panjang, mereka bertiga langsung pergi ke kantor pos kecamatan. Nasib Aisyah kurang beruntung, kantor pos sedang ramai. Terpaksa mereka sabar menunggu antrian habis.

Setelah satu jam menunggu, barulah giliran Aisyah. Disodorkannya surat itu ke petugas pos. Akhirnya surat hadiah itu sudah berubah wujud menjadai sejumlah uang.
“Kita pulang yuk”, ajak Dewi.
“Nanti dulu, selanjutnya kita ke pasar”, jawab Aisyah.
“Mau beli apa”, tanya Rahmi heran.
“Aku mau beli bahan kolak”, jawab Aisyah.

Mereka langsung ke pasar di dekat kantor pos. Pencarian bahan kolak dimulai. Pisang, kelapa, dan gula telah di tangan mereka. Tinggal dua bahan lagi, perisa buah dan ubi ungu.
“Kolak kok pakai rasa buah”, Tanya Weni.
“Ini kolak yang beda dari yang lain”, jawab Aisyah penuh semangat.

Perisa buah telah di tangan mereka, namun ubi yang di cari tak kunjuang terlihat. Akhirnya setelah berputar-putar selama setengah jam di pasar ubi ungu pun didapat. Mereka pun pulang sambil menahan rasa lapar dan haus yang semakin menyiksa.

Keesokan paginya pembuatan kolak dimulai. Rahmi dan Dewi sengaja datang ke rumah Aisyah karena penasaran dengan kolak Aisyah.
“Ooo, jadi ini gunanya perisa buah”, kata Dewi mulai mengerti.
“Warnanya bagus-bagus ya Aisyah, terutama yang ini”, kata Rahmi sambil menunjuk ke arah kolak yang diberi ubi ungu.
Kolak Aisyah sangat memanjakan mata. Warnanya beragam membuat mata dan perut menjadi lapar.

Sore itu kolak Aisyah dibawa ke pasar. Kolak Aisyah dijual bersama dengan kolak ibunya. Risau risau mulai menghampiri Aisyah. Kolaknya belum ada yang mencoba.
“Mudah-mudahan kolaknya enak”, kata Dewi menghibur Aisyah.
“Amin”, jawab Aisyah dan Dewi bersamaan.

Ternyata orang pertama yang mencoba kolak Aisyah adalah seorang anak kecil. Dengan gugup Aisyah menyodorkan bungkusan kolak. Ternyata anak itu lansung memakannya.
“Ia tidak puasa”, pikir Aisyah dalam hati. Hati Aisyah mulai risau. Apakah kolaknya memuaskan.
“Kolaknya enak, beli dua bungkus lagi Kak”, kata anak itu sambil tersenyum.
Raut waja Aisyah berubah senang, rasa risaunya hilang lenyap tertelan bersama kolak yang di makan anak tersebut.
“Kolak pelangi, kolak pelangi, beli, beli!”, suara cempreng Dewi ikut meramaikan pasar.

Satu persatu pelanggan berdatangan. Lama kelamaan tempat Aisyah berjualan seperti sebutir gula yang di serbu ribuan semut kelaparan. Dalam hitungan menit kolak Aisyah Habis terjual. Bahkan ada orang yang tidak kebagian.
“Besok kolak ibu dibuat seperti mu ya Aisyah”, kata ibu dengan mata yang berkaca-kaca.
“Baik Bu”, jawab Aisyah.
“Rahmi, Dewi, ini kolak untuk kalian, ini ungkapan rasa terima kasihku”, kata Aisyah sambil memberikan dua bungkus kolak kepada mereka.
“Kolakmu pasti enak”, kata Dewi menambahkan.

Bisnis kolak Aisyah dan ibunya semakin berkembang. Bahkan sudah ada tetangganya yang memesan seratus porsi untuk buka bersama di rumahnya. Ternyata dibalik kesuksesan kolak pelangi Aisyah ia semakin rajin melaksanakan sholat dhuha dan dari keuntungan berjualan kolak Aisyah sekeluarga dapat membeli baju lebaran. Hal yang mungkin sangat asing baginya, karena penghasilan ibunya hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang sangat berkah bagi Aisyah. Berawal dari sebuah idea aneh dan dipadu dengan keampuhan sholat dhuha, ia pun dapat membahagiakan keluarganya di hari lebaran.

