Oleh Inna Ar
Penerima beasiswa Huygens Scholarship Program
(HSP) Nuffic
Master in Medical Biology, Radboud University Nijmegen, The
Netherlands
Experimental Urology Dept,
utje 6, NCMLS. Saya lirik jam di pojok PC supervisor saya, ternyata sudah pukul
17.20 dan diluar salju sedang turun. Sejenak saya menengok ke
weerplaza.com, sang peramal cuaca mengakatan “IJZEL en sneeuwval”, jadi sedikit
malas beranjak. Berhubung hari ini lebih banyak di depan layar untuk menulis
review dan memulai menulis internship report, saya pikir boleh lah sedikit
menulis yang lain, siapa tahu sedikit cerita ini akan bermanfaat bagi siapapun.
Saya biarkan kenangan saya menari bebas diiringi salju yang sedikit bertambah
deras. Kombinasi yang sangat pas seperti yang pernah saya bayangkan dulu ketika
masih di Indonesia.
Yap, saya Inna Armandari, biasa dipanggil Inna dan beberapa
sahabat memanggil dengan Inul. Saat ini saya sedang melanjutkan studi master di
Radboud University Nijmegen, The Netherlands dengan major Medical Biology dan
telah memasuki tahun kedua yang artinya semester depan saya harus lulus. Sebuah
mimpi yang harus saya wujudkan lagi dan saya ingin hidup lagi di dalamnya. Saya
akui saya bukanlah pelajar yang pandai dengan IPK 4,00 dan tidak masuk golongan
mahasiswa populer waktu jaman kuliah S1. Saya adalah mahasiswa biasa yang cukup
BERANI BERMIMPI, MERAIH MIMPI, dan HIDUP DI DALAM MIMPI. Begitulah, saya merasa
lebih bangga dengan pandangan seperti itu.
Jika membuka lagi apa yang harus saya lalui untuk mencapai
apa yang saya rasakan sekarang bukanlah sesuatu yang mudah, namun saya sendiri
sebagai pelaku yang punya mimpi dan mewujudkannya terasa lebih ringan ketika
apa yang saya yakini dan saya usahakan pada akhirnya saya pasrahkan dan
ikhlaskan kepada-Nya (bahasanya berat dan sulit dimengerti sepertinya….hehehe).
Sejauh ini saya malah merasa hidup saya sangat dipengaruhi oleh beberapa novel
yang pernah saya baca sebelumnya dari Laskar Pelangi hingga Negeri van Oranje,
bahkan 5 cm. Apa korelasinya? Akan saya jelaskan!
Sekembalinya Oom saya dari Jerman dan Belanda di tahun 1996,
saya mendapatkan oleh-oleh puzzle bergambar Lion King bermerek Ravensburger
Puzzle dan sebatang coklat, katanya ini oleh-oleh dari jauh. Well, sebagai anak
kelas 2 SD saya tidak tahu apa-apa, yang penting dapat oleh-oleh dari oom
rasanya sudah senang sekali. Waktu itu yang saya tahu Jerman dan Belanda itu
jauh dari Indonesia dan ada di benua Eropa, setelah saya menginjak kelas 4 SD
dan mendapat pelajaran Geografi. Sejak itulah saya mulai membayangkan dan
berangan-angan untuk dapat sekolah di luar negeri karena notabene perginya oom
saya ke Jerman dan Belanda adalah untuk training yang berarti oom saya itu
pintar karena dapat dikirim sekolah oleh perusahaannya hingga jauh ke negeri
orang. Saya pun jadi ingin seperti beliau yang bisa sekolah hingga ke luar
negeri, meski idak tahu bidang apa yang harus saya tekuni. Dari sinilah
perjalanan mimpi ini dimulai. Sekolah di Eropa!
Saat duduk di bangku SMA saya pernah mencoba mengikuti
seleksi pertukaran pelajar AFS, tapi tampaknya saya belum beruntung dan belum
waktunya untuk pergi dari Indonesia saat itu. Lulus dari SMA, sayapun kembali
mencoba peruntungan sekolah di Eropa ketika akan masuk kuliah. Tapi saya
akhirnya mundur karena kebanyakan bachelor di luar negeri adalah biaya sendiri
alias beasiswa orang tua. Sudah tentu saya tidak mungkin merengek pada orang
tua untuk menyekolahkan saya ke Eropa, biaya dari mana? Keluarga saya bukanlah
keluarga berada yang bergelimang harta, maka saya harus beusaha mencari
beasiswa jika ingin sekolah di Eropa.
Di bangku kuliah, cita-cita saya untuk sekolah di luar negeri
semakin menggebu. Kebetulan saya kuliah di Fakultas Farmasi, UGM dengan
guru-guru yang sangat memotivasi dan pernah sekolah di Eropa. Saya
berharap saat lulus S1 nanti bisa langsung ke Eropa... singkat cerita…..