Cerpen Karangan: Farhan Ramadhan
Facebook: Reben Naq Patar
Nama saya farhan ramadhan, bisa di panggil farhan atau yang lebih akrab reben, hehehe, saya bersekolah di SMA N 1Baso, sumatera barat,

Impian si anak kampung

Di pagi yang cerah Anugrah bergegas menyiapkan pakaian dan peralatan sekolah, Anugrah begitu bersemangat pagi itu karena ada pelajaran yang sangat ia sukai, yakni fisika.
Ketika tiba di sekolah, Anugrah diberitahu kawannya bahwa di Kabupaten sedang dibuka pendaftaran olimpiade tingkat kabupaten dari TAPSEL. Mendengar kabar tersebut Anugrah merasa gembira karena cita-cita yang didambakan sudah terbuka lebar. Namun Anugrah harus menelan pil pahit, persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon peserta olimpiade harus memiliki sertifikat  dengan tingkatan tertentu yang berharga mahal. Hal itu sangat disadari Anugrah tidak akan mampu terpenuhi, karena latar belakang keluarga Anugrah yang memiliki orang tua hanya seorang buruh.
Dalam batin Anugrah terus berharap akan bisa memenuhi persyaratan klub dari Jakarta tersebut, sampai tak sadar tangan Pak Wisma menepuk pundak Anugrah dan membuyarkan lamunannya. Pak Wisma lalu duduk dan bertanya akan perubahan sikap Anugrah hari itu. Anugrah menjawab sedih bahwa dirinya tidak bisa mengikuti pendaftaran klub dari Jakarta karena tak mampu membeli sepatu. Pak Wisma mencoba menenangkan kegalauan Anugrah, dan menyarankan untuk berbicara dengan orangtuanya. Anugrah merasa tak yakin dengan saran Pak Wisma, namun tak ada pilihan lain yang harus dilakukan.
Sepulang sekolah Anugrah melaksanakan saran Pak Wisma untuk membicarakan keinginannya kepada kedua orang tua Anugrah. Anugrah memelas dan orang tuanya pun memahami keinginan Anugrah yang begitu besar. Dalam keterbatasan orang tua Anugrah terpaksa harus menuruti keinginan putranya dengan menjual kambing yang hanya satu-satunya. Keceriaan Anugrah terlihat kembali ketika orang tuanya memberikan sejumlah uang untuk dibelikannya sepatu.
Keesokan harinya dengan berlari Anugrah berangkat ke sekolah dengan semangat yang berlipat ganda. Ketika bertemu dengan Pak Wisma, Anugrah mengajaknya untuk membeli sepatu di kota, Pak Wisma dengan senang hati mengantarnya. Namun kenyataan berbicara lain, uang hasil jual kambing orang tua Anugrah masih belum cukup untuk membeli sepatu yang ada di kota. Kini Pak Wisma merasa iba kepada Anugrah, ia pun terpaksa meminjam uang ke sekolah untuk mencukupi harga sepatu Anugrah dengan jaminan honornya.
Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, pendaftaran klub dari Jakarta yang ada di Kabupaten sudah tutup sejak kemarin. Anugrah gontai melangkah, impian yang ia kira sudah terbuka lebar kini tertutup rapat kembali, dan Anugrah harus sabar menunggu kesempatan itu datang lagi.