Januari 2009, timbullah kebimbangan, apakah saya yakin akan
melanjutkan master di Paris, Perancis. Dulunya, saya ingin sekali sekolah di
Prancis setelah membaca bukunya Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Di sana beliau
bercerita tentang University of Sorbonne yang membuat hati saya bergetar
mendengar namanya. Namun, saya merasa kurang mampu karena kendala bahasa. Dan
saya tidak cukup kaya untuk menguasai bahasa Perancis. Tapi cita-cita saya
untuk sekolah di luar negeri tidak pernah luntur. Saya pun banting setir
mencari negara Eropa mana kira-kira mampu saya raih. Di kala hati sedang gundah
dan bingung dengan arah, datanglah sebuah pencerahan. 18 Juni 2009, saya
menemukan sebuah novel berjudul NEGERI VAN ORANJE. Saya baca novel itu hingga
usai dan saya seakan terbius dengan BELANDA. Kebetulan di akhir November 2009
diadakan Holland Education Fair di Jogja dan saya berkunjung kesana. Ada
beberapa perwakilan universitas di Belanda yang mempromosikan kampusnya. Saat
itu saya mengunjungi Utrecht University, UvA, dan Leiden University. Ketiganya
adalah universitas top lah menurut saya karena mereka sampai promosi dengan
dating langsung ke Indonesia. Dari ketiga universitas ini saya pun mencari
program yang sesuai dengan minat saya di bidang Imunologi dan Onkologi dan
ketiganya punya program yang saya inginkan, namun beasiswa yang ada sepertinya
belum bias memenuhi harapan saya. Saya pun bertanya ke pihak Neso Indonesia,
beasiswa apa yang bias membawa saya sekolah di Belanda sebagai fresh graduate yang belum punya pengalaman kerja. Ternyata hanya
ada satu beasiswa (yang saya tahu) yang memberikan full covering
scholarship untuk fresh graduate
student, yaitu HSP Huygens
scholarship! Tapi syarat dari beasiswa ini sang pelamar harus sudah diterima di
salah satu universitas di Belanda dan termasuk top 10 % ketika S1. Dengan
persyaratan tersebut, mau tidak mau membuat saya harus kerja ekstra. Berkat
tuntunan-Nya saya pun dapat lulus di tahun 2010 dengan IPK cum laude dan
masuk top 10% lulusan fakultas waktu itu. Sedikit meleset tapi biarlah akan
saya coba bagaimanapun caranya.
Berhubung belum punya TOEFL, saya pun harus tes TOEFL. Dari
ketiga universitas yang saya mau ternyata mensyaratkan TOEFL iBT atau IELTS.
Setelah saya cek sana-sini ternyata keduanya adalah tes bahasa Inggris dengan
biaya cukup tinggi U$196. Tidak ikhlas rasanya mengeluarkan uang sebanyak itu
tanpa jaminan apapun, kalau ikut persiapan juga biayanya sangat mahal. Saya
sempat bingung, dengan persiapan yang minim saya harus bias ke Eropa. Saya pun
mencari kemungkinan universitas lain yang tidak mensyaratkan TOEFL iBT atau
IELTS dan yang saya temukan adalah Radboud University Nijmegen (RUN) dan
Wageningen University. Saya cari program yang cocok an saya memilih Medical
Biology di Radboud dan Biotechnology di Wageningen. Setelah melalui tes TOEFL ITP di
Neso, Jakarta aplikasi saya kirimkan. Aplikasi ke Wageningen dikirimkan secara
online sedangkan aplikasi ke Radboud harus berupa hard file via
pos.
Dan setelah menunggu selama kurang lebih 2 bulan saya pun
mendapat notifikasi dari RUN bahwa saya diterima di program yang saya daftar.
Bersyukur sekali saya waktu itu karena, pengumuman datang 5 hari sebelum
penutupan aplikasi beasiswa HSP. Jangan ditanya perasaan saya selama menunggu
pengumuman. Rasa pesimis yang sungguh memuncak di hari ulang tahun saya, 2 hari
sebelum surat sakti keluar sungguh menjadi salah satu momen kritis dalam
hidup saya. Namun, Tuhan selalu tahu waktu yang tepat. Yang lebih membuat saya
panik adalah aplikasi beasiswa harus dikirimkan dalam hard copy ke Den
Haag, NL, dan itu memerlukan waktu paling cepat 3 hari kerja, padahal aplikasi
HSP ditutup pada 1 Februari 2011. Walhasil, aplikasi beasiswapun diterima oleh
Nuffic pada 31 Januari 2011, tepat sehari sebelum penutupan. Dan 3 bulan
kemudian saya mendapat email dari Nuffic, bahwa beasiswa HSP tahun 2011 adalah
putaran terakhir karena krisis Eropa maka beasiswa ini pada tahun selanjutnya
tidak akan dibuka lagi. Lengkap sudah kegelisahan saya waktu itu, tapi saya
hanya percaya jika ini jalan saya apapun halangannya pasti akan jadi milik saya
juga. Alhamdulillah, semua mimpi saya selama bertahun-tahun terjawab juga
dengan email yang dikirmkan oleh Nuffic pada 27 April 2011 dengan kalimat Congratulations!
You have now been awarded a Huygens Scholarship. Dream come true!! Satu mimpi besar saya terkabul
pada saat yang tepat. Rasa syukur yang begitu dalam saya panjatkan kepada-Nya
karena perjuangan ini berbuah manis. Juga terima kasih saya kepada orang tua
saya karena dengan ijinnya saya bisa melihat dunia, belajar, dan lebih membuka
mata lebar-lebar bahwa hidup yang sekali ini harus lebih dan terus bermakna,
serta menjadi manfaat bagi sesama. Bukan begitu??
Akhirnya, 2013 ini mungkin akan menjadi tahun penentuan lagi
bagi saya karena masa tinggal saya di NL berlaku sampai 1 September 2013.
Biarkan Allah menuntun kemana kaki ini akan melangkah lagi. Selama hampir 2
tahun ini saya mendapat lebih banyak pengalaman hidup jauh dari tanah kelahiran
saya, dan itu membawa sedikit banyak perubahan cara pandang saya dalam memaknai
semua yang ada disekitar saya. Dan semoga ilmu yang saya pelajari disini
nantinya akan memberikan manfaat bagi semua. Amin
Teruslah hidup dalam mimpi-mimpimu!
“Tuhan tahu tapi menunggu”, kata bang Andrea Hirata