HANYA 60 MENIT YANG KU BUTUH UNTUK MENCINTAIMU

Aku memandangi orang-orang yang berlalu-lalang dari jendela kaca. Ada kenikmatan tersendiri yang kudapat saat menatapi orang-orang di sana. Entah ada ekspresi kecewa, senang, sedih akan berpisah, bahagia, semua itu tercampur dalam bauran orang-orang di sekitarku. Aku meregangkan punggung, lalu menoleh ke samping. Terlihat Sivia yang masih asyik dengan roti cokelatnya. Aku tersenyum kecil. Dasar, di kereta gini masih doyan aja makan!
“Enak banget sih, Siv?” Sivia menoleh ke arahku, lalu nyengir.
“Salah sendiri nggak mau. Masih ada kan?” aku menggeleng.
“Nanti aja deh, kalau keretanya udah jalan.” Pandanganku teralih pada segerombolan laki-laki yang masing-masing memanggul tas gunung yang gede-nya nggak kira-kira. Mereka terlihat mencari seat kursi yang tertera pada karcis.
Aku terus memandangi mereka. Entahlah, ada yang mendorongku untuk terus mengawasi mereka.
“Itu mau ke gunung ya, Fy?” aku mengedikkan bahu.
“Entahlah, mungkin mau ke Bromo.” Mata Sivia membulat.
“Wow, Bromo? Kita besok ke sana yuuk!” Sivia merajuk sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku langsung melotot, membuatnya malah tergelak.
“Tas yang kecil mending ditaroh di bawah kursi aja. Yang gede taruh di atas.” Aku langsung menoleh ke sumber suara. Terlihat cowok putih berwajah tegas yang kepalanya terbalut slayer berwarna abu-abu bermotif kotak-kotak tengah mengatur teman-temannya. Aku termangu menatapnya. Wajahnya yang tampan. Rahang yang kuat. Mata yang berbinar-binar cerah. Kulit yang berkilauan, membuatku ingin terus menatap orang itu.
“Permisi ya.” Aku refleks langsung mengangkat kedua kakiku, agar memudahkan tas carier berwarna merah itu masuk ke dalam kolong bangkuku.
“Mau ke mana?” Sivia bertanya sambil memasukkan bekas plastik roti cokelatnya yang sudah habis ke kantung plastik berwarna putih yang memang sengaja kusiapkan untuk menampung bekas plastik makanan.
Laki-laki berbaju coklat di samping Sivia menoleh, aku hanya memandangnya tak acuh, masih penasaran dengan teman laki-laki itu yang kini tengah duduk manis di kursinya sambil memandangi sekitarnya.
“Kita mau ke Lombok.” Aku langsung menoleh. Lombok?
“Wow, Lombok? Kok jauh? Gimana ke sananya?” Sivia malah semangat banget. Dasar!
Laki-laki itu malah tertawa. “Kita nanti transit ke Banyuwangi. Terus naik bus deh ke Lombok.” Sivia terlihat mengangguk-anggukan kepalanya. Aku masih diam dalam posisiku.
“Acara apa?” aku akhirnya membuka mulut, penasaran juga lama-lama.
“Ekspedisi Rinjani. Sekitar sebulan kita di sana.” Aku melotot, Sivia dan laki-laki itu malah tergelak.
“Keren ya! Kalian MAPALA ya?” laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum. Kok aku jadi ketularan Sivia gini sih?
“Oh iya, aku Alvin. Kalian mau ke mana?” laki-laki itu mengulurkan tangan ke Sivia.
“Aku Sivia. Kita mau ke Surabaya. Ke rumah neneknya Ify. Lumayan, buat liburan.” Sivia tersenyum. Hihi, mereka kelihatan cocok ya?
“Aku Ify.” Aku menerima uluran tangan Alvin sambil tersenyum sungkan.
“Ini Gabriel, Ray, dan Goldi.” Aku mengangguk-anggukan kepala sambil terus memamerkan senyum sungkanku pada ke-3 teman Alvin yang duduk tepat di depan bangkuku.
Dan akhirnya kereta berjalan lambat meninggalkan stasiun. Meninggalkan penat yang memang sengaja ingin kubuang, mulai hari ini… dan seterusnya.
Pepohonan dan hamparan sawah yang menghijau seakan membiusku. Kereta melaju semakin cepat, bergojes sesuka hati. Langit cerah, awan-awan tipis berarak seakan mengikuti langkah kereta api yang seolah tak ingin berhenti. Aku masih sibuk menelusuri kata demi kata yang tertera di dalam novel tebal yang sengaja kubawa. Headset masih setia menggantung di telinga kananku. Aku menoleh ke arah Sivia, ternyata dia sudah tertidur pulas dalam posisi duduk. Di sampingnya, Alvin terlihat sibuk dengan buku agenda putih miliknya.
DEG…
Aku terpaku beberapa saat, ketika mata bening itu menatapku. Seakan ada yang menghipnotisku untuk tetap bertahan pada posisi yang sangat kunikmati ini. Dia melemparkan seulas senyum tulus ke arahku, yang malah membuatku tersadar dari bius memabukkan itu.
Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela kaca. Jantungku masih berdebar tak karuan. Mata itu. Senyum itu. Entahlah, seperti ada magnet yang menarikku untuk terus menatap matanya. Menikmati senyum tulusnya.
Tapi, membiarkan jantungku melompat ke sana ke mari bukanlah penyelesaian yang baik. Karena aku tak mau, rasa yang salah ini menyelusup masuk ke dalam celah hatiku.
Hh, aku merenggangkan tubuh sembari memandangi nikmat Tuhan berupa deretan pegunungan yang menjulang jauh di sana. Hamparan hijau sawah mampu membuatku tak bisa berpaling darinya. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Dan oh, aku mengerjap beberapa kali saat tak sengaja pandanganku bertemu dengan pandangan perempuan berkerudung hitam itu.
Aku menampilkan seulas senyum di wajahku, saat ia masih terus menatapku. Oh Tuhan, rasanya ada yang berdetak beberapa kali di dalam hatiku. Sepertinya, jantungku sudah tak berada lagi di tempat yang semestinya. Aku melihatnya mengerjap beberapa kali dan langsung membuang muka. Oh Tuhan, apa aku menakutkan di matanya? Apakah aku… Oh tidak, sepertinya ada yang tak beres denganku kali ini.
Aku beranjak dari tempat dudukku sembari membawa SLR yang setia menggantung di leherku sejak pagi. Aku menyambar jaket hitam kesayanganku dan langsung menuju tempat dimana perempuan yang berhasil membuatku serba salah tengah sibuk memandangi sawah di luar jendela kereta.
“Hey,” aku mengerjap beberapa kali. Dan seketika, tubuhku menegang. Jantungku berdegup sangat cepat. Dia. Dia di sini, di hadapanku sekarang. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
“Hey,” dia menggerak-gerakkan tangannya di hadapanku, membuat aku tersentak. Aku tersadar beberapa saat kemudian. Lalu melempar senyum canggung yang malah dibalasnya dengan uluran tangan.
“Aku Cakka.” Aku mengulum senyum tipis. Cakka? Baru ini kudengar nama itu.
“Aku Ify.” Kubalas uluran tangannya, yang langsung membuat hatiku berdesir. Rasa apa ini, Tuhan? Bukankah aku hanya mengagumi kedewasaannya tadi?
“Mau ke mana, Fy?” aku mengangguk seadanya. Aku harus sekuat tenaga menghilangkan perasaan gugup ini. Aku harus bersikap bagaimana mestinya di depannya.
“Aku? Aku mau ke Surabaya.” Cakka mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Sama siapa?” aku hanya melirik Sivia yang masih tertidur. Cakka hanya mengangguk-anggukkan kepala seadanya.
Hening. Hanya ada suara deru mesin kereta api yang terus bergojes, seolah tak ada yang bisa menandinginya.
Aku mendadak memejamkan mata ketika wajah Cakka semakin lama semakin mendekat. Jantungku berdegup sangat cepat. Wajahku makin terasa memanas. Dan aku mematung beberapa saat ketika tangannya bergerak menyentuh kedua pipiku. Ya Tuhan, aku ingin menghilang detik ini juga.
“Kka.” Cakka terkesiap. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Kualihkan pandanganku pada sekitar, tak banyak yang masih membuka mata.
“Sorry, Fy. Aku..” aku menggeleng samar. Rasa apa ini, Tuhan? Aku tak mungkin, kan, menyukai orang yang baru aku kenal.
Cakka mendekatkan wajahnya ke arahku, “I love you.” Mulutku terkunci. Lidahku kelu.
“Kka, aku..” Cakka menggeleng sambil tersenyum.
“Nggak perlu dibalas. Aku tahu, kita beda, Fy. Aku Cuma menyampaikan apa yang harus aku sampaikan. Itu aja. Kamu nggak perlu jawab, nggak masalah buat aku. Lagipula, kita beda, Fy.” Aku masih diam. Berusaha mencerna ucapannya. Jujur, ungkapannya tadi membuatku seakan ingin terbang.
“Beda? Maksud kamu?” ia meraih sesuatu di balik kaos hitamnya yang sesaat membuatku terpana. Sebuah kalung perak, kalung yang mendadak menampakkan cahayanya. Sebuah kalung yang secara tak langsung, telah membuat sebuah jurang pemisah di antara kami berdua. Kalung salib. Kalung yang aku yakin, merupakan kebanggaan pemiliknya.
Aku masih terpana, lidahku semakin kelu. Bibirku kaku. Tubuhku membeku. Sebuah jurang yang sangat dalam telah menjadi pemisah kita. Kita? No! Aku dan dia belum menjadi kita.
“Maaf, Fy. Aku tahu aku salah, udah menyimpan perasaan yang salah. Tapi, bolehkah aku masuk ke dalam hatimu?” aku masih diam, entah apa yang harus aku ucapkan. Tapi, getaran ini semakin lama semakin kuat saja.
“Udahlah, nggak usah dipikirin, Fy. Yang penting sekarang aku udah tenang, udah menyampaikan apa yang memang harus aku sampaikan.” Cakka beranjak dari tempat duduknya. Membuatku refleks menahan lengan kanannya.
“I love you, too.